13 December 2019

Seandainya Presiden Jokowi Nanti Mau Mendengar dan Melaksanakan Trisakti Soekarno versi Gagasan dan Strategi Rizal Ramli, Ekonomi RI Tangguh dan Tumbuh

KONFRONTASI- Seandainya Presiden Jokowi  nanti mau mendengar dan melaksanakan gagasan/strategi  Rizal Ramli mengenai bagaimana melaksanakan Trisakti (Berdikari ekonomi, berdaulat politik dan berkepribadian dalam kebudayaan) yang diajarkan Presiden Soekarno, tentu  ekonomi Indonesia akan tangguh dan tumbuh lebih baik dari 5%, serta ketahanan sosial-budaya kita bakal  kuat atau bahkan dahsyat.

Demikian pandangan analis senior Universitas Paramadina Herdi Sahrasad dan Nehemia Lawalata, tokoh Persatuan Alumni GMNI.

''Rizal Ramli tak tergantikan untuk mewujudkan Trisakti Bung Karno, ketulusannya untuk tetap membantu Presiden Jokowi tetap terjaga, pandangannya kritis karena RR intelektual organik dan komited,  dan cita-cita hanya untuk kepentingan bangsa dan negara. Sekarang RR cemas karena ekonomi bakal nyungsep, utang naik tajam dan ekonomi rakyat makin diperas untuk membayar kenaikan harga-harga pangan dan energi. Ini tragedi yang seyogianya  tak boleh terjadi,'' kata dosen senior Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina Herdi Sahrasad dan Nehemia Lawalata, tokoh Persatuan Alumni GMNI.

Sebagaimana kita ketahui, Tokoh nasional, DR Rizal Ramli memuji visi Jokowi lima tahun lalu yang ingin agar produksi pangan meningkat dan Indonesia berdaulat di bidang pangan. Tapi yang terjadi, selama memerintah Jokowi justru banyak melakukan impor pangan yang justru mematikan petani.

“Kepingin batasin impor, tapi malah impornya Indonesia ugal-ugalan. Itu karena menterinya yang dipilih raja impor,” ujarnya dalam talkshow bertajuk “Kupas Tuntas Wajah Baru Pembantu Jokowi” yang disiarkan salah satu TV swasta nasional, Kamis (24/10) lalu.

Tidak hanya soal impor. Jokowi dulu juga ingin ekonomi berpihak para rakyat dengan mengusung nawacita trisakti. Tapi yang terjadi lagi-lagi salah arah.

“Kebijakan malah neoliberal. Karena memilih menteri seperti SPG (Sales Promotion Girl) dari Bank Dunia,” tegasnya.

Seharunya, sambung pria yang akrab disapa RR itu, Jokowi belajar dari kesalahan di lima tahun pertama. Dalam hal ini, konsistensi visi dan strategi tidak sesuai dengan personalia yang dipilih. Sebab, tanpa strategi dan personalia, visi besar Jokowi akan percuma.

Menko Perokonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu kemudian menyinggung mengenai visi besar Jokowi saat memberi sambutan pelantikan sebagai presiden. Gagasan tersebut, katanya, bagus dan bisa diwujudkan.

Ada dua negara yang sudah berhasil mewujudkan mimpi semacam itu. Dia mencontohkan China yang berhasil membuat ekonomi tumbuh secara konsisten di atas 12 persen dan 25 tahun kemudian menjadi raksasa ekonomi dunia. Begitu juga dengan Jepang yang sempat luluh lantah pasca perang dunia II.

“Jadi waktu saya denger pidato Pak Jokowi pidato pelantikan. Wah ini hebat. Ini bakal berubah dari sebelumnya yang cuma pas-pasan 5 persen,” urainya.
 

Namun begitu, penilaiannya langsung berubah 180 derajat setelah melihat susunan menteri. Sebab, ada menteri yang gagal di bidang ekonomi dan tetap dipertahankan. Di bawah menteri tersebut, ekonomi Indonesia hanya mentok di angka 5 persen.

“Begitu dipilih personalianya dalam bidang ekonomi, wah ini kelas 5 persen. Bahkan tahun depan bakal anjlok lagi,” tegasnya

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...