21 September 2019

Abdullah Hehamahua kepada Mahasiswa: Apakah dalam usia senja ini, saya harus turun ke jalanan lagi ?

Oleh Abdullah Hehamahua, (Mantan Penasehat KPK)

Sebenarnya saya tidak ingin komentari kisah ini karena saya sudah membacanya beberapa kali sejak 5 tahun lalu. Cuma saya tergelitik dgn apa yg terjadi beberapa pekan belakangan ini di mana presiden, para menteri, dan penegak hukum, khususnya kepolisian bertingkah seperti mahasiswa indonesia yang belajar di perancis tsb.

 Sebenarnya, sebagian besar kalangan termasuk  saya pribadi sudah melupakan kecurangan yang terjadi pada pilpres 2014 yang lalu. Ditakdirkan, Ketua MK yang mengadili sengketa  pilpres 2014 itu, yunior saya di UNHAS sehingga saya tahu jalan cerita kecurangan pilpres 2014 tsb. Lalu sebagian masyarakat termasuk saya pribadi tenggelam dalam kesibukan rutin masing2 sehingga kecurangan pilpres 2014 itu terlupakan. Namun, ada sekitar 700 orang petugas KPPS meninggal dunia dalam waktu relatif bersamaan pasca pilpres. Lalu menkes melarang autopsi mayat mereka. Kemudian ditemukan ratusan selongsong peluru tajam yang dilepaskan brimob dalam menghalau demonstran tgl 21 - 22 mei 2019.

Saya lalu melihat pengakuan mahasiswi indonesia yang belajar di perancis tsb bahwa kesalahan yg dilakukan sebagai persoalan sepele, sama seperti pengakuan KPU, Bawaslu, presiden, menteri dan penegak hukum. Apakah DNA mahasiswi itu sama dgn yg dipunyai menkes, brimob dan presiden yg merasa bangga dapat menipu sistem yang ada demi mencapai ambisi pribadi.? Lalu kita harus terima presiden hasil kecurangan yg kedua kalinya.? Bangsa ini betul2 sedang sakit parah. Lalu terbayang masa muda saya sebagai mahasiswa di Makassar yang sering masuk keluar sel dan penjara karena memperjuangkan aspirasi .

Saya menunggu dan menunggu tampilnya mahasiswa seperti thn 1965 - 1967, 1974, dan 1998 yang karena people power mereka, dua presiden penomenal dilengserkan. Saya lalu menghayal, apakah dalam usia senja ini, saya harus turun ke jalanan lagi untuk merasakan bagaimana makanan di sel dan penjara.

 Bahkan saya juga menghayal bagaimana nikmatnya Hasan Albana, Sayid Kutub, dan pahlawan dari kampung saya sendiri, Ahmad Lusi (Patimura) meninggal di tiang gantungan karena keteguhan melawan penguasa yg curang dan zalim. Apalagi memerhatikan piagam wira karya saya yang dianugerahkan pemerintah karena memiliki andil dalam pembangunan integritas nasional, khususnya di KPK. Lalu muncul pertanyaan dahsyat, "hei Abdullah Hehamahua, kamu salah seorang cucu Pattimura, masihkah kamu berintegritas.?" Ya, Allah aku rindu menjumpaiMu sebagai seorang syuhada. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin !!!

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...