Mengenang Jakob Oetama: Pentingnya Gerakan untuk Perubahan Wujudkan Demokrasi, Kemanusiaan,Keadilan Sosial dan Kebebasan

KONFRONTASI- Wafatnya Pak Jakob Oetama membuat kita semua kehilangan seorang guru bangsa lagi di bidang pers, guru yang komit dengan demokrasi sosial, kemanusiaan dan keadilan sosial. Foto kenangan di atas dimana tampak Jakob Oetama, Prof Sarbini Sumawinata (ekonom UI pertama lulusan Harvard University, AS), Bang Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI), tokoh Malari Hariman Siregar, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan lainnya, menggambarkan suasana 87 tahun ultah Prof Sarbini, guru bangsa yang menyerukan revolusi kebudayaan untuk pembangunan. Para tokoh itu perduli dan meyakini pentingnya gerakan sosial untuk mewujudkan demokrasi sosial, kemanusiaan, keadilan sosial  dan kebebasan dengan gagasan dan pemikiran  yang mendasar (revolusioner) untuk melakukan perubahan. ‘’Setiap gerakan harus berfokus pada perubahan,’’ meminjam kata-kata dr Hariman Siregar, Mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia.

Demikianlah belasungkawa kita untuk Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88), yang meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020). ''Selamat jalan Pak Jakob, kami  berduka kehilangan Bapak dan kami teruskan perjuangan Bapak sebagai tokoh pers  wartawan besar dan sosok humanisme transendental,'' demikian bisik lirihku bersama seluruh redaksi dan keluarga besar KONFRONTASI.

Saya termasuk anak muda yang pernah dididik, dilatih dan digembleng jurnalisme dalam waktu singkat oleh Pak Jakob Oetama di Lembaga Pers Soetomo Jakarta. Beliau mengajarkan jurnalisme yang menegakkan kemanusiaan, obyektif, meski dalam keterbatasan dan ketidaksempurnaan.

Saya sempat mendapat kiriman buku-buku dan bantuan finansial seperlunya dari Pak Jakob untuk memperdalam pengetahuan setelah tidak lagi bekerja di koran. Pak Jakob tahu saya anak muda pergerakan yang badung, agak keras kepala meski minderan dan doyan keluyuran selain membaca dan main music ala kadarnya. Soal bantuan itu biasa bagi Pak Jakob dan Pak P.Swantoro, sebab ketika saya berangkat riset/studi bebas ke AS, Indiana University, Bloomington, tahun 1989, mereka mengulurkan tangannya karena mereka tahu saya tak punya cukup dana, Kemudian kami juga dilibatkan sebagai partisipan Forum Indonesia Muda (FIM), bahkan anggota kerhormatan, sehingga mendapat bantuan untuk membangun Forum Indonesia Muda (FIM) di Yogyakarta bersama Eko S Dananjaya, Mas St Sularto dan Mas Julius Pour. Atas dukungan Pak Jakob, saya dan Eko yang waktu itu mahasiswa Fisip UMY dan sesama aktivis pergerakan, melaksanakan FIM di Jogja dengan baik di bawah asuhan Mas St Sularto.

Saya tahu tentang Pak Jakob sedikit banyak dari Pak Soedjatmoko dan Bang Hariman Siregar, mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa UI dan tokoh Malari 1974. Pendek kata, Pak Jakob yang saya tahu, tahun 1955 memilih/mencoblos PSI (Partai Sosialis Indonesia) pimpinan Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan bergaul dengan para tokoh PSI, termasuk Prof Sarbini Sumawinata, Prof M Sadli, Prof Sumitro Djojohadikusumo dan Pak Soedjatmoko, inteligensia seniornya dll. Sesungguhnya Pak Jakob mendapat kesempatan belajar di AS dan Eropa, namun beliau memilih berjuang dan bekerja di Indonesia, dengan komitmen kebangsaan dan keindonesiaan dan kemodernan yang kuat, dengan perilaku dan gaya hidup sahaja, khas priyayi Jawa terpelajar yang rendah hati.

Bersikap mirip Ki Hajar Dewantoro dan Soedjatmoko dalam banyak hal yaitu menghargai dan menjaga budaya tradisi dan kemodernan, mendayagunakan budaya tradisi yang baik atau konstruktif untuk modernisasi dan menegakkan martabat manusia. Pak Jakob orangnya penuh welas asih dan berwatak asah-asih-asuh, bekerja keras membangun dunia usaha di bidang media/pers sekuat tenaga, yang kemudian menghasilkan ramifikasi bisnis di luar pers yang luar biasa, hemat saya.

Dari catatan Litbang Kompas, saya ingat bahwa  Pak Jakob lulus B-1 Sejarah dengan nilai rata-rata 9, Jakob direkomendasikan memperoleh beasiswa di  Columbia University , New York, Amerika Serikat, oleh salah satu guru sejarahnya, seorang pastor Belanda, Van den Berg, SJ. Arahannya, Jakob memperoleh gelar PhD dan kelak menjadi sejarawan atau dosen sejarah.

Ia mulai bimbang, menjadi wartawan profesional atau guru profesional?

Ia sempat diterima menjadi dosen di Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, dan disiapkan rumah dinas bagi keluarganya di kota kembang itu. Unpar juga sudah menyiapkan rekomendasi setelah Jakob beberapa tahun mengajar di sana, yakni ia akan dikirim untuk meraih gelar PhD di Universitas Leuven, Belgia.

Titik balik kebimbangan itu adalah perjumpaannya dengan Pastor JW Oudejans OFM, pemimpin umum di mingguan Penabur. Suatu ketika, Oudejans bertanya kepada Jakob tentang profesi yang kelak akan ditekuninya. Jakob menjawab ingin jadi dosen. Oudejans menasihati, “Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak.”

“Itulah titik balik ke masa depan yang harus saya gulati. Menjadi wartawan profesional, bukan guru profesional,” kata Jakob.

Hingga wafatnya kemarin, Pak Jakob adalah guru bangsa, tokoh humanis, pejuang demokrasi  dan kebebasan pers di Indonesia, yang dengan caranya sendiri mampu membawa berkah bagi rakyat dan bangsa kita. Sungguh  kita kehilangan beliau.

 

 

 

Dikutip dari Kompas TV, pihak keluarga sudah datang di Rumah Sakit Kelapa Gading. Jenazah rencananya dibawa ke tempat persemayaman di Gedung Kompas Gramedia. Jakob Oetama lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931. Almarhum wafat pada usianya yang memasuki 88 tahun. Jakob Oetama mengawali kariernya pertama kali menjadi seorang guru. Namun, dia kemudian memilih jalan sebagai wartawan hingga kemudian mendirikan jaringan media terbesar, Kompas Gramedia, bersama rekannya, PK Ojong.

Perjuangan Jakob Oetama besarkan Kompas Gramedia

Saat membesarkan Intisari dan Kompas, Jakob Oetama dan PK Ojong berbagi tugas. Jakob mengurusi editorial, sedangkan Ojong di bidang bisnis.

Namun, kemudian situasinya menjadi tidak mudah bagi Jakob. Setelah 15 tahun kebersamaannya dengan Ojong membangun Kompas, Ojong meninggal mendadak dalam tidurnya tahun 1980.

Kepergian Ojong meninggalkan beban berat. Beban itu tiba-tiba terpikul di pundak Jakob.

Jika selama ini konsentrasinya adalah mengurusi bidang redaksional, ia kini juga “dipaksa” untuk mengurusi aspek bisnis.

Kenang Jakob dengan rendah hati, “Saya harus tahu bisnis. Dengan rendah hati, saya akui pengetahuan saya soal manajemen bisnis, nol! Tapi saya merasa ada modal, bisa ngemong! Kelebihan saya adalah saya tahu diri tidak tahu bisnis.”

Kerendahan hati bahwa ia tidak tahu bisnis itulah yang kemudian mengembangkan Grup Kompas Gramedia menjadi sebesar sekarang. Kerendahan hati ini pula yang membuatnya tidak merasa jemawa atas apa yang dicapainya.

Ia tidak pernah merasa kaya di antara di antara orang miskin, juga tidak merasa miskin di antara orang kaya.

Sebagai alumnus Forum Indonesia Muda (FIM) yang dibentuk oleh Kompas-LP3ES-Yayasan Paramadina dan mantan angggota kehormatan forum FIM itu, saya ingin mengucapkan''Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi Pak Jakob di sisiNya, dan selamat jalan Bapak, kami teruskan perjuangan panjenengan.''

(catatan kecil herdi sahrasad, pendidik dan pengajar senior Universitas Paramadina)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...