19 June 2018

Ambruknya Piala Thomas Uber 2018, Pelajaran Berharga bagi Indonesia

KONFRONTASI -  Setelah Piala Thomas Uber 2018, Timnas bulutangkis Indonesia akan fokus pada Asian Games yang akan berlangsung Agustus 2018 mendatang. Hasil yang kurang maksimal di Piala Thomas Uber ini dinilai akan jadi pelajaran berharga untuk mengevaluasi kenapa hasil yang dibawa pulang kurang maksimal. 

Dengan pembelajaran tersebut, diharapkan kelemahan Indonesia akan diperbaiki pada saat Asian Games nanti. Hal itu diungkapkan Kabin Binpres PBSI Susi Susanti saat ditemui wartawan di hotel tempat menginap kontingen Thomas Uber Indonesia, Novotel Impact, Bangkok, Thailand, Sabtu 26 Mei 2018.

"Fokus selanjutnya Asian Games. Kita kerja keras lagi. Pembelajaran di sini kenapa kalah, apa kelemahan kita. Jadi itu yang harus dievaluasi jelang Asian Games. Konsistensi, keberanian, dan tidak bisa main lepas yang kemarin keliatan harus segera dicari solusinya. Karena kita mungkin menghadapi situasi yang sama saat Asian Games nanti," kata Susi.

Untuk memperbaikinya, ada beberapa hal yang akan dilakukan oleh Indonesia. Untuk jangka pendek, selain memilih turnamen yang tepat untuk meningkatkan rangking, kedua adalah dengan menambahkan porsi latihan. 

Pemain diharapkan harus mau dan lebih siap capek lagi. Meskipun ada sport science, tapi basic latihan bulu tangkis itu tetap harus diasah.

 

Faktor nonteknis

"Seorang juara pasti sadar bahwa dia harus latihan berapa lama untuk bisa melatih strokenya. Jika dalam pertandingan bisa melakukan reli 38 pukulan, maka di latihan harus bisa 50 kali pukulan dengan kekuatan yang sama. Tidak boleh ditawar lagi, sekarang harus meningkatkan stroke, pola, cara main,"kata Susi menjelaskan. "Karena matangnya seorang pemain itu ditentukan dari bagaimana dirinya bisa tahu mau bermain apa, dan bagaimana menempatkan bola dalam kondisi tertentu."

Kondisi lapangan berangin seperti yang dikeluhkan oleh para pemainnya saat bertanding di Impact Arena memang menjadi suatu kendala. Namun, itu tidak bisa jadi alasan karena pemain lainnya juga merasakan.

Menurut peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 itu, seorang juara harus bisa mengatasinya. Di setiap turnamen, pasti kendala nonteknis, salah satunya adalah kondisi lapangan.

"Bagaimana melatih untuk bisa mengatasi hal tersebut, ya dengan latihan. Karena orang biasanya bisa karena terbiasa. Kalau tidak dilatih bagaimana mau bisa menghadapi situasi seperti itu. Jadi banyak hal yang harus dibiasakan, termasuk motivasi," kata Susi.(Jft/PR)

Category: 
Loading...