Rizal Ramli: BUMN dan Garuda Indonesia harus Profesional. Pejabat Jangan jadi Penjilat yang Hanya Susahkan Rakyat, Dari dialog ILC TV One

KONFRONTASI- Tokoh nasional Dr Rizal Ramli (RR) dalam dialog ILC TV One,  Selasa malam ini (10/12/19) mengaku tidak bisa tidur nyenyak dengan merosotnya kinerja BUMN dan terpuruknya ekonomi. RR meminta Menteri BUMN Erick Tohir lebih baik dari Meneg  BUMN Rini Sumarno yang terbukti tidak berhasil dalam memajukan BUMN. Di era Meneg Rini Sumarno, BUMN banyak merugi, utang BUMN-BUMN membengkak dan  prestasi kinerja BUMN buruk, namun Rini terus dipertahankan oleh Presiden Jokowi.. RR juga meminta pemerintah mendorong profesionalisme di BUMN dan mengevaluasi para pejabat  pemerintah dan direksi BUMN  yang tidak etik dan tak profesional serta suka bohong dan menjilat karena hanya bikin sulit dan susah  rakyat Di era Rini Sumarno  BUMN seperti PTPN merugi Rp50 Trilyun, Krakatau Steel merugi 38 Trilyun, BUMN konstruksi/karya hutang dibandingkan dengan emitennya 8-9 kali, kalau di swasta 4 kali aja sudah heboh. ,

Selengkapnya simak video RR di ILC TV One ini:

https://www.youtube.com/watch?v=JGncwSFgcrk&feature=youtu.be 

Erick, kata RR, sudah mengirimkan pesan yang jelas dan tegas dengan memberhentikan Dirut/Direksi Garuda Indonesia yang ‘’kesandung kasus’’ motor Harley Davidson Gusti Ngurah Ari Askhara Danadiputra. Namun RR mengingatkan, Menkeu Sri Mulyani  yang bersama Meneg BUMN Erick  jumpa pers dalam menghentikan direksi Garuda itu, membuat utang besar yang membebani rakyat. Itu suatu  hal yang tidak pantas dan tak patut. Sebagaimana diketahui Erick Thohir bersama Menteri Keuangan, Sri Mulyani-pun menggelar konferensi pers terkait kasus penyelundupan barang mewah ilegal yang dilakukan oleh Ari Askhara. Dalam kesempatan tersebut  Menkeu Sri Mulyani tiba-tiba menanyakan seperti apa rasanya menaiki sepeda Brompton seharga Rp 50 juta yang masuk dalam list barang selundupan itu. "Ini sepeda harga Rp 50 juta, bagaimana rasanya?" ucap Sri Mulyani dihadapan awak media.

Namun RR mengatakan, Menkeu Sri Mulyani begitu bangga dalam menghentikan direksu Garuda itu. Dalam hal ini,  RR mengatakan, Menkeu Sri Mulyani ikut bangga dalam menghentikan direksu Garuda itu dalam kasus penyelundupan Rp1,5 milyar itu, padahal Menkeu Sri .Mulyani telah membuat utang dengan yield sekitar 8,5%, lebih tinggi 3% dari Thailand, Filipina dan Vietnam yang hanya 5-6%. RR juga sudah pernah bilang ke Jokowi bahwa mark-up/korupsi Garuda bikin rugi triliunan rupiah.  Adakah Menkeu Sri mencoba "menghipnotis" kembali warganet yang sudah kadung kecewa dengan kebohongannyai? Ataukah Sri Mul juga tertular virus mythomania? 
RR ,menuturkan, istilah mythomania pertama kali digunakan tahun 1905 oleh seorang dokter psikiatri, Ferdinand Dupre. Mythomania merupakan penyakit psikologis yang dimana penderita menjadi suka berbohong yang tujuannya untuk mendapat pujian.
Selain itu penderita mythomania ini mempercayai kebohongan yang ia buat sendiri. Penderita sering tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang berbohong.  Hal ini, ungkap para jurnalis dan aktivis,  nampaknya terjadi pada pribadi Menmkeu Sri Mulyani

