Krisis Jokowi: Reformasi Dikorupsi, Jokowi Dibayang Gejolak akibat Krisis Ekonomi dan Corona. Soeharto 22 Mei ini Dijebloskan ke Jurang Kejatuhan

KONFRONTASI- Rezim Jokowi gagal dan menghadapi kekecewaan/keprihatinan rakyat yang meluas, bahkan krisis kepercayaan terus meluas pula. Ribuan Mahasiswa berunjuk rasa lantaran menganggap semangat reformasi 1998 telah dikorupsi oleh rezim saat ini .Hari ini 22 tahun yang lalu atau 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai presiden usai berkuasa kurang lebih 32 tahun. Sejak itu, Orde Baru berakhir, era reformasi dimulai. Soeharto punya dukungan kuat dari TNI/Polri dan rakyat, tapi didemo mahasiswa, sedang Jokowi tidak punya dukungan TNI/Polri dan rakyat sehingga rentan,rawan dan rapuh serta mudah jatuh kalau gejolak sosial meledak akibat krisis ekonomi dan Corona pandemi..

Ada banyak tuntutan yang menggema dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa, kala meminta Soeharto berhenti menjadi presiden. Dari mulai penindakan tegas terhadap pelaku korupsi, hingga kebebasan berpendapat di muka umum.

21 Mei, Soeharto Turun, Reformasi Dikorupsi 21 Tahun Kemudian

Setelah rezim Soeharto runtuh, berturut-turut terbit sejumlah undang-undang untuk mengakomodir berbagai tuntutan reformasi. Sebut saja UU tentang pemberantasan korupsi, UU kebebasan berpendapat, TNI, kebebasan pers dan seterusnya.

Namun, semangat reformasi di berbagai bidang dinilai sudah tak berjalan sebagaimana mestinya. Hingga kemudian muncul slogan Reformasi Dikorupsi pada 2019 lalu atau 21 tahun setelah Soeharto lengser.

Mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR sebelum Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden pada Mei 1998 

Mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR sebelum Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden pada Mei 1998. (AFP/ CHOO YOUN-KONG)
Soeharto Jatuh

Pada 21 Mei, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai presiden. Kala itu, perekonomian Indonesia hancur akibat badai krisis. Kondisi keamanan pun mencekam di berbagai daerah.

Desakan agar Soeharto mundur dari kalangan mahasiswa dan elemen masyarakat sudah terasa kuat sejak 1996. Semakin besar pada tahun 1998 atau setelah Soeharto dipilih kembali menjadi Presiden pada Maret sebagai hasil Pemilu 1997.

Pada 8 Mei di Yogyakarta, demonstrasi mahasiswa memakan korban. Dia adalah Moses Gatutkaca yang garang menyuarakan Soeharto agar lekas turun jabatan. Moses mati akibat luka oleh pukulan benda tumpul.

Pada 12 Mei, demonstrasi mahasiswa di sekitar Universitas Trisakti, Jakarta juga menelan korban. Peluru aparat membunuh Hafidin, Roiyan, Hery Hartanto, Hendriawan, dan Elang Mulya Lesmana.

Sejak itu, gerakan mahasiswa semakin membesar hingga berhasil menduduki gedung DPR/MPR pada 18 Mei 1998. Mereka menuntut MPR menggelar Sidang Istimewa.

Selain demonstrasi, penjarahan juga terjadi di mana-mana. Inflasi tinggi membuat banyak orang terkena PHK. Kehilangan pekerjaan dan kesulitan mencari uang untuk membeli makan mendorong masyarakat menjarah sejumlah tempat.

Ribuan mahasiswa menggelar unjuk rasa pada 2019 lalu dengan menyuarakan slogan Reformasi Dikorupsi

Tim Gabungan Pencari Fakta menyatakan penjarahan dipelopori oleh orang-orang tak dikenal namun tak dikenal. Mereka menyulut emosi warga untuk menjarah toko. Kemudian, mereka membakar toko dari luar saat warga sudah di dalam. Walhasil, ribuan korban jiwa berjatuhan.

Pada 20 Mei, mayoritas menteri dalam Kabinet Pembangunana VII menyatakan berhenti. Termasuk Akbar Tandjung, Ginanjar Kartasasmita dan beberapa orang lainnya. Posisi Soeharto semakin terdesak.

Lihat juga: 18 Mei 1998: Massa Duduki DPR, Harmoko Minta Soeharto Mundur
Lalu pada 21 Mei pagi pukul 09.00 WIB, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan presiden. Sontak, ucapan syukur menggema di langit. Mahasiswa dari berbagai daerah sujud lalu berulang kali meneriakkan kata merdeka.

Mereka merasa perjuangannya telah membuahkan hasil. Akan tetapi, belum berhenti. Mereka kembali berdemonstrasi lantaran tak setuju BJ Habibie melanjutkan kepemimpinan dan meminta agar pemilu dihelat selekas mungkin.
Ribuan mahasiswa menggelar unjuk rasa pada 2019 lalu dengan menyuarakan slogan Reformasi Dikorupsi 

Ribuan mahasiswa menggelar unjuk rasa pada 2019 lalu dengan menyuarakan slogan Reformasi Dikorupsi. (ANTARA/Reno Esnir)

Reformasi Dikorupsi

Selang 21 tahun kemudian, mahasiswa kembali turun ke jalan dalam jumlah yang sangat besar. Demonstrasi dilakukan di berbagai daerah terutama kota besar dengan menggunakan slogan Reformasi Dikorupsi.

Tuntutan mereka cenderung sama, yaitu menolak pengesahan RUU KPK, RKUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), RUU Minerba serta kasus kriminalisasi aktivis dan isu kerusakan lingkungan.

Di Jakarta, aksi dipusatkan di depan Gedung DPR/MPR. Mahasiswa dari berbagai jaket almamater berkumpul di sana. Meneriakkan kritik dan tuntutan bersama-sama.
Lihat juga: Singgung 1998, Aksi #GejayanMemanggil Diserukan di Yogyakarta
Mahasiswa menganggap semangat reformasi yang dicetuskan saat menjatuhkan Soeharto sudah tercoreng alias dikorupsi. Sejumlah pihak merasa pemerintah dan DPR mengabaikan semangat reformasi dan hanya mengakomodir kepentingan segelintir orang.

Demonstrasi berlangsung berhari-hari pada Bulan September 2019 di berbagai daerah. Korban luka dan jiwa berjatuhan akibat bentrok dengan aparat.

Demonstrasi mahasiswa berslogan Reformasi Korupsi berhasil menekan pemerintah dan DPR menunda pembahasan sejumlah RUU. Akan tetapi, RUU KPK tetap disahkan menjadi UU, sehingga kekecewaan tak bisa dibendung.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA