Rizal Ramli : Menkeu Terbalik Ganti Strategi jadi “Pengemis Utang Bilateral”, Bunganya Makin Mahal, Dapatnya Recehan dan Bikin ‘Shock’ Keuangan Indonesia

KONFRONTASI- Tokoh nasional/ekonom senior Rizal Ramli (RR) menyoroti Menkeu terbalik Sri Mulyani yang kembali terbitkan surat utang (bonds) bunganya semakin mahal. Untuk bayar bunga utang saja, harus ngutang lagi. Makin parah. ''Makanya mulai ganti strategi jadi “pengemis utang bilateral” dari satu negara ke negara lain. itupun dapatnya recehan,dan  itu yang bikin ‘shock’ keuangan Indonesia,'' kata RR, Menko Ekuin Presiden Gus Dur.

Menurutnya, Debt service Ratio (DSR) Indonesia  (tier 2) sudah mencapai 48,6%, sebenarnya sudah jauh di atas ambang batas aman, 

Agresifitas terbitkan surat utang, menimbulkan crowding out effect

Penerbitan surat utang berbunga tinggi bikin likuiditas di masyarakat tersedot, dan itu membantu menghancurkan daya beli rakyat.

lihat https://www.rmoljabar.id/rasio-utang-yang-berbahaya-efek-crowding-out-da... dan https://www.imf.org/external/np/exr/facts/pdf/jdsf.pd

tribunnews

Jelas dari grafik/data ini, Menkeu “Terbalik” sangat meRasio Utang yang Berbahaya, Efek Crowding Out dan Solusinyanguntungkan kreditor, dan merugikan rakyat & bangsa Indonesia.. Diberi deh hadiah kaleng2an yg bisa dipakai ‘ngapusi’ elit Indonesia, media & pseudo-intelek 

Berikut ini adalah simulasi perbandingan total bunga bond 4 negara ASEAN (Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina) selama 10 tahun ke depan, untuk setiap $10 miliar bond yang diterbitkan masing-masing negara.


Di atas adalah grafik Imbal Hasil Surat Utang (tenor 10 tahun) Negara Indonesia, Filipina, dan Vietnam tahun 2014-2020 (Juni). Di bawahnya adalah tabel rating surat utang Negara Indonesia, Filipina, dan Vietnam dari lembaga rating Standard&Poors, Fitch, dan Moody's tahun 2014-2019.

Dalam aktivitas investasi, peringkat (rating) merupakan salah satu hal yang sangat penting karena menentukan suatu negara bisa mendapatkan pendanaan dari penerbitan obligasi atau tidak dan berapa besar kupon atau imbal hasil yang harus dibayarkan agar mau diterima oleh investor (bareksa.com).

Berdasarkan rating dari 3 lembaga :S&P, Fitch, dan Moody's dapat dilihat bahwa  Indonesia dan Filipina sebenarnya memiliki kemampuan bayar utang yang sama. Jadi seharusnya Indonesia dan Filiipina dapat memberikan imbal hasil yang setara kepada investor. Tetapi faktanya imbal hasil yang harus dibayarkan oleh Indonesia (6,26%) lebih tinggi sebesar 3,2% di atas Filipina (2,9%).

Berdasarkan rating dari 3 lembaga juga, sebenarnya Indonesia memiliki kemampuan bayar utang lebih baik dari Vietnam. Jadi seharusnya Indonesia dapat memberikan imbal hasil yang lebih rendah dari Vietnam. Tapi faktanya imbal hasil yang harus dibayarkan Indonesia (6,26%) lebih tinggi sebesar 3,6% di atas Vietnam (2,58%).

Demikian pandangan RIzal Ramli untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...