10 December 2018

Prabowo-Rizal Ramli Menguat: NU Kultural dan Muhammadiyah serta Ulama Dipastikan Mendukung

KONFRONTASI- Ekonom senior Rizal Ramli  (RR)  adalah anak kandung ideologis  Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.  Ayah-ibunya Muhammadiyah Sumatera Barat namun secara kultural dan politik RR asuhan Gus Dur  Pesantren Tebu Ireng Jombang Baginya, dua institusi itu sudah merasuk menjadi satu dalam dirinya, dan bahkan  para santeri sering  menyebutnya Gus Romli (RR)  itu keluarga besar NU-Muhammadiyah karena komitmen, dedikasi dan kecintaannya pada  ekonomi ummat Islam yang terus miskin.

''NU Kultural  dan Muhammadiyah serta Ulama GNPF pasti dukung Rizal Ramli jadi Cawapre Prabowo demi perbaiki ekonomi ummat, rakyat dan kaum Muslim yang lemah sebagai mayoritas anak bangsa yang tersakiti,'' kata akademisi Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad yang juga mantan aktivis  HMI dan gerakan prodemokrasi 1998.  Kamis malam ini Sandiaga Uno ditolak para ulama 212/GNPF dan para santeri karena bakal menghadapi Jokowi- Maruf Amin MUI  dari Kandang Banteng.

Yusuf Martak, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa menolak Sandiaga Uno dengan bertandang ke rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan pada sore hari tadi. Yusuf Martak tiba sekitar pukul 16.20 mengenakan busana dan peci putih.

Pada wartawan Yusuf Martak mengatakan akan mempertanyakan keputusan Prabowo ihwal calon wakil presiden yang akan mendampinginya di pemilihan presiden 2019. "Kami mau mempertanyakan keputusannya bagaimana," kata Yusuf Martak di depan rumah Prabowo, Kamis, 9 Agustus 2018. Mau didengar ulama/ummat atau mau jalan sendiri dan kalah? ujarnya.

Hasil gambar untuk RR dan ulama gnpf

Hasil gambar untuk Rizal ramli dan KH Hamzah

Hasil gambar untuk Rizal ramli dan KH Hamzah

Sebagaimana diketahui, para ulama GNPS menolak Sandiaga Uno jadi CAwapres Prabowo karena akan ditolak kaum santeri/Muslim yang umumnya miskin-lemah dan itu bisa membuat Prabowo kalah. Adalah RR yang paling berani berjuang membela ekonomi ummat dan rakyat..

Demikian kata Rizal ketika ditanya oleh peneliti Jepang, Nakamura, soal kedekatannya dengan NU padahal terlahir di Padang. “Jika Anda mengatakan saya orang Padang, kenyataannya memang saya lahir di Padang. Dan mayoritas masyarakat Padang memang Muhammadiyah. Saat saya menjadi yatim piatu di usia 6 tahun, saya diboyong nenek saya ke Bogor. Di Bogor, mayoritas adalah warga NU,” ujar Rizal Ramli kepada Nakamura di Tokyo, Jepang, seperti dilansir tribunnews.com, 3 Februari.

Hasil gambar untuk Rizal ramli dan KH Hamzah

Nakamura adalah peneliti Muhammadiyah dari Chiba University, Jepang. Salah satu karyanya “Bulan sabit terbit di atas pohon beringin: Studi Tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede Sekitar 1910-2010.

Selain karena lingkungan masa kecil, NU juga telah menyatu dalam diri Rizal. Hal ini lantaran pria berkacamata ini memiliki sejarah panjang dalam konteks persahabatan dengan bekas Ketua Umum Pengurus Besar Nadhatul Ulama, (alm) KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, yang juga Presiden RI ke-4.

Hasil gambar untuk RR dan ulama gnpf

Hubungan yang dekat dengan Gus Dur itu mau tidak mau di kemudian hari membawa Rizal Ramli juga berhubungan dekat dengan kaum Nahdliyin atau yang lebih dikenal dengan NU Kultural.

“Saya bersahabat dengan Gus Dur sudah lama sekali. Semasa almarhum menjadi Ketua Umum PBNU, saya sering hadir di ceramahnya,” tutur Rizal Ramli.

Rizal Ramli-pun mengaku kerap berkunjung ke beberapa pesantren, seperti Tebu Ireng di Jombang, Al Hikam yang didirikan oleh almarhum KH Hasyim Muzadi di Depok, Jawa Barat.
Kemudian Pesantren Al Kharimiyah yang dipimpin oleh KH A Damanhuri di Sawangan Depok, pesantren Mambaul Hikmah yang dipimpin oleh KH Sulton di Tegal.

“Ketika saya diundang ke pertemuan alumni pesantren Tebu Ireng, ratusan alumni yang hadir dalam pertemuan itu memberikan saya gelar Gus Romli,” ungkap Rizal Ramli.

 

Hasil gambar untuk Rizal ramli dan KH Hamzah

 

Selain dengan NU, Rizal Ramli menambahkan, bahwa dirinya juga mempunyai hubungan cukup dekat dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah.

“Beberapa kali saya menghadiri pertemuan  yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah. Saya pernah menjadi saksi ahli dalam gugatan yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah terhadap UU Nomor 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang dinilai pro pasar bebas dan asing. Gugatan itu diajukan ke Mahkamah Konstitusi dan berhasil menang,” papar izal Ramli.

Rizal Ramli juga menceritakan bahwa ia juga mempunyai hubungan dekat dengan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang banyak mempunyai alumni yang menjadi tokoh-tokoh Islam.

Antara lain, sambung Rizal, Din Syamsudin yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah dan almarhum KH Hasyim Muzadi yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU serta Ustad Bachtiar Nasir yang menjadi penanggung jawab Aksi Damai satu juta Umat Islam pada tanggal 4 November 2016 (411) di Monas dan sekitarnya.

“Sebenarnya saya punya historis juga dengan Pondok Pesantren Gontor. Pada tahun 1976, saya dan seirang kawan, Irzadi Mirwan, pernah “nyantri” seminggu di Gontor,” kenang Rizal Ramli.

Setelah mendengarkan penjelasan Rizal Ramli, Nakamura-pun mengaku, memiliki kesamaan dengan mantan Menko Ekuin era pemerintahan Gus Dur itu. Meski penelitiannya hanya terfokus pada sejarah pergerakan Muhammadiyah, Nakamura mengatakan, kawan-kawannya di Indonesia tetap banyak juga yang berasal dari kalangan Nahdlyin.

Hasil gambar untuk RR dan ulama gnpf

Bahkan, Nakamura mengungkapkan, bahwa almarhum Gus Durpernah bertandang ke rumahnya di Jepang. Gus Dur-pun, dikisahkan Nakamura, sempat menantangnya untuk meneliti lebih jauh gerakan Islam di Indonesia.

“Anda melihat sebagian dari Islam di Indonesia saja, kalau cuma Muhammadiyah itu kurang sempurna. Anda harus melihat NU (Nahdlatul Ulama, red), coba ikut mengobservasi, pengamatan terhadap gerakan masyarakat NU,” kenang Nakamura menirukan ucapan Gus Dur.

Hasil gambar untuk Rizal ramli dan KH Hamzah

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...