19 September 2019

Pencopotan Jokowi atas Rizal Ramli, Sang Humanis, Miris dan Mengandung Misteri

KONFRONTASI- Ada kisah miris ketika tokoh nasional Rizal Ramli, sang humanis,  dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Padahal, Rizal baru bekerja 11 bulan saat ditunjuk oleh Jokowi masuk kabinet kerja dalam reshuffle kabinet jilid I lalu. RR sendiri sedang menyiapkan gagasan, konsep dan strategi yang terbaik untuk memperjuangkan maslahat rakyat.

Pencopotan Rizal Ramli dilakukan di tengah isu penyegelan Pulau G di Pantai Utara Jakarta. Dalam kasus ini, dia terlibat  polemik dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) yang tak terima dengan keputusan Rizal main setop proyek milik Agung Podomoro Land itu.

Rizal kerap terlibat polemik di media dengan Ahok karena RR ingin pembangunan jangan sampai merugikan masyarakat warga dan merusak lingkungan demi keuntungan pengusaha/pengembang sesaat.  Rizal Ramli berkata bahwa apa yang disuarakannya adalah soal kebijakan publik yang menyangkut nasib publik dan kepentingan publik, agar publik sadar bahwa ada bahaya dan masalah yang harus dipecahkan dengan memperhatikan  aspirasi dan pendapat publik karena menyangkut hak dan nasib mereka.


Ada cerita menarik di balik pencopotan Rizal Ramli oleh Jokowi. Kawan dekat Rizal, Adhie M Massardi, mengungkap detik-detik sebelum akhirnya Jokowi copot Rizal.

Pada Selasa (26/7) Rizal masih hadir sebagai bintang tamu di acara Indonesia Lawyers Club di TvOne. Di sana memang Rizal diundang untuk membahas tema siapa berwenang hentikan proyek reklamasi Teluk Jakarta.

Rizal pun tak henti-hentinya menyerang Ahok. Bahkan, dia mengatakan, Ahok tak semestinya menyeret nama Jokowi di kasus reklamasi ini.

"Dia seret kaki Menteri Siti, tapi kan enggak kena, sekarang dia seret kaki presiden. Jangalah presiden diseret-seret, kasihan presiden," kata Rizal di acara diskusi tersebut.

Bahkan dalam acara itu Rizal Ramli dengan sangat lugas membongkar gaya Ahok yang mempraktikkan cara-cara orde baru dalam menggalang dana politik, dengan membuat dana off-budget, yang dulu dikenal sebagai 'dana non-budgeter' sebagaimana terjadi di Bulog (dan Pertamina), yang diberangus Rizal Ramli saat menjabat Kabulog (1999).

Adhie Massardi mengaku tidak kaget dengar pencopotan Rizal Ramli. Karena sejak masuk kabinet Rizal Ramli memang jadi gangguan serius bagi mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, demi keuntungan bisnis keluarga dan kroninya. Makanya dengan berbagai cara mereka menekan presiden untuk menyingkirkan Rizal dari Istana, menurut Adhie.

Yang membuat Adhie adalah, hingga detik-detik terakhir menjelang tampil di acara ILC, kabar yang beredar di masyarakat, reshuffle kabinet yang akan diumumkan presiden dalam waktu dekat Rizal Ramli diproyeksikan menempati posisi Menko Ekonomi yang semula dijabat Darmin Nasution.

"Meskipun tidak tertarik mengikuti isu reshuffle kabinet karena ini terlalu elitis dibandingkan kenyataan kehidupan rakyat yang semakin melarat, saya tidak menyanggah kemungkinan Rizal Ramli pindah posisi ke Menko Ekonomi. Karena, menurut cerita Rizal Ramli, dalam beberapa hari terakhir Joko Widodo banyak bertanya soal bagaimana mengatasi perekonomian nasional yang kian tidak menentu," ujar Adhie.

Banyak pandangan yang disampaikan Rizal Ramli kepada presiden tentang bagaimana sebaiknya menggelindingkan roda perekonomian tanpa harus menyengsarakan rakyat, menyimpang dari konstitusi dan, terutama, tidak latah menambah utang luar negeri yang sudah sangat menggunung hanya untuk menambal APBN.

Menurut Adhie lagi, sebagai ekonom senior yang dikenal memiliki reputasi dan teruji dengan segala terobosannya, tampaknya Joko Widodo terkesan pada gagasan-gagasan Rizal Ramli. Mungkin karena itu, ada kesepakatan memposisikan Rizal Ramli di Menko Ekonomi, seperti kabar reshuffle yang beredar di masyarakat.

Namun nyatanya, Rizal tetiba dipanggil Presiden Jokowi. Saat itu, Rizal langsung meninggalkan acara ILC meski diskusi belum selesai. Di sanalah, Rizal menerima pesan bahwa dirinya dicopot dari Menko Kemaritiman.

"Semula saya memang tidak yakin pada pernyataan Ahok bahwa pengembang punya andil sangat besar dalam mempresidenkan Joko Widodo dalam pilpres 2014. Lebih tidak yakin lagi bahwa pengembang bisa punya akses begitu langsung dalam roda pemerintahan, sehingga bisa menentukan personal kabinet. Ini sangat tidak masuk akal," ujarnya.

"Tapi semua yang tidak masuk akal itu kini menjadi fakta. Rizal Ramli dipanggil Presiden ke Istana saat sedang menyampaikan kesaksiannya secara live di TV (One) atas perilaku Ahok dan pengembang yang banyak menyimpang dalam kasus reklamasi pantai utara Jakarta," tutur Adhie.

Menurut Adhie, Rizal Ramli kemudian meninggalkan acara ILC sebelum waktunya dan menghadap presiden di Istana guna mendengar keputusan pemberhentian dirinya sebagai Menko Maritim & Sumber Daya yang oleh presiden sebelumnya diperintahkan menyelesaikan kasus reklamasi.

"Inilah kenyataan. Dunia politik memang tidak mempersoalkan 'siapa benar dan siapa salah' tetapi persoalan 'menang dan kalah'. Dalam pertarungan Rizal Ramli vs Ahok (dan para pengembang) faktanya Rizal Ramli kalah," ujar Adhie.

"Tapi perjuangan membela kepentingan publik (para nelayan) dan melawan para pencemar lingkungan tidak harus dalam posisi anggota kabinet, tapi bisa dilakukan kapan saja dan dari mana saja," tutup Adhie. [rng/gd]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...