Legenda Pasar Terapung Bandarmasih

(Catatan ringan perjalanan dari T. Taufiqulhadi)

 

 

Ada pangeran belia terbuang yang mengayuh terapung-terapung di atas sampan kecil saban hari di Sungai sekitar Kuin, aliran Sungai Barito. Pangeran berusia 14 tahun ini terbuang karena ulah pamannya, Pangeran Tumenggung, yang merebut tahta Kerajaan Negara Daha. Tumenggung merebut tahta Daha setelah ayah pangeran belia tersebut mangkat.   
          Patih Masih, yang artinya patih Melayu, yang tidak puas kepada pengeran Tumenggung, memprakarsa pengangkatan kembali Pangeran Samidri atau Pangeran Samudra ini menjadi raja, bukan di Daha, tapi di Bandar Masih, yang kemudian dikenal kerajaan Banjar. Setelah pengangkatan itu, Kerajaan Banjar pun berkembang pesat dan mengatasi  Daha, kerajaan yang kini kira-kira  terletak di kampung Nagara, Kabupaten Hulu, Sungai Selatan.
          Pengeran Tumenggung yang tidak tahu bahwa raja baru di kerajaan baru itu adalah keponakannya, menjadi panas hatinya. Maka ia memerintahkan untuk melancarkan perang terhadap  kerajaan  Melayu tersebut. Perang pun meletus dengan hebat. Pertempuarannya berlangsung kebanyakan di atas sungai dan sepanjang Sungai Martapura. Lama-kelamaan Kerajaan Banjar mulai terdesak. Menyadari situasi ini, raja  Banjar, Pangeran Samudra  meminta bantuan kepada Kerajaan Mataram Islam  di Jawa. Singkat kata, setelah disetujui sejumlah kesepakatan, di antaranya Pangeran Samudra bersedia masuk Islam,  Mataram pun  mengirim bantuannya untuk membantu Kerajaan Banjar. Konon,   Karena bantuan Mataram, pertempuran menjadi berubah:  Daha terdesak.
         Karena terdesak, Pengeran Tumenggung mencari jalan  untuk menghindari Daha dari  kekalahan total. Maka dipilihlah  Patih Masih menjadi penengah. Sang patih yang tahu  kesaktian Samudra, yang kini bergelar  Sultan Suriansyah, menawarkan perang tanding di atas sampan. Rupanya, kedua pihak setuju. Pada hari telah ditentukan, kedua penguasa itu pun saling menyeberangi sungai. Perahu Sultan Suriansyah dikayuh sendiri oleh Patih Masih, sementara perahu Pangeran Tumenggung dikayuh oleh kepercayaanya, Arya Trenggara. Setelah dekat, sang paman menyadiri bahwa musuh yang akan dihadapi ini keponakannya sendiri. Ia  juga baru mengerti penderitaan sang sultan sebelum jadi raja. Pangeran Temenggung yang menyadari kesalahannya menjadi sangat terharu, dan meminta maaf. Perang tanding pun tidak jadi berlangsung. Keduanya berdamai, dan diikuti dengan penggabungan kedua kerajaan tersebut di bawah kendali Sultan Suriansyah di  Bandarmasih. Bandarmasih yayng bersatu dan makin luas, terus berkembang dengan kokoh. Hanya lama-kelamaan, karena lidah orang Banjar, nama "Bandarmasih" berubah menjadi "Banjarmasin".
       Konon di atas sungai yang sejatinya menjadi arena pertarungan dua raja tersebut, sebagai ganti menjadi pasar di atas sungai, yaitu Pasar Terapung Kuin. Jadi inilah legenda Banjar tentang asal-muasal lahirnya pasar terapung. Setelah Pasar Terapung Kuin, bermunculan pula pasar-pasar terapung lain, seperti Pasar Terapung Lok Baintan, dan lainnya.
Apakah benar atau tidak seperti legenda di atas, itu persoalan lain. Legenda adalah bagian melekat dari wisdom masyarakat setempat. Hanya, tokoh-tokoh dan tempat-tempat yang terdapat dalam legenda ini adalah nyata. Misalnya, misalnya dalam sejarah tercatat, pendiri Kerajaan Bandarmasih adalah Sultan Suriansyah. Sementara tokoh kedua,  Pengeran Tumennggung  juga hadir, yang tercatat diberi  wilayah di Batang Alai.
          Legenda tidak selalu harus menjelaskan fakta. Tetapi legenda itu biasanya akan menjadi spirit bagi suatu masyarakat untuk menegaskan identitasnya guna membangun kebersamaan.
Tidak salah, di atas kegenda itu, Banjar kemudian berkembanga menjadi kerajaan cukup besar dan tangguh. Sementara diketahui pula, di nusantara mungkin  masyarakat Banjarlah yang memiliki keunikan seperti ini: pasar terapung. Menurut para antropolog,  pasar terapung itu terjadi karena kondisi khusus, yakni kondisi alam sekitar Sungai Barito yang dihuni etnik Melayu yang suka berdagang itu. Karena faktor inilah maka kemungkinan pasar terapung di Kalimanatn Selatan itu telah muncul jauh sebelum terbentuk Kerajaan Bandarmasih (Banjar). Kondisi alam Kalimantan dan karakter orang banjar yang suka berdagang,menjadi alasan terbentuk pasar terapung.  Kondisi alam dimaksud, di antaranya, daratan Kalimantan tidak mudah dijelajahi karena tanah gambut dan rawa yang sangat luas.
          Maka penghuninya berbalik menggunakan insfrastruktur alam yang melimpah: sungai. Tanpa perlu repot dengan rute  darat, mereka tetap lancar berkomunikasi dan berhubungan melalui jalur air yang tak pernah lapuk dimakan masa ini. Di Kalimantan tidak relevan disebut banjir, selain karena jarang banjir, juga banjir tidak menghalangi mereka untuk bertransportaasi-ria ke seluruh pelosok. Justru masalah muncul jika terjadi kemarau panjang yang sangat kering. Akibatnya semua sungai jadi dangkal. Maka pada saat itu banyak wilayah di Kalimantan yang terisolasi dan banyak warga yang kekurangan sumber makanan.
         Para pedagang Melayu di awal terbentuk Banjar hingga akhir tahun 1970-an nyaris tidak pernah naik ke darat. Mereka hilir-mudik melalui jalur air yang melimpah, apakah melalui sungai-sungai  raksasa seperti Kapuas dan Barito, juga melalui sungai-sungai yang lebih kecil seperti Sungai Martapura dan lainnya.
         Di Sepanjang Sungai Martapura terlihat jejak kuat komunitas pedagang jenis ini. Di sisi kiri-kanan sungai itu, berdiri rumah-rumah warga yang menjorok ke sungai atau menghadap sungai. Toko-toko sembako tidak menghadap ke jalur darat, tapi menghadap ke jalur air. Maka sudah dapat diduga, pembelinya semua menggunakan sampan untuk sampai ke toko sembako tersebut. Jadi menjadi pemandangan biasa di Sungai Martapura dan sungai-sungai lain  yang berhulu ke Sungai Barito, Kapuas atau ke laut,  terlihat orang-orang hilir mudik dengan sampan mungil. Kebanyakannya adalah  perempuan baik yang berusia muda mau pun yang berusia lanjut. Mereka membawa barang dagangan atau hendak ke toko sembako. Ada juga yang berkunjung ke rumah tetangganya atau ke rumah saudara di kampung lain. Semua dengan sampan kecil.