Mantan Menteri Koordinator bidang Maritim Rizal Ramli juga menegaskan Menkeu Sri Mulyani telah membuat utang dengan yield sekitar 8,5%, lebih tinggi 3% dari Thailand, Filipina dan Vietnam yang hanya 5-6%. RR sudah pernah bilang ke Jokowi bahwa mark-up/korupsi Garuda bikin rugi triliunan rupiah. Tapi banyak pakar/ ahli ''jenis kaleng kaleng'' yang bantah & salahkan RR, mereka malah menjilat Jokowi. Aneh lagi, laporan keuangan Garuda direkayasa seolah olah Garuda untung sekian triliun , padahal rugi besar. : Banyak perusahaan BUMN rugi puluhan triliun, dan itu berarti direksi-direksi BUMN tak becus bekerja. ''Hitungan saya, keuntungannya hanya 5%, dan kalau seluruh BUMN dibubarkan,  uangnya ditaruh di bank malah untung bunga 8 - 10 % karena direksi tak profesional, tidak beretika dan tidak kompeten dalam bekerja karena lebih suka menjilat,''ujarnya..


Tapi Menkeu Sri Mulyani mendayagunakan kasus Garuda itu untuk meraih simpati pasar dan publik, tapi dia lupa bahwa pengelolaan surat utangnya ditetapkan paling tinggi di kawasan Asia Tenggara, dan itulah yang menjadi masalah besar bagi bangsa kita. Sebab, dengan bunga yang lebih tinggi membuat pemerintah mesti menggelontorkan uang yang lebih besar ketika jatuh tempo. Contoh besaran utang yang mesti dibayar oleh pemerintah dengan besaran bunga lebih dari 8% dan tenor 10 tahun jauh lebih besar 135% dibanding Vietnam.

Artinya, kalau buat Indonesia bisa rugi, karena mesti membayar utang lebih mahal dari negara-negara di kawasan. Misalnya Vietnam itu 4,8% kalau dibandingin dengan tenor kita 10 tahun maka kita mesti bayar lebih mahal 135%.
Misalnya, bila kita merinci anggaran belanja pemerintah pada Juni 2019, disebutkan bahwa pembayaran bunga utang mencapai Rp 127,1 triliun atau tumbuh positif 13 persen. Sementara subsidi hanya sebesar Rp 50,6 triliun atau turun minus 17 persen. Akibatnya, tarif dasar listrik pengguna 900 VA akan mengalami kenaikan, bahan bakar minyak melangit, dan tak ada lagi harga murah untuk gas tabung 3 Kg.
Subsidi yang menjadi hak untuk rakyat Indonesia yang masih sulit hidupnya dikorbankan Sri Mulyani untuk bayar bunga utang bagi para kreditur dan investor kaya raya.
 

Rizal pun kemudian bercerita pernah menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan di tahun 2000. Saat itu, Garuda terlilit utang US$ 1,8 miliar. Jika tidak dibayar, konsorsium bank Eropa yang memberi pinjaman akan menarik pesawat-pesawat Garuda.

Pemerintah, ujar RR, kemudian mengancam konsorsium bank ke pengadilan. Lantaran, pesawat yang dibeli Garuda kala itu hasil penggelembungan atau mark up.

"Kami katakan kami akan tuntut di pengadilan Frankfurt karena saudara konsorsium bank itu membiayai mark up pembelian pesawat keluarga presiden. Harusnya 100 naikin 50. Saudara kasih kredit," katanya.

Setelah ancaman tersebut, konsorsium bank meminta damai. Dia bilang, kondisi Garuda sebenarnya tidak masalah jika pembelian pesawatnya tidak di mark up  (berbagai sumber ILC/TVOne)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...