Flandy Limpele: Pemain India Hanya Peduli Pada Diri Mereka Sendiri

KONFRONTASI -   Legenda spesialis ganda asal Indonesia Flandy Limpele melancarkan kritik tajam kepada para pemain India. Beberapa pemain, ucap Flandy, memang memiliki attitude yang sangat buruk.

Hal inilah, kata Flandy, yang membuat tiga pelatih asing hengkang dari tim India sebelum kontrak mereka berakhir. Terbaru adalah kasus pelatih asal Korea Selatan Kim Ji-hyun.

Dalam sepekan terakhir, kisah perseteruan Kim dengan mantan pemainnya yakni tunggal putri nomor satu India dan juara dunia 2019, Pusarla V. Sindhu ramai mengemuka.

Kim mengatakan bahwa Sindhu adalah pemain yang tak memiliki hati. Tudingan yang tentu saja dibantah kubu Sindhu.

”Saya mungkin bisa merasakan mengapa tiga pelatih sebelumnya pergi. Sebab, soal attitude ini adalah hal yang sangat unik di India. Plus, sepertinya, pelatih asing mengakhiri kontraknya lebih cepat adalah tradisi yang umum. Jadi, ini tidak ada yang baru bagi saya,” ucap Flandy seperti dilansir dari surat kabar India, The Indian Express.

Sebelum Kim, pelatih asal Indonesia Mulyo Handoyo dan pelatih asal Malaysia Tan Kim Her juga pergi sebelum durasi kontrak mereka selesai.

Mulyo dianggap sukses meningkatkan level tiga pemain tunggal India Srikanth Kidambi, Sai Praneeth, dan HS Prannoy. Sementara itu, Tan memiliki andil dalam melatih sektor ganda India.

”Beberapa pemain memang sangat individualistis. Mereka tidak bisa bekerja dalam tim dan hanya peduli pada diri mereka sendiri. Kalau bermain ganda, kamu tidak bisa melakukan itu,” katanya.

Peraih perunggu ganda putra Olimpiade Athena 2004 bersama Eng Hian itu, mengemban tugas melatih ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran India. Anak asuhannya antara lain Satwiksairaj Rankireddy, Chirag Shetty, Ashwini Ponappa, Sikki Reddy, dan Pranav Jerry Chopda.

”Beberapa pemain di camp (latihan India) memiliki attitude yang buruk. Saya tidak tahu mengapa itu terjadi. Namun, saya merasa bahwa hal ini sudah berlangsung sangat lama. Dan kelihatannya, ini sudah menjadi budaya,” ucap pelatih berusia 45 tahun itu.

”Saya berusaha untuk mengubah (budaya itu). Sebab tidak bagus memiliki pemain yang individualistis dalam sektor ganda. Saya ingin pelan-pelan mengubahnya dan saya berharap itu akan berhasil. Namun jika ini tidak bekerja dan para pemain tetap memakai cara mereka, maka para pelatih asing tidak akan bertahan lama,” tegas Flandy.

Pria yang juga pernah bermain di sektor ganda campuran bersama Vita Marissa itu mengaku bahwa sampai sekarang, tak ada satupun pemain yang bersikap tidak respek kepadanya.

Namun, dengan blak-blakan dia mengatakan bahwa para pemain bulu tangkis India memang kurang memiliki rasa terima kasih kepada pelatih asing.

Jadi, attitude buruk itu, tambah Flandy, bukan cuma santai dan kendur dalam latihan. Tetapi juga karena mereka memang kurang respek dan mengapresiasi para pelatih asing.

Flandy lantas membandingkan fenomena ini dengan atmosfer latihan ganda putra di Pelatnas PP PBSI di Cipayung.

”Ada kompetisi yang intens di Jakarta. Mereka saling mendorong satu sama lain untuk terus meningkatkan kualitas. Namun, di sana tetap ada jalinan persahabatan di antara mereka (para pemain ganda putra Indonesia). Dan mereka sepenuhnya hormat kepada para pelatih yang telah menegakkan disiplin keras,” kata Flandy kepada situs berita India Firstpost.

”Di India, para pelatih asing seakan tidak berdaya di depan pemain. Kalau kami ingin menegakkan disiplin dan memberikan hukuman, mereka malah menertawakan kami,” tambahnya.

Flandy Limpele (Facebook)

Flandy mendapatkan tugas untuk membantu India meraih medali pada Olimpiade Tokyo 2020.

Sampai sejauh ini, ganda putra Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty adalah aset yang sangat menjanjikan untuk mendulang medali Olimpiade.

Tahun ini, Rankireddy/Shetty berhasil menjadi juara di Thailand Open Super 500. Mereka juga sukses menembus final French Open Super 750.

Dikontrak sebagai pelatih dan penasihat teknik sejak Agustus lalu, Flandy mendapatkan gaji USD 5.500 (sekitar Rp 76,9 juta) perbulan.

”Di seluruh negara Asia, para pemain tidak individualistis dan mematuhi sistem. Semuanya. Kecuali di India. Namun, saya akan berusaha mengubah masalah attitude ini dan membuat mereka menjadi pemain yang lebih baik,” tekad Flandy.(Jft/JPNN)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...