24 July 2019

Polda Jatim Temukan 25 Akun Penghasut Jelang Pilgub

Konfrontasi - Hoaks dan ujaran kebencian (hate speech) tampaknya masih dianggap sebagai bisnis menjelang pilkada.

Buktinya, kemarin Bidhumas Polda Jatim merilis bahwa pihaknya menemukan 25 akun yang ditengarai menjadi akun-akun hoaks dan penebar kebencian.

Menurut Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera, temuan tersebut berdasar hasil patroli online yang dilakukan cybertroops Polda Jatim.

''Sejauh ini, masih berupa promosi-promosi saja. Tetapi, ciri-ciri akun itu sudah seperti akun-akun milik sindikat Saracen (sindikat penebar hoax dan hate speech yang dibekuk Mabes Polri, Red),'' kata perwira dengan tiga melati di pundak tersebut.

Ciri-cirinya, akun dan situs itu belum lama muncul. ''Salah satu petunjuk akun tersebut adalah akun tidak jelas adalah history-nya. Jika Facebook, belum banyak posting,'' ujarnya.

''Kalaupun ada posting-an, hanya ala kadarnya,'' imbuhnya.

Selain itu, profilnya bukan profil sebenarnya, terkesan ngawur atau bahkan menggunakan proxy server luar negeri.

Hanya, Barung masih enggan membuka media mana saja yang mulai melakukan tindakan tersebut.

''Media baru yang tiba-tiba muncul itu bertema pilkada,'' ucap Barung setelah menjadi pembicara sosialisasi Bahaya Opini Negatif Pilkada dan Pilgub 2018 kepada Kasubbaghumas polres jajaran Polda Jatim..

Akun-akun itu bervariasi. Ada yang memanfaatkan fanspage di Facebook, akun Twitter, hingga portal media online. Mereka mempunyai berbagai macam kepentingan. Dari pemantauan polisi, saat ini mereka gencar menyosialisasikan bakal calon yang akan diusung.

''Tingkat kabupaten/kota maupun provinsi sama-sama gencar promosi,'' jelasnya.

Karena sifatnya masih promosi, polisi pun mengaku belum bisa ikut campur. 

Menurut dia, tahap ini masih jadi domain komisi pemilihan umum daerah (KPUD). Untuk sementara, berdasar penilaian polisi, belum muncul opini negatif atau dugaan penyerangan terhadap kandidat tertentu. Khususnya yang akan bersaing pada pilkada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Namun, polisi telah mengintai pergerakan media tersebut. Setiap posting yang diunggah akan dipantau.

''Setiap hari akan kami evaluasi, sejauh mana efek yang dihasilkan sebuah posting-an akun,'' tuturnya.

Dia tidak ingin emosi masyarakat jadi terpicu karena sebuah ujaran kebencian atau kampanye negatif yang menyerang kandidat lainnya. Apalagi sampai terjadi pengerahan massa hingga tindakan kontraproduktif lainnya.

''Jatim harus adem, jangan sampai terbawa suasana saat pilkada Jakarta,'' katanya.

Belum lagi, dia memprediksi berita-berita hoax bertema pilkada semakin marak. Bahkan, jika tidak hati-hati, media mainstream pun bisa jadi akan ikut menyebarkan.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...