Penyidik KPK Bawa Ini Usai Geledah Rumah Mantan Ajudan Pakdhe Karwo

Konfrontasi - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah selesai menggeledah kediaman mantan ajudan eks Gubernur Jatim Soekarwo, Karsali. Keluar dari rumah Karsali, penyidik membawa dua koper hitam dan satu kardus bekas air mineral.

Enam penyidik yang didampingi empat polisi keluar dari rumah sekira pukul 18.54 WIB. Selain itu, ada Ketua RT yang juga keluar didampingi petugas keamanan setempat.

Namun, seluruh penyidik enggan memberikan keterangan. Kesemuanya bergegas naik mobil dan meninggalkan kediaman Karsali di Perumahan Sakura Regency Ketintang Surabaya.

Sebelumnya, petugas keamanan di kediaman Karsali, Karman mengatakan majikannya sedang tidak berada di rumah. Karena Karsali sedang berada di luar kota.

"Bapak sedang di luar kota tidak ada di rumah," kata Karman di Perumahan Sakura Regency Ketintang Surabaya, Jumat (9/8/2019).

Sebelumnya, Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan pihaknya melakukan beberapa penggeledahan di Surabaya. Usai menggeledah kediaman mantan Kepala Bappeda Jawa Timur, Zainal Budi, KPK langsung menggeledah rumah eks ajudan Mantan Gubernur Jatim Soekarwo, Karsali. 

Penggeledahan ini berkaitan dengan kasus dugaan suap Ketua DPRD Tulungagung, Supriyono (SPR). Selain itu, KPK juga menggeledah kediaman mantan pejabat Bappeda Budi Juniarto. 

"Sedang berlangsung geledah di rumah Zainal Abidin, Jalan Asem Nomor 1, yang bersangkutan adalah mantan Kepala Bappeda Jatim," kata Febri.

Dalam perkara ini, Supriyono ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengesahan APBD atau APBD-P Tulungagung 2015-2018. Penetapan tersangka ini merupakan pengembangan dari kasus eks Bupati Tulungagung Syahri Mulyo yang telah divonis 10 tahun penjara.

Tersangka SPR diduga menerima uang setidak-tidaknya sebesar Rp 4,8 miliar, selama periode 2015-2018 dari Bupati Tulung Agung Periode 2013-2018 terkait dengan pembahasan, pengesahan, dan pelaksanaan APBD dan/atau APBD Perubahan Kabupaten Tulungagung," ujar Febri di kantornya, Senin (13/5).

KPK menduga uang tersebut berasal dari Syahri Mulyo dan kawan-kawan sebagai syarat pengesahan APBD atau APBD-P. KPK menyebut Supriyono menerima uang tersebut secara bertahap. (dtk/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA