16 October 2018

Rizal Ramli Berdiri di atas Keyakinan ketika Para Elite Politik Eker-Ekeran dan Gaduh berebut Kursi 2019

KONFRONTASI- Ribut-ribu soal Pileg dan Pilpres 2019, nyaris tak ada elite politik yang prihatin dan memikirkan solusi atas krisis ekonomi dua tahun ini dengan makin terpuruknya ekonomi, ambruknya rupiah dan makin miskinnya rakyat. Teknokrat senior/begawan ekonomi Rizal Ramli (RR) justru sangat khawatie dan gelisah dengan memburuknya ekonomi rakyat. Para elite politik terus  gaduh, cakar-cakaran dan eker-ekeran berebut kursi Pilpres, tanpa punya kemampuan mengatasi krisis ekonomi dimana ekonomi sudah lampu kuning setengah merah, yang jadi keprihatinan RR. Dan kini RR berdiri di atas keyakinan bahwa memburuknya ekonomi rakyat harus secepatnya diatasi. Tapi bagaimana cara, strategi dan kiatnya? Mungkin hanya RR yang mampu mengatasinya dengan spirit Trisakti dan pasal 33 UUD45, selebihnya para spekulan bergelar ''pengamat ekonomi atau ekonom Neoliberal''  yang  mengklaim bisa mengelola ekonomi, merasa sok tahu, padahal justru mengelabui rakyat dan menjerumuskan rezim,  pun kadang mereka ini jual mahal. Absurd.

Kubu Prabowo Subianto yang mulai retak dengan Demokrat SBY, masih  dibikin pusing, ribet dan ruwet dengan tuntutan PKS, PAN soal logistik dan cawapres yang PKS/PAN minta.  Munculnya Sandiaga Uno untuk mengatasi logistik senilai Rp500 milyar-Rp1 Trilyun, telah membuat marah kubu Demokrat yang ditandai dengan tudingan Andi Arief soal  jenderal kardus dan dibalas Arif Puyono Gerindra dengan sebutan ''kardus'' serupa pula.

Tapi kini pun koalisi Gerindra-PKS-PAN masih belum mengkristal, masih bisa retak kalau ada  yang ''menggunting dalam lipatan'', dan lagi-lagi Prabowo yang bakal  jadi korban. ''Saya khawatir Prabowo terus jadi bulan-bulanan untuk menyetor duit mahar bagi PKS dan PAN, namun Sandi Uno konon bisa mengatasinya, semoga bisa beres secepatnya,'' kata analis Reinhard MSc dari the New Indonesia Foundation.

Lalu bagaimana posisi RR dalam konteks rivalitas kubu Jokowi vs kubu Prabowo? ''RR lebih baik di tengah-tengah, berpihak ke rakyat banyak, berpihak pada amanat derita rakyat,  bebas aktif-kreatif, independen dan tidak terseret pertarungan sengit kedua kubu sebab sebagai Begawan ekonomi dan tokoh nasional serta Sang Penerobos Kebuntuan, sudah semestinya RR berdiri di atas keyakinannya, di atas  semua golongan, semua kubu, kecuali kalau dia jadi capres atau cawapres 2019, yang musti bertanding dengan para pesaing,'' katanya.

KOALISI ALOT

Koalisi yang dibangun partai-partai penantang calon presiden petahana Joko Widodo masih berjalan alot.

Gerindra, Demokrat, PAN, dan PKS masih belum menemukan titik temu soal nama calon wakil presiden (cawapres) yang akan diusung untuk mendampingi Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

Pendiri lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saiful Mujani bahkan menyebut logika koalisi yang dibangun untuk koalisi ini adalah “aku dapat apa”.

Hasil gambar untuk saiful mujani

Saeful M

“Di koalisi partai-koalisi pendukung prabowo masih berkutat masalah 'partai aku dapat apa'. Tiga partai masing-masing ingin cawapres. deadlock,” ujarnya dalam akun Twitter @saiful_mujani, Rabu (8/8).

Dia memprediksi jatah cawapres itu akan didapat Demokrat, meski partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu datang di tikungan terakhir.

“Kenapa Demokrat? Mungkin Demokrat punya logistik untuk kerja. PKS dan PAN? mungkin kurang,” urainya.

PAN dan PKS, sambungnya, bisa keluar barisan dan menarik PKB untuk membentuk poros baru. Tapi poros ini butuh capres yang kuat dan logistik yang bisa membantu ketiga partai untuk kampanye legislatif.

“Apa ada calon yang sanggup? Mungkin Gatot dan..?” sambung Saiful Mujani.

Namun demikian, dia memprediksi PKB akan susah keluar dari koalisi Jokowi. Sebab, PKB saat ini memiliki empat menteri di kabinet Jokowi.

Sementara mengenai sikap PKB yang mengulur dukungan dan mendorong Muhaimin Iskandar sebagai cawapres, dia menilai itu sebatas cara PKB untuk mencari perhatian lebih dari Jokowi.

“PKS bagaimana? Lihat siapa aja yang bisa bantu logistik untuk kampanye PKS. Tidak menutup kemungkinan kalau koalisi Jokowi lebih memenuhi kebutuhan itu. tapi bisa juga Demokrat bantu logistik PKS” tukasnya.

Dari pola analisanya di atas, Saiful Mujani menyimpulkan bahwa logika koalisi yang dipakai saat ini cukup sederhana, yakni sebatas soal cawapres, logistik, dan jatah kabinet.

“Kalau tidak ketiganya, dua di antaranya juga boleh. Bahkan hanya satu aja dari tiga akhirnya boleh juga. sangat duniawi akhirnya,” tukasnya.

“Tidak ada ideologi. Ideologi emang udah lama mati dan udah dikubur. Partai-partai itu yang menguburnya,” tutup Saiful Mujani. [ian]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...