20 November 2019

Rizal Ramli Sudah Setahun Lalu Ingatkan, Risiko Gagal Bayar Utang Meningkat. Ini Terkait Peringatan Moody's

KONFRONTASI- Resiko gagal-bayar korporasi Indonesia meningkat. Teknokrat senior Rizal Rami  sudah mengingatkan setahun  yang lalu. ''Kalau ekonomi semakin merosot, resiko gagal bayar meningkat. Moody's ungkapkan RI & India merupakan dua dari 13 negara di Asia Pasifik dengan risiko gagal bayar tertinggi,'' tegas RR.

RR, Menko Ekuin era Presiden Gus Dur pernah pula mengingatkan bahwa hampir seperempat  perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu faktor yang dapat memicu krisis tahun depan. Pasalnya, sebanyak 24 persen emiten tersebut perusahaan 'zombie' lantaran hanya mengandalkan sistem pembiayaan kembali (refinancing).

Image

Ia menjelaskan jumlah perusahaan zombie itu berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Nikkei Asian Review baru-baru ini. Menurutnya, sejumlah emiten tak mampu menutup utangnya dari laba dan pendapatan, sehingga terpaksa terus melakukan refinancing.

"Itu perusahaan zombie, perusahaan yang untuk bayar bunganya saja harusnya dari keuntungan bisa, tapi ini tidak," tegas Rizal, Senin (12/8).

Jika perusahaan terus melakukan refinancing, maka jumlah utang semakin menumpuk. Ia menilai kinerja keuangan perusahaan terkait akan sulit meningkat lantaran kondisi makro ekonomi juga tak kunjung membaik.

Dalam kaitan ini, Lembaga pemeringkat utang internasional Moody's Investor Service menyebut bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia rentan terpapar risiko gagal bayar utang. Hal ini tercermin dari pendapatan perusahaan Indonesia yang kian menurun bisa mengurangi kemampuan korporasi Indonesia dalam mencicil kembali utang-utangnya.

Dalam laporan bertajuk Risks from Leveraged Corporates Grow as Macroeconomic Conditions Worsen tersebut, Moody's mengungkapkan Indonesia dan India merupakan dua dari 13 negara di Asia Pasifik yang memiliki risiko gagal bayar tertinggi.

Laporan itu meneliti risiko kredit dari 13 negara Asia Pasifik, yakni Australia, China, Hong Kong, Jepang, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Australia Singapura, Taiwan, dan Thailand, termasuk dua negara lainnya, yaitu India dan Indonesia.

Sejatinya, rasio utang korporasi Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) memiliki angka terendah dibanding negara-negara lainnya. Kemudian, rasio utang terhadap pendapatan perusahaan sebelum pajak, bunga, dan depresiasi (EBITDA) juga cukup aman.

Ini mengingat 47 persen utang korporasi di Indonesia memiliki skor rasio utang terhadap EBITDA berada di bawah 4. Angka ini jauh lebih baik dibanding 11 negara lainnya.

Hanya saja, Moody's mengingatkan profil utang korporasi Indonesia sangat buruk karena memiliki Interest Coverage Ratio (ICR) yang sangat kecil. Bahkan, sebanyak 40 persen utang korporasi di Indonesia memiliki skor ICR lebih kecil dari 2.

Adapun, ICR dihitung dari EBITDA dibagi dengan beban bunga. Jika skor ICR rendah, maka terdapat dua indikasi. Yakni, pendapatan korporasi yang kian berkurang atau beban bunga yang bertumbuh lebih tinggi. Semakin rendah skor ICR menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kembali utang pun ikut turun.
(sumber2)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...