Wagub Riau Harap Visi Kemaritiman Bukan Hangat-Hangat Tahi Ayam

Konfrontasi - Pembangunan sektor kemaritiman untuk menjadikan laut sebagai garda terdepan untuk menyejahterakan masyarakat sangat disambut baik dan bisa membuahkan hasil yang nyata, karena itu harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan tidak ibarat 'hangat-hangat tahi ayam'.

"Jangan sampai hanya hangat-hangat tahi ayam," kata Wakil Gubernur Provini Kepulauan Riau, Soerya Respationo pada Konvensi Media Massa dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2015, di Batam,Kepulauan Riau, Kepri, Sabtu (7/2).

Pada acara yang dihadiri para wartawan senior dari berbagai daerah di Indonesia, Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan Dewan Pers itu, Soerya Respationo mengemukakan, sebagai provinsi yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas lautan atau sekitar 96 persen, sedangkan daratannya hanya sekitar empat persen, maka sangat mendukung kebijakan pemerintah Presiden Jokowi itu.

Pembangunan kemaritiman itu, katanya lebih lanjut, hendaknya bisa merubah paradigma yang selama ini kita membelakangi laut menjadi menghadap ke laut.

Karena itu, untuk melaksanakan program pembangunan kemaritiman itu, Indonesia tidak boleh melupakan sejarah (Jasmerah), yang antara lain pernah dikemukakan oleh Presiden Soekarno dan contoh lainnya yang telah dilakukan dengan baik oleh sejumlah negara lain.

"Guna mewujudkan laut sebagai beranda depan, kita juga tidak boleh melupakan sejarah atau Jasmerah," katanya pula.

Karena itu, terkait dengan sedang digencarkannya program pembangunan kelautan itu, di mana yang diurus tentu bukan saja masalah kelautan dan masalah perikanan, perlu saling menopang, agar benar-benar bisa behasil.

"Pembangunan kemaritiman itu harus dilakukan dengan baik dan berhasil, karena jika tidak dikhawatirkan ke depan kita di laut akan sakit, dan di udara akan merana," katanya disambut tawa gemuruh peserta konvensi.

Sesi Konvensi dengan topik "Memperkuat Ekonomi Maritim Nusantara" itu sebelumnya juga tampil sebagai pembicara Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad, dari Sekretaiat Asean, Universtas Paramadina, dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN).

Terkait dengan tugasnya itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, pada Konvensi itu mengemukakan dalam tiga bulan telah menghadap Presiden Jokowi untuk mengevaluasinya.

"Dalam tiga bulan saya sudah menghadap Bapak Presiden, dan minta dievaluasi apakah saya harus mundur, berhenti, atau belok kanan, Jawabnya (Presiden), nggak ada Bu, jalan terus," kata Susi disambut tawa gemuruh hadirin.

Menteri Kelautan dan Perikanan itu juga menekankan pentingnya setiap daerah mencegah agar jangan ada lagi jual-beli ikan nelayan di tengah laut, karena jika itu terus terjadi maka pelabuhan perikkanan akan sepi.

"Kalau jual-beli ikan di tengah laut terus terjadi, maka pelabuhan akan seperti kuburan" katanya pula. (akt)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...