Kata M Qodari, Kejanggalan Data C1 di Situs KPU Masalah Besar

KONFRONTASI-Masalah terus berdatangan seusai digelarnya Pemilu Presiden 9 Juli lalu. Setelah sebelumnya saling klaim kemenangan, kini giliran data C1  yang diunggah di situs resmi kpu.go.id dinilai bermasalah. Mulai dari tidak adanya tanda tangan saksi hingga jumlah total suara yang berbeda dengan perolehan masing masing calon.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menegaskan KPU harus menangani masalah ini secara serius mengingat lembaga ini adalah satu-satunya yang resmi dan berhak untuk mengumumkan nantinya siapa yang akan menduduki kursi Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019.

“KPU perlu memberikan koreksi dan verifikasi ke publik mengenai data C1 bermasalah tersebut, mengingat ini akan berdampak besar untuk masyarakat. Semua bergantung ke lembaga ini sepenuhnya,” ujar Qodari saat dihubungi detikcom, Sabut (12/7/2014).

Lebih lanjut Qodari menekankan, KPU harus lebih selektif lagi dalam menampilkan hasil unduhan yang ada di situs resminya. Karena bila salah akan meresahkan masyarakat dan bukan tidak mungkin kesalahan pada data tersebut juga terjadi di daerah-daerah lainnya.

Sebelumnya, seorang aktivis di media sosial pada Jumat (11/7/2014) menemukan kejanggalan dalam satu form C1 yang diunggah. Kasus ini terjadi di tempat pemungutan suara 47 Desa Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten/Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Ada ketidaksesuaian data jumlah perolehan suara salah satu calon dengan jumlah pemilih di TPS tersebut. Pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa tertulis mendapatkan suara 814, sementara duet Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memperoleh 366 suara. Sedang di kolom jumlah hanya ada 380 pemilih.

Padahal, jika data perolehan suara itu benar maka jumlah pemilih semestinya 1.280. Kejanggalan lainnya adalah, tidak ada saksi dari kubu Jokowi-JK yang membubuhkan tanda tangan di formulir C1 tersebut.

Data C1 yang memuat data pemungutan suara pemilihan presiden dan wakil presiden sebagian sudah di-scan dan diunggah ke situs resmi Komisi Pemilihan Umum, kpu.go.id.

Masyarakat, khususnya saksi dari kubu calon presiden dan wakil presiden, bisa mengakses situs tersebut dan mengunduh form C1 untuk dicocokkan dengan data asli.

Sekadar diketahui, formulir C1 berisi data penting, yaitu jumlah pemilih yang terdaftar di TPS, surat suara yang dikirim ke TPS, jumlah surat suara yang baik dan rusak, surat suara yang digunakan, serta surat suara yang sah dan tidak sah. Nah, kecurangan biasanya terjadi dilakukan oknum dengan mengubah data dalam formulir C1 itu.

(warche)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...