23 November 2017

Jika Sri Mulyani Si 'Neolib Kawakan' Tidak Diganti, Berarti Jokowi yang ' Payah dan Tulalit', Kata Analis

KONFRONTASI- Jika Sri Mulyani tidak diganti, itu berarti Presiden Jokowi yang ' payah dan tolalit', kata analis dan aktivis kepada media ini kemarin. Aktivis LSM  Reinhard MSc menilai Sri Mulyani Neoliberal kawakan dan melanggar Nawa Cita/Trisakti maka harus diganti sebab kalau tidak itu berarti kemampuan Jokowi yang payak dan tidak nyandak untuk soal-soal macam ini .

Direktur Center For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi mengakui Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak memiliki terobosan. Dia dia hanya mengandalkan pertumbuhaan ekonomi yang ditopang konsumsi masyarakat.

"Dengan konsumsi ini, ekonomi kita tidak sehat dan tidak menciptakan lapangan kerja," kata Uchok dilansir RMOL, Selasa (4/7).

Inflasi pada Juni 2017, bertepatan Ramadhan dan Lebaran, diklaim lebih terkendali karena upaya pemerintah mempertahankan pasokan bahan pangan. Meski begitu, terdapat fakta yang menunjukkan kelesuan daya beli di tingkat masyarakat. Hasil penelusuran terhadap data-data lapangan dan media massa menunjukkan penjualan berbagai produk jauh menurun dibandingkan Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya.

Keluhan tentang kelesuan transaksi jual-beli pun disampaikan kalangan pengusaha ritel. Kebangkrutan bisnis ritel 7-Eleven adalah berita mengejutkan di tengah perayaan Hari Raya. Gerai yang biasa disebut Sevel itu kehilangan pasar anak-anak muda. Kalangan remaja dan pemuda kelas menengah bawah memiliki batas kemampuan beli yang merosot, bahkan hanya untuk menikmati kopi. Uang jajan extra