Kata Pengamat, Ada Upaya Merusak Tatanan Demokrasi di Indonesia

KONFRONTASI-Pasca-pemilihan presiden pada 9 Juli lalu, diyakini ada upaya untuk mengacaukan hasil penghitungan suara. Jika demikian yang terjadi, maka sama saja ada upaya ‎untuk merusak tatanan demokrasi di Indonesia. Hal itu diungkapkan akademisi Univeristas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Leo Agustino.

"Saya menilai, dinamika politik Indonesia sebelum dan pasca-pilpres kali ini akan menjadi preseden buruk bagi 'deepening democracy' di negara kita," tegas Leo dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (12/7).

Menurut Leo, kondisi tersebut muncul karena beberapa alasan. Yakni, adanya usaha untuk mengacaukan hasil hitungan cepat yang dilakukan lembaga survei yang kredibel, terpercaya, dan berintegritas.

"Pengacauan hasil hitungan cepat tersebut setidaknya dilakukan oleh pollster yang jejak rekamnya belum teruji dan tidak mempunyai kredibilitas dan integritas yang baik," ucapnya.

Selain itu, Leo menuding situasi yang sedang terjadi merupakan langkah terencana yang dilakukan Rob Allyn, seorang konsultan politik AS, yang berafiliasi dengan salah seorang kontestan Pilpres. "Situasi ini tentu saja dilakukannya untuk memenangkan capres yang menyewanya," kata Leo.

Menurutnya, jejak rekam Rob Allyn yang melakukan tindakan 'muddy the statistical waters' di Indonesia, sebelumnya juga pernah dilakukan di Meksiko beberapa waktu lalu. "Setidaknya ini yang saya baca informasinya dari 'kicauan' Prof Dr Marcus Mietzner," ujarnya.

Akibatnya, muncul kebingungan di level masyarakat luas, terutama pollster mana yang pantas dipanuti. Malangnya, rakyat Indonesia telah terbelah menjadi dua kelompok besar yang saling mengklaim kemenangan masing-masing jagoannya.

Belum lagi, masyarakat yang telah meyakini kemenangan 'jagonya' Rob Allyn, tentu akan 'menghukum' KPU apabila hasil real count lembaga negara itu tidak sama dengan hitung cepat pollster yang mendukung pasangan no urut 1.

"Jika situasi ini tidak diselesaikan, saya khawatir keterbelahan masyarakat yang sudah terbelah akan menjadi semakin akut," kata Leo mengingatkan.

Oleh sebab itu, hal yang terbaik adalah masing-masing capres menahan diri untuk tidak berlaku 'berlebihan' terutama di balik layar. Sebab, politik selalu menyediakan ruang bagi elite politik berlaku di front maupun back stage.

"Yang saya khawatirkan sekarang, di front stage, elite politik kita seolah-olah merasa tenang, tapi di back stage, ia melakukan aksi atau tindakan yang Machiavellis," tutupnya. (warche)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...