Pemilu Tak Kredibel, jika KPU Paksakan Jokowi Unggul., bakal Negatif. Sebab Prabowo yang Menang, kata aktivis senior ini

KONFRONTASI- Dikhawatirkan Pemilu tak kredibel, dan tidak dipercaya siapapun (pasar, dunia internasional dan rakyat)  jika paslon 01 dipaksakan menang oleh KPU yang bermasalah , dan itu memicu krisis kepercayaan, krisis politik dan delegitimasi Jokowi.  KPU belum ada audit menyeluruh, ada juga  DPT bermasalah dan kecurangan masif. Demikian pandangan Bennie Akbar Fatah, aktivis senior  Gerakan 1998 dan mantan pimpinan KPU era Presiden Habibie.

Prabowo Subianto sudah menyatakan  menang, mayoritas rakyat  sudah memberikan suara memilihnya, mendukung, mendoakan dan  sembahyang di Jakarta, kota-kota lain dan di seantero Tanah air di Indonesia hari-hari Ramadan ini. Rakyat merayakan kemenangan Prabowo-Sandi (02), sebab KPU dipastikan paksa kemenangan Jokowi (01) yang sudah mengalami krisis kepercayaan dan delegitimasi. 

Hasil gambar untuk bennie akbar fatah

bennie fatah

Sebelumnya Tokoh nasional Rizal Ramli desak audit menyeluruh terhadap IT KPU dan menegaskan bahwa pemilu paling buruk ini harus disadari oleh semua pihak. ''Kita ingatkan bahwa Prabowo sudah menang, dan kemenangan itu jangan sampai dikotori/dirusak dengan kecurangan oleh KPU dan seluruh pihak terkait  hanya  untuk memaksakan Jokowi yang unggul, padahal mayoritas rakyat pilih Prabowo,'' kata RR seraya menunggu perhitungan suara pemilu secara  manual bisa final.

Pasar, publik dan dunia internasional tahu bahwa Prabowo menang, tapi dicurangi brutal, namun toh tetap menang sehingga tak boleh dirusak/dicurangi oleh KPU dan pihak-pihak terkait hanya untuk memaksakan Jokowi unggul. ''Dan dugaan itu, kalau terbukti, jelas kejahatan sontoloyo,'' kata relawan 02 antara lain peneliti  F Reinhard, dan jurnalis Arief Sofyanto serta analis Muda Saleh.

Mereka mencatat dan mengingatkan pentingnya  langkah  KPK melakukan audit dan langkah jitu terhadap KPU dan instansi terkait, apalagi KOORDINATOR Relawan Informasi Teknologi (IT) BPN 02, Mustofa Nahrawardaya sudah membawa lebih dari 73 ribu lembar temuan kesalahan dari input sistem hitung atau Situng milik Komisi Pemilihan Umum (KPU).  Sementara relawan BPN 02,  KAUKUS KEBANGSAAN dan BAWASLU  MENYIMPULKAN PELANGGARAN BAHWA :

 

1. KPPS mengerahkan pemilih utk memilih paslon tertentu di 4.589 TPS.

 

2. KPPS mencoblos sisa surat suara yg tdk terpakai di 860 TPS, terjadi kecurangan di ribuan TPS di daerah2.

 

3. KPPS menutup TPS sebelum jam 13:00 di 3.066 TPS.

 

4.Ditemukan dan telah beredarnya banyak Audio, Foto dan Video Kecurangan Pemilu 2019.

 

5. Ada 73.715 kesalahan input data Situng atau sebesar 15,4% dari total 477.021 TPS yang ditemukan oleh relawan BPN.

 

6. Meninggalnya 474 petugas KPPS, setelah melaksanakan tugas. Tidak dapat dikatakan sebagai hal yang kebetulan. Justeru menggelitik kecerdasan emosional kami untuk mencari tahu fenomena yang anomali itu. Dan para dokter FKUI maupun USU Mdan mensinyalir, bukan tidak mungkin adanya upaya sistemetis dan massive menghilangkan nyawa petugas KPPS tersebut demi menghilangkan jejak kecurangan.

 

7. Banyak Kotak Suara yang dibakar / Dibobol. Baik di dalam negeri maupun Di luar negeri.

8. Keterlibatan aparat dan institusi negara (aparat polisi, intelijen, ASN dll)

Bukti tersebut dibawanya ke Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu untuk ditindaklanjuti sebagai dugaan pelanggaran Pemilu 2019. Menurut temuan Mustafa, kesalahan terbesar ditemukan di Jawa Tengah sebanyak 7.666 TPS, Jawa Timur 5.826 TPS, Sumatera Utara 4.327 TPS, Sumatera Selatan 3.296 TPS, dan Sulawesi Selatan 3.219 TPS. Mustofa mengklaim kesalahan tersebut sangat brutal.

 "Batas toleransi kesalahan dalam sistem IT paling tinggi 0,1. Kami menemukan sampai 15,4 persen," lanjut Mustofa. Bawaslu jangan main-main dengan laporan Tim IT BPN 02 tersebut. (FF)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...