24 April 2019

Makna dan Pesan Simbolik Kunjungan Dubes Uni Eropa ke Markas Prabowo Subianto

KONFRONTASI- Para jurnalis dan diplomat AS/Uni Eropa di Jakarta mengisyaratkan bahwa Indonesia menyongsong perubahan. ''Jokowi sudah ditinggalkan rakyat karena ekonomi merosot,cuma 5%, padahal target Jokowi 7%. Jokowi gagal, dan rakyat menyongsong Prabowo-Sandi,'' itulah ungkapan dalam perbincangan jurnalis dan diplomat Uni Eropa dan AS di Jakarta sejak Debat Pilpres pertama.

Kegagalan kepemimpinan Jokowi, kebuntuan dan stagnasi ekonominya dengan tumpukan utang lebih Rp5000 trilyun, kebijakan Jokowi yang Ngeblok ke China (RRC), kebangkrutan banyak BUMN akibat salah urus, banyak utang dan proyek infrastruktur yang tak efisien/bocor, mendorong rakyat meninggalkan Jokowi.Kerentanan terbesar Jokowi adalah ekonomi, di mana pengembalian belum sesuai dengan janjinya. Selama kampanye 2014, Jokowi berjanji untuk memberikan pertumbuhan PDB sebesar 7% per tahun pada akhir masa jabatan pertamanya. Realisasinya sekitar 5% sejak ia menjabat. Sementara ekonomi terus merosot dan rakyat sangat kecewa. Demikian penilaian jurnalis The Economist London yang melakukan investigasi di Jakarta..

Dan semua itu sudah dicatat dan diinvestigasi oleh AS/Uni Eropa dan Jepang, seraya beri sinyal politik mendukung Prabowo Subianto demi perubahan dan Prabowo niscaya menangi Pilpres 2019 asalkan pilpres jurdil, tidak curang.

Dalam Debat pertama Pilpres kemarin seluruh dunia menyaksikan Prabowo yang unggul dan pantas jadi presiden, bukan Jokowi yang disorot televisi  melihat contekan,  amat lemah, tidak punya visi, tidak cerdas, emosionil, dan doyan menggunakan contekan.  Tak mengherankan kalau Markas besar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mendapat kunjungan dari para duta besar negara anggota Uni Eropa (UE) Jumat (18/1/2019) kemarin.  KPU/Bawaslu dan pemerintah harus jurdil dan bersih, karena Pilpres tidak boleh curang karena bakal ada People Power, perlawanan rakyat kalau sampai curang itu terjadi.. Demikianlah,  makna dan pesan simbolik para dubes Eropa itu.

Rombongan para dubes itu dipimpin oleh Duta Besar Uni Eropa Vincent Guerend. Mereka diterima oleh Ketua BPN Prabowo-Sandi, Jenderal TNI (purn) Djoko Santoso, Glenny Kairupan dan Judi Jusuf.

Turut hadir dalam rombongan tersebut sejumlah dubes negara-negara UE seperti Rumania, Inggris, Slovakia, Belanda, Italia, Denmark, Hongaria, Belgia, Spanyol, Swedia, Republik Cheska, Prancis, Portugal, Jerman, Finlandia, dan Republik Irlandia.

 

Pernyataan pers BPN Prabowo-Sandi menyebutkan pertemuan tersebut membahas sejumlah isu, diantaranya terkait kebijakan ekonomi Prabowo-Sandi khususnya terkait dengan isu reformasi pajak hingga keterbukaan bagi dunia bisnis dan investasi.

"Dalam pertemuan ini kami menekankan bahwa Prabowo-Sandi akan mengedepankan kerja sama antarnegara yang berimbang dan adil khususnya di sektor industri jasa," kata Direktur Hubungan Luar Negeri BPN Prabowo-Sandi, Irawan Ronodipuro.

Tak hanya isu ekonomi, BPN Prabowo-Sandi dan para dubes UE juga membahas isu kesejahteraan sosial seperti upaya meningkatkan daya beli masyarakat serta membuka lapangan kerja.

Polemik daftar pemilih tetap (DPT) yang diterbitkan KPU juga dibahas dalam pertemuan ini. BPN Prabowo-Sandi menyampaikan adanya potensi kecurangan pemilu lantaran DPT Pilpres 2019 tidak akurat.

"Kami menyampaikan fakta bahwa ada ancaman terhadap integritas, kejujuran dan transparansi di DPT. Kami menemukan nama-nama orang yang sudah meninggal dunia, atau nomor KTP yang tidak lengkap, tapi masih terdaftar dalam DPT," kata Irawan.

"Kami juga mendorong UE turut memantau jalannya pemilu 2019 agar berlangsung jujur dan adil demi kualitas demokrasi Indonesia yang lebih baik," lanjutnya.(mr/bns)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...