12 November 2019

Presiden Jokowi Tak Disukai AS, Disarankan Rekrut kembali Dr Rizal Ramli untuk Perbaiki Ekonomi yang Merosot Jatuh, kata Akademisi Paramadina dan UMJ

KONFRONTASI- Dr Herdi Sahrasad, akademisi/peneliti senior Universitas Paramadina  dan Departemen Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta menyarankan Presiden Jokowi untuk memanggil dan merekrut teknokrat senior Dr Rizal Ramli secepatnya ke kabinet  untuk mengatasi masalah memburuknya ekonomi, merosotnya rupiah dan pernyataan ‘’perang dagang’’ Wapres Yusuf Kalla terhadap pemerintahan AS era Donald Trump. Menurut Herdi Sahrasad yang juga alumni AS, pemerintahan Jokowi terlalu dekat dengan China (RRC) dan malah mengesankan satu garis kebijakan dengan China daratan yang sangat tidak disukai AS.

 ‘’ Secara politik, RI era Jokowi dianggap AS sudah satu kubu dengan RRC (China), dan kalau rupiah terus melemah, dan cadangan devisa sudah makin tergerus, maka kejatuhan ekonomi Jokowinomics  sudah diambang pintu meski Menkeu Neoliberal Sri Mulyani memberi jaminan bahwa ekonomi aman dan stabil. Itu semua cuma wacana Sri Mul, sebab kalau rupiah terus melemah, dolar menembus Rp14.000, maka pemerintahan Jokowi secara ekonomi sudah game over, dan pemerintah Jokowi-JK  tak bisa menyalahkan faktor eksternal semata karena itu berarti  pemerintah Jokowi-JK menyalahkan faktor AS (eksternal). Kalau pemerintah cuma menyalahkan faktor eksternal (AS ), cara itu jelas tidak kreatif dan tidak kredibel,’’ tegas Herdi, analis ekonomi-politik yang pernah mendapat fellowship Ford Foundation dan The Rockefeller Foundation itu.

Sebelumnya, analis politik dari  Persatuan Alumni GMNI  Nehemia Lawalata dan Direktur Freedom Foundation Darmawan Sinayangsah, mantan aktivis FISIP UI  (keduanya rekan Herdi Sahrasad) mengungkapkan, sebaiknya  Presiden Jokowi segera bertemu dengan Dr Rizal Ramli (RR) untuk mengatasi  stagnasi ekonomi sebab tim ekuin Jokowi sangat lemah, mandul dan dikabarkan pula Amerika Serikat sudah sebel sama Jokowi yang terlalu dekat ke RRC (Tiongkok komunis). Sejauh ini, Jokowi belum memutuskan siapa calon wapresnya. Kalangan NU, Muhammadiyah, Islam urban dan nasionalis kultural meyakini kalau  tidak duet dengan RR, maka Jokowi terlempar dari istana alias keok total. Sebab elektabilitasnya jeblok, di bawah 40 persen dan ekonominya juga jeblok, bahkan Gedung Putih (AS )sudah mendorong modal swastnya hengkang dari pasar modal (bursa efek) sebagai tekanan agar Jokowi cukup satu periode berkuasa, dan sinyal itu sudah ditunjukkan AS.  Dolar menguat, rupiah terus melemah, bahkan cadangan devisa RI  tergerus lebih dari 50 Trilyun rupiah.

. ''Kami dengar Gedung Putih sudah sebel sama Presiden Jokowi yang memang rapuh dan dekat ke China, mustinya dia panggil RR yang lobi Amerikanya sangat kuat ketimbang Sri Mulyani yang IMF/Bank Dunia neolib dan gagal angkat ekonomi rakyat, cuma 5% doang,'' kata  Nehemia dan Darmawan secara terpisah.

Herdi  Sahrasad menambahkan, Rizal Ramli baru-baru ini kembali dari lawatan ke Jepang, sekutu AS terkuat di Asia dan mengadakan pembicaraan serius  dengan para pemimpin Jepang untuk memperkuat hubungan RI-Jepang-AS dan Uni Eropa secara ekonomi guna memperkuat posisi RI sebagai jangkar stabilitas di Asia Tenggara agar tidak jatuh ke dalam orbit pengaruh RRC. ‘’Kalau Jokowi tidak merekrut RR, maka kejatuhan Jokowinomics-JK tinggal tunggu waktu, ekonomi Neoliberal  Sri Mulyani dkk sudah gagal di Indonesia dan konyol kalau diteruskan sebab bertentangan diametral dengan Trisakti Soekarno dan Nawa Cita serta cita-cita Proklamasi 1945, kegagalan ekonomi tiga tahun ini adalah kegagalan era Jokowi-JK, mengulang kegagalan Neoliberalisme era SBY yang serupa. Bedanya SBY sangat dekat dengan Gedung Putih, sedang Jokowi dengan China, tapi  kedua pemerintahan (Jokowi dan SBY) itu sama-sama neoliberal,’’ kata peneliti senior Univ.Paramadina dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) itu.

Hasil gambar untuk herdi sahrasad

herdi sahrasad, mantan visiting fellow di  AS, Monash University Australia dan Marburg University, Jerman

Menurutnya, pernyataan mantan Kepala BIN Jenderal Purn Hendroprijono bahwa Rizal Ramli merupakan  tokoh yang mampu memperbaiki ekonomi, bervisi reformis, mampu mengatasi kerusakan korporasi, dan berhasil memajukan ekonomi ( ketika jadi Menko Ekuin di era Presiden Gus Dur) serta pantas jadi Wapres Jokowi, adalah sinyal kuat bahwa tim ekuin Jokowi sudah tidak layak dan RR harusnya masuk kabinet untuk perbaiki ekonomi bangsa. ''Rizal Ramli adalah mantan panel ahli Sekjen PBB di New York, dan  sangat kredibel, meski bukan ekonom serba sempurna sebab dia bukan nabi ekonomi, namun sebagai begawan ekonomi yang kritis dan sehat, dia sudah menunjukkan loyalitasnya pada Jokowi. Kalau Jokowi tidak merekrut kembali RR ke dalam kabinet, tunggulah kejatuhan ekonomi Jokowi hanya soal waktu,'' kata Herdi Sahrasad, mantan visiting fellow di Indiana University, Cornell, UW Seattle dan UC Berkeley AS itu. (kf)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...