20 July 2018

Pengguna Narkoba di Tasikmalaya Terus Meningkat

Konfrontasi - Pengguna Narkoba di Kota Tasikmalaya setiap tahunnya terus meningkat. Berdasarkan data standar nasional, tiap tahun pengguna narkoba di Indonesia meningkat sekitar 10 persen. Sementara, menurutnya di Tasikmalaya juga telah terjadi peningkatan penyalahgunaan narkoba setiap tahunnya.

"Di Kota Tasikmalaya pengguna narkoba setiap tahunnya meningkat sekitar 20 sampai 30 persen," ujar Kasat Narkoba Polres Kota Tasikmalaya, AKP Erustiana saat gelar perkara, Senin (6/7/2015).

Kepolisian Kota Tasikmalaya telah menangkap 45 orang pengguna narkoba di tahun 2015. Berdasarkan hasil penyidikan, terjadi pengingkatan peredaran narkoba selama bulan puasa tahun ini. Dengan sejumlah barang bukti ganja dan pil penenang jenis Alprazolam.

Menurutnya, sebanyak 45 orang pengguna narkoba tersebut merupakan pengguna narkoba jenis sabu, ganja dan pil. Sementara, pengguna morfin dan extasi selama dua tahun terakhir tidak ditemukan di Tasikmalaya. Hal tersebut terjadi karena pengguna narakoba saat ini telah
bergeser.

Penggunaan segala jenis narkotika pada awalnya memang bisa membuat si pengguna menjadi kuat secara fisik. Namun lama kelamaan syaraf utama pada otak si pengguna akan rusak. Akibatnya bisa menimbulkan kematian.

Lanjut Erustiana, sebagian besar pengguna narkoba pada usia produktif sekitar 18 tahun sampai 35 tahun. Sekarang banyak penyalahgunaan obat penenang seperti jenis alprazolam. Sebab obat penenang tersebut sangat mudah didapatkan. Obat penenang jenis alprazolam biasa dijual di apotek. "Obat tersebut fungsinya untuk penenang dan penghilang rasa sakit,"katanya.

Modus pelaku penyalahgunaan obat tersebut, kata Erustiana, mereka berpura-pura sakit atau benar sakit. Kemudian mereka meminta resep Dokter. Biasanya ketentuannya Dokter hanya memberi resep untuk tiga hari. Tapi mereka menyalahgunakan resep tersebut.

"Caranya mereka membeli obat penenang di pasar gelap dan melalui pasar online di internet," ujarnya.

Mudahnya mendapatkan obat tersebut bisa memperbanyak jumlah pengguna dan penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan hasil penyidikan kepolisian, obat penenang biasa dijual di apotek seharga Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per lembar sepuluh butir dalam satu lembarnya. Tapi di pasar gelap obat tersebut bisa dijual seharga Rp 200 ribu perlembar. Para pembeli cukup transfer uang, nanti mereka akan mendapatkan paket obat yang tidak tahu dikirim dari siapa, ujar Erustiana (pkrnrkyt/ar)

Category: 
Loading...