Terdakwa Ahok kembali Nistakan Ulama?

KONFRONTASI - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Al-Irsyad Al-Islamiyyah KH. Abdullah Djaidi mengatakan perlakuan tidak patut yang dipertontonkan terdakwa kasus penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan pengacaranya dengan mengeluarkan intimidasi pada Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin sekaligus ketua Rais Aam PBNU adalah sesuatu penistaan ulama.

"Ulama yang lebih pantas kita sanjung dan hormati sebagai panutan dan orangtua," kata KH. Abdullah Djaidi dalam keterangannya, Jumat (3/1).

"Ulama adalah pewaris Nabi. Ulama mendapat tempat terhormat bagi muslim dan masyarakat Indonesia," lanjut dia.

Terkait tindakan tidak patut tersebut, PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah mengeluarkan lima pernyataan sikap.

Pertama, Ahok untuk kesekian kali tidak menunjukkan rasa hormat kepada ulama, dan umat agama lain.

Kedua, Ahok menunjukkan sikap sombong dan tidak mawas diri akan kesalahan yang lalu yang menyebabkannya menyandang status terdakwa.

Ketiga, Ahok untuk memperbaiki diri dalam menjaga sikap, perkataan dan perbuatannya agar lebih santun dan lebih sesuai dengan adat budaya yang dianut masyarakat luas selayaknya sebagai pejabat publik.

Keempat, meminta Kepolisian memeriksa Ahok dan pengacaranya atas kemungkinan kasus penyadapan telepon ilegal terhadap WNI yang tidak terlibat kasus korupsi dan kejahatan luar biasa lainnya.

Kelima, meminta semua ormas dan masyarakat Indonesia untuk bersatu padu menjaga ukhuwah, persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan NKRI.[ian/rml]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...