25 November 2017

Neoliberalisme Sri Mulyani-Darmin-Rini Tenggelamkan Jokowi, Sampai Kapan?

KONFRONTASI- Neoliberalisme Menkeu Sri Mulyani Indrawati (SMI), Menko Darmin Nasution dan Meneg BUMN Rini Soemarno (Rinso) sudah menenggelamkan Jokowi ke dalam  kegagalan Nawa Cita. Pertumbuhan ekonomi rendah, ekspektasi publik amblas  dan ekonomi rakyat makin mampat, daya beli merosot dan harapan rakyat bagi kehidupan yang lebih adil dan baik,  makin suram. Demikian pandangan para  analis dan peneliti independen.
Bayangkan, Meneg BUMN Rini Soemarno (Rinso) gagal  kelola BUMN.  '' Rinso bikin Bulog,Garuda, PLN, proyek kereta cepat  dan  tiga bank pemerintah merugi. Seakan dia pembawa kebangkrutan dan pembawa sial. Jokowi harus  copot Rinso kalau tak mau gagal total dan tak mau didemo rakyat/buruh dan mahasiswa secara besar-besaran. Ini negara terancam bangkrut,'' kata aktivis LSM  dan peneliti independen Lutfi Syarqawi dari kalangan muda NU.  ''Rinso, Darmin Nasution dan Sri Mulyani sama parahnya, tak kompeten, Neoliberal dan textbook, tipikal sarjana diktat,'' ujarnya.
Kinerja Rinso  jeblok. Hingga semester I-2017, ada 24 BUMN yang merugi. Nilanya mencapai Rp 5,852 triliun. Angka kerugian itu naik dari kerugian di semester I-2016 yang nilainya Rp 5,826 triliun, ungkap Hadi Rakhmad, seorang Analis Politik & Kebangsaan.
 Saat ini terjadi degradasi kepercayaan terhadap kinerja BUMN bidang infrastruktur dan konstruksi. Investor di pasar modal mengkhawatirkan kondisi cash flow BUMN tersebut yang membuat harga saham mereka jatuh.
Untuk membalikkan kepercayaan,  mungkin ada sejumlah solusi yang harus segera diselesaikan, misalnya mempercepat pembayaran utang pemerintah kepada BUMN infrastruktur dan konstruksi

Kinerja Sri Mulyani juga jeblok.Soal  pertumbuhan ekonomi yang rendah dan  pernyataan ketidak sanggupan Sri Mulyani  Indrawati (SMI) untuk membuat pertumbuhan yang lebih dari 5,1 persen, maka sebenarnya SMI telah membatasi hak-hak rakyat untuk hidup lebih makmur. Atau dengan kata lain menunda kemakmuran rakyat dan kemajuan bangsa menjadi kapan-kapan, entar besok entar besok, atau tarsok tarsok. Demikian pandangan  peneliti independen Ir Abdulrachim, mantan aktivis ITB.

Menurutnya, bukannya justru meletakkan dasar-dasarnya . SMI malah selalu berkilah bahwa pertumbuhan kita adalah yang nomor tiga setelah China dan India. Hal itu tidak benar karena Filipina 2015 tumbuh 5,9 persen, 2016 tumbuh 6,8 persen dan 2017 diharapkan tumbuh antara 6,5 - 7,5 persen, Vietnam 2015 tumbuh 6,7 persen , 2016 tumbuh 6,2 persen dan 2017 diharapkan tumbuh 6,7 persen, sedangkan Indonesia 2015 tumbuh 4,79 persen, 2016 tumbuh 5,02 persen dan 2017 diharapkan tumbuh 5,1 persen. Sangat jauh di bawah Filipina dan Vietnam.

Menurutnya, SMI hanya berani membanding pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara-negara maju di Asia yang lebih rendah pertumbuhan ekonominya. Pembandingan ini tidak fair karena memang merupakan gejala umum diseluruh dunia bahwa negara maju mempunyai pertumbuhan yang lebih kecil. Misalnya Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan Jepang untuk mengejar pertumbuhan 3-4 persen saja sangat sulit. Masuk akal kalau pekan ini Presiden  Jokowi melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya kepada para menteri ekuin karena pertumbuhan ekonomi cuma 5%.  Sedangkan  omongan besar  Menkeu Sri Mulyani dan Menko Darmin Nasution dan Tim Ekuin lainnya terbukti Cuma ‘’verbalisme kosong’’ belaka. Ekonomi stagnan, daya beli rakyat  merosot dan  korupsi merajalela serta  harapan rakyat bagi kehidupan ekonomi yang lebih baik, semakin gelap dan menuju sirna.(laporan red)

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...