Soal Pilkada di Tengah Pandemi Corona Era Jokowi, Rizal Ramli sebut: Tidak Terbayangkan Derita yang akan Ditanggung Rakyat

KONFRONTASI- Tokoh nasional Rizal Ramli (RR) mengungkapkan, ketidakmampuan mengukur risiko bisa terjadi juga untuk  mereka yang mengurus negara di era Presiden Jokowi saat ini, dalam kaitan melakukan pilkada di tengah pandemi Covid-19 (Corona).  '' Ketidakmampuan mengukur risiko seperti itu bisa terjadi juga utk yang ngurusin negara lho. Sayang banget kalau sampe menimpa Negeri,'' kata RR, Menko Ekuin Presiden Gus Dur.

''Tidak terbayangkan ... derita yg akan ditanggung rakyat,'' ungkap RR. Pandangan RR itu relevan dan masuk akal karena dalam pilkada 2020 ini , risiko ditanggung rakyat sendiri, yang sejauh ini menderita krisis ekonomi dan krisis kesehatan. Masyarakat NU, Muhammadiyah, KWI dan alumni perguruan tinggi  serta komunitas lainnya menolak dan emoh Pilkada di tengah Corona, dan meminta pilkada ditunda !

Tokoh Kultural NU: Rizal Ramli Dapat Selamatkan Kaum Nahdliyin Dan  Indonesia – IDTODAY NEWS

Sedangkan para kepala daerah DT II dan DT I itu, kalau sudah terpilih, toh  sangat mungkin korupsi karena mahalnya biaya pilkada. KPK sudah menjelaskan modus korupso kepala daerah tsb. Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi Giri Suprapdiono menyebutkan, ada enam modus korupsi yang dilakukan kepala daerah untuk mengembalikan biaya yang dikeluarkan selama kampanye.

" KPK sudah mengidentifikasi, jadi kalau ibu bapak nanti setelah memimpin melakukan ini, KPK sudah tahu modusnya," kata Giri dalam sebuah webinar yang disiarkan akun YouTube Kanal KPK, Rabu (30/9/2020). Modus pertama, kata Giri, jual beli jabatan di lingkungan pemerintah daerah, mulai dari jabatan kepala dinas, sekretaris daerah, hingga kepala sekolah.

Modus kedua, korupsi pengadaan barang dan jasa yang baru dapat dilakukan kepala daerah setelah memiliki wewenang merencanakan anggaran. Giri mengatakan, beberapa hal yang dilakukan dalam korupsi pengadaan barang dan jasa antara lain penerimaan kickback ataupun pengaturan pemenang lelang pengadaan.

Modus ketiga, jual beli perizinan, mulai dari perizinan membangun hotel, rumah sakit, pusat perbelanjaan, hingga perkebunan. "Berikutnya korupsi anggaran, sudah pintar, kenal sama DPRD. Jadi sebelum dieksekusi pun sudah terjadi," kata Giri.

Modus kelima, penerimaan gratifikasi. Giri mengingatkan bahwa setiap penerimaan gratifikasi dapat dikenakan piadana bila tidak dilaporkan ke KPK dalam waktu 30 hari. "Enggak minta pun dikasih karena jabatannya bupati/wali kota. Belum masuk ke ruangan rumah dinas, semua perabotan sudah diisi dan yang isi pengusaha," kata Giri mencontohkan praktik gratifikasi.

Keenam, penggelapan pendapatan daerah, contohnya, ketika ada pungutan pajak yang tidak disetorkan ke kas daerah, tetapi malah dibagi-bagikan di kalangan pejabat daerah dan oknum-oknum lainnya. Sunggu htragis pemerintah Jokowi kalau nekad terus melangsungkan pilkada 2020 di tengah pandemi Corona.

(ff/KCM)


 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...