          Maka demikian juga di pasar terapung yang cukup banyak di sekitar Banjarmasin itu. Setiba di lokasi, kita segera akan diserbu oleh sampan-sampan mini yang dikayuh seorang perempuan dengan muatan penuh. Dagangan ibu-ibu dalam perahu kecil itu beragam. Ada nasi kuning bungkus dengan ikan seluang atau aruan, ada bauh-buahan, mulai dari mangga, jeruk, rambutan, pepaya, manggis, sirsak hingga lai Banjar yang seperti durian. Buah lai  sama seperti durian tapi lebih kecil dan isinya berwarna merah jambu atau oranye. Meski pun tetap enak tapi tidak setajam durian baik rasa maupun aromanya. Orang bilang, lai banjar tidak mengandung kolesterol. Karena itu, orang jadi lebih lahap mencicipinya.
         Ibu-ibu yang bersemangat dan cekatan ini, begitu melihat perahu besar bertenaga disel kami mendekati pasar terapung, mereka segera menyerbu  dengan sampan itu. Dengan ramainya, mereka menawarkan dagangannya kepada kami. Caranya macam-macam ada yang berusaha menjelaskan batapa langka ikan asin yang ia bawa itu, dan tidak akan ditemukan di Jakarta. "Ikan ini hanya ada di rawa dan sungai barito dan istri bapak akan senang sekali kepada ikan asin baung ini," katanya. Kami hanya menatap dengan tidak kurang gembira. Tapi membawa ikan asin ke Jakarta sedikit perlu kesungguhan hati. Ibu sebelahnya menawarkan udang goreng yang ditusuk seperti sate.
          "Biar bapak beli, saya akan berpantun," teriak seorang nenek yang  tangkas dan bersemangat. "Pergi ke pasar membeli batik, dengan sampan bawa kesini; Adinda penjual  muda dan cantik; Abang yang tampan tolong  beli yang ini," mengakhiri pantun seraya menunjuk ke ikan seluang goreng dalam sampannya. "Siap Adinda yang cantik," jawab saya. Kami tertawa semua, dan seorang teman memborong ikan seluang, rambutan, dan buah jeruk. Sebanyak itu, harganya tidak lebih dari 100 ribu rupiah.
          Di pasar terapung yang dimulai sejak subuh dan berakhir pukul 08.00 pagi itu, pendapatan ibu-ibu itu kecil saja. Ibu Hasnah yang mengajak saya masuk ke sampan mungilnya untuk diambil foto seraya memakai topi bercaping khas Banjar, mengaku hasil dagangannya yang berupa buah-buahan dari kebun sendiri dan tetangganya itu, saban hari  Sabtu dan Minggu bisa dapat  200 ribu rupiah. Tapi di hari biasa, pendapatannya di pasar terapung jsuh lebih,  sekitar 20.000 rupiah per hari.
         Pkl 08.00, kami balik ke hotel, dengan menyusuri Sungai Martapura kembali. Kini kiri kanan-kanan sungai sudah padat aktivitas, seperti orang mandi, mencuci, dan tentu saja buang hajat. Semua di depan rumah tapi dalam kali. Saya pikir, alangkah menariknya sungai ini di tahun-tahun 1970-an ketika belum hadir diterjen dan plastik yang memassal. Meski banyak aktivitas, tapi mungkin saat itu pasti semua menarik dan aman. Kini di mana-mana orang mencuci dengan diterjen, sementara di semua tiang rumah  yang menjorok atau berada di atas ke sungai, tersangkut plastik-plastik yang demikian banyak dan merusak pemandangan. Di tempat yang sama orang mandi dan mengosok gigi.
         Belum selesai tercenung, salah seorang rekan menunjuk ke pinggir sungai, yang ramai oleh orang dan kendaraan yang diparkir. "Soto Banjar paling enak di Banjar,masin" ungkap teman saya. Semua mengangguk. Kami pun menepi sejenak. Maka sepagi itu, saya tetap bersemangat untuk ketiga kalinya: nasi kuning dengan lauk ikan aruan, sate ayam  Ibu Rahmah di sampan kecil tadi, dan terakhir soto banjar. Tapi semua tetap ueenak.

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...