Sebelum Bubarkan Dolly, Risma Butuh Waktu Dua Tahun untuk Riset

KONFRONTASI- Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang sukses menutup lokalisasi Dolly memberi saran untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) jika memang berniat memberantas prostitusi dari Ibu Kota.

"Aku nggak tahu yang di Jakarta casenya seperti apa. Tapi memang harus didalami. Kita harus tahu karakter prostitusi itu sendiri," kata Risma dilansir detikcom, Rabu (6/5/2015).

Risma sendiri mengaku butuh waktu 2 tahun mendalami seluk-beluk dan berbagai permasalahan di lokalisasi Dolly sebelum akhirnya berhasil dibubarkan. Katanya, Ahok pun harus melakukan hal yang sama.

"Itu karakternya seperti apa, asalnya dari mana, asal muasalnya dia seperti apa. Karena kalau kita tahu asal muasalnya maka itu akan mudah kita mencari solusinya," imbuh Risma yang baru saja menerima penghargaan 'The Best Of The Best Indonesia Digital Society Award (IDSA) 2015 untuk Kota Surabaya ini.

"Kita harus tahu tujuannya dan outputnya tuh seperti apa, goalnya yang mau kita capai. Jadi seperti itu. Itu (prostitusi) bukan sesuatu yang bisa tiba-tiba diselesaikan," sambung Risma menegaskan.

Ahok sebelumnya melempar wacana untuk melokalisasi prostitusi di Jakarta. Hal itu katanya untuk memudahkan Pemprov DKI Jakarta mengontrol para pekerja seks dan pengguna jasanya, terutama dalam memberikan siraman rohani, dan penyuluhan tentang bahaya seks bebas, dan pelatihan-pelatihan yang bermanfaat. Namun ia dari awal yakin idenya ini akan ditentang.

Seperti dugaan, ide Ahok ini pun dikritik berbagai kalangan masyarakat. Ahok kemudian menanggapi dengan berkata, sebaiknya masyarakat jangan hanya bisa mengkritik, namun juga harus memberi masukan bagaimana menyelesaikan masalah prostitusi di Jakarta yang terang-terangan, apalagi terselubung yang kian marak.[mr/dtk]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA