15 June 2021

Rizal Ramli: Indonesia Tidak Sejahtera karena Menganut Neoliberalisme Ekonomi. Korupsi juga Merajalela

KONFRONTASI- Banyak orang bertanya kepada pemimpin bangsa Dr Rizal Ramli:  Mengapa Indonesia masih tertinggal dan mengapa rakyatnya belum sejahtera di bandingkan dengan negara lain?

Rizal Ramli, Menteri Koordinator Ekonomi  di era Presiden Gus Dur, di Jakarta, menyampaikan Rabu (3/6/2020)  dengan mengatakan, banyak yang menjelaskan hal ini terjadi karena korupsi.

“Tentang kejelasan korupsi ini benar, tapi ada juga yang nenyederhanakan permasalahan ini, negara lain korupsi juga kok,” kata dia.

Rizal Ramli dan Anwar Ibrahim Yakin Reformasi Bawa Kemajuan Dua ...

Alasan lain yang menyebut Indonesia tertinggal karena menteri dan pejabatnya tidak cerdas atau tidak pintar juga bukan alasan yang tepat. Karena mereka sekolahnya bagus-bagus.

“Saya lebih percaya dengan alasan, karena mereka (para pejabat) memilih kebijakan ekonomi Neoliberalisme yang merupakan pintu masuk dari neokolonialisme yang dianjurkan oleh Bank Dunia,” ujar RR, sapaannya.

Ia menambahkan, tidak ada negara di seluruh dunia yang makmur karena jalan Neoliberalisme. Sebut saja Amerika Latin. Nah, Indonesia bersama Filipina, adalah negara di Asia yang mengikuti jalan ini. ''Dan dampaknya sangat luar biasa merusak,''ujar RR.

Selanjutnya, Rizal memberikan contoh Indonesia menggunakan struktur ekonomi selama ini persis seperti gelas anggur. Di mana atasnya besar, lalu mengecil ke bawah. Yang atas itu diisi oleh korporat dan BUMN besar.

“Ada sekitar 160 BUMN dan ratusan perusahaan (korporat) keluarga. Sementara di bawahnya besar sekali, terdapat 60 juta usaha kecil dan rumah tangga,” paparnya.

Rizal Ramli pun menjelaskan struktur seperti itu sangat berbahaya bagi demokrasi. Yang atas makin kaya dan yang paling bawah makin miskin, sehingga menimbulkan kecemburuan ekonomi. Jika hal tersebut dicampur dengan faktor etnis dan faktor agama, sangat berbahaya sekali. Ini bisa menjadi sumber disintegrasi dalam bidang ekonomi.

“Mari kita lihat yang paling bawah ini 60 juta usaha kecil dan rumah tangga. Mereka tidak menggunakannya akunting modern. Kalau mereka menggunakan akunting modern artinya garasi yang digunakan untuk kerja dihitung sewa, listrik dihitung sewa, anak dan keponakan yang kerja dihitung dengan benar,” jelas Rizal.

Karena Negara tidak membantu, lanjut dia, rata-rata ini mereka merugi. Mereka ini, yang istilahnya, makan modal saja. Mereka awalnya ada di daerah pusat, lama-lama kegeser akhirnya pindah keluar. Inilah proses kemiskinan struktural.

Model kemiskinan ini yang menjadi sumber ladang subur dari radikalisme. Biasanya, masuknya ideologi yang keras apakah agama atau komunisme, karena rakyat tidak sejahtera, tidak ‘happy’. Sementara yang atas terus dilindungi, bukan hanya dilindungi tetapi kebijakan dibeli oleh mereka.

“Nah negara-negara Asia yang makmur yang berhasil mengejar ketertinggalannya dari Eropa dari Amerika. Struktur ekonominya tidak seperti ini, tetapi seperti piramida ada yang kecil tapi mereka jago dunia, barangnya diekspor. Kita ini semua, kecuali sawit, rata-rata itu jago kandang,” ujar eks Tim Ahli Ekonomi PBB ini.

RR pun mengatakan bahwa rasionya sederhana. Jika ditanya rasio ekspor dibanding total penjualan, rata-rata hanya 10 persen. Tapi kalau 200 perusahaan yang besar di Jepang dan Korea, jika ditanya rasio ekspor dibanding dengan total penjualan, rata-rata 90 persen. Artinya mereka ambil keuntungan yang besar dari luar negeri untuk di gunakan dalam negeri.

“Mereka itu pasarnya dunia. Mereka membutuhkan banyak ‘sparepart’ dan komponen. Mereka membantu mengembangkan pemasok menengah untuk ‘sparepart’ dan komponen yang kecil (dalam negeri), dan menyeret semuanya. Itulah mengapa kesejahteraannya (bagus),” katanya

Bukan hanya itu, Rizal Ramli juga mengatakan di Indonesia hanya kebanyakan jago kandang. Karena Indonesia hanya memiliki dua produk yang tersebar di banyak negara lainnya.

“Bayangkan kita ke seluruh dunia mencari produk Indonesia hanya ada dua. Yakni Super Mie ada di mana-mana, di Afrika dan di Arab. Dan yang kedua adalah Tolak Angin, saya kira tidak ada produk lain dan sebagainya,” sambungnya.

Menurutnya, mengapa kita tidak sejahtera karena karena struktur ekonominya ini menghasilkan ketinggalan dan gap-nya makin lama makin besar. Hal tersebut harus dapat dibenahi agar rakyat dapat sejahtera, harus ada keadilan dalam bersikap terhadap melihat berbagai masalah.

“Kalau rakyat sejahtera, rakyat tidak akan mungkin menjadi radikal dan macam-macam,” tutupnya.

Laporan: Muhammad Lutfi

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...