Rizal Ramli: Cara Atasi Krisis Ekonomi dan Covid-19 Tak Kredibel, Ngomongnya Segerobak!

KONFRONTASI- Tokoh nasional/Ekonom senior Rizal Ramli (RR) meyakini bahwa kondisi ekonomi RI hingga kuartal III mendatang akan mengalami penurunan. Hal ini bukan tanpa sebab, karena menurutnya perlambatan ekonomi Indonesia sudah terasa sejak tahun lalu.

RR menilai, bahwa indikator hal tersebut jelas terlihat dari curret account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan yang terus membesar.

Diketahui, CAD Indonesia sepanjang 2019 menyempit jadi US$30,4 miliar atau setara dengan 2,72 persen dari total produk domestik bruto (PDB) dibandingkan dengan capaian 2018 sebesar US$30,6 miliar atau 2,94 persen dari PDB.

Image

“Saya kan sudah katakan, 1,5 tahun lalu ekonomi Indonesia sudah melambat. Lihat indikatornya, current account deficit negatif, makin lama makin besar, trade balance negatif, primary balance di budget yaitu negatif. Artinya buat bayar bunga (utang) aja minjem. Peredaran uang rendah sekali. Peningkatan kredit hanya 6 persen, biasanya 15 persen," tegasnya, saat dihubungi melalui telpon selulernya, pagi ini.

Mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini menyebut, pemerintah kerap menyampaikan informasi soal ekonomi yang tidak sesuai dengan faktanya.

"Tinggal Google, bisa dilihat saya tuh dibantah terus menerus oleh pejabat-pejabat pemerintah. Mohon maaf yang bener ternyata kita, mereka yang hoaks. Jadi saya gak mau bahas angkanya pemerintah. Not credible sejak 1,5 tahun yang lalu tidak kredibel hari ini dan tidak kredibel dalam waktu yang akan datang. Capek kita kalau bahas argumen analisa dan angka pemerintah, buang waktu," tegas Rizal, Menko Ekuin Presiden Gus Dur.

Rizal Ramli Tanggapi Kinerja Pemerintah Soal Penanganan Covid-1

Mantan Menko Ekuin era Gusdur Rizal Ramli juga menanggapi terkait pencapaian tim khusus yang dipimpin Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam penanganan covid-19 di 10 provinsi dengan tenggat waktu dua minggu.

Sebelumnya diketahui, media massa nasional yang menyebut angka kasus aktif Covid-19 di 10 provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, Papua, dan Bali mengalami kenaikan.

Dimana semua provinsi di atas, kecuali Banten, merupakan tanggung jawab Menko Luhut dalam dua pekan yakni pada 15 - 29 September 2020.

Hal itu diperburuk pula dengan kenaikan angka kematian di 10 provinsi tersebut yang juga tidak menunjukkan adanya perbaikan.

Setidaknya, ada tiga tugas utama yang dipasrahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Menko Luhut yakni menurunkan angka kasus positif, menaikkan angka kesembuhan, dan menurunkan angka kematian akibat Covid-19.

"Apa yang mau dipercaya dari omongan pemerintah ini. Makin hari data ekonominya saja yang disampaikan tidak kredibel kok.

"Fiasco (kegagalan-red) 2 Minggu: tidak aneh gagal turunkan covid, wong tidak ada perubahan strategi, hanya ngomong 'segerobak', ancam-ancam & tumpuk kekuasaan. Ubah definisi kematian covid, dikira lihai tapi tidak cerdas. RI masuk ‘high risk', negara-negara yang lock-out RI naik," cuitnya melalui akun Twitter pribadinya @ramlirizal, Jumat (2/10/2020).

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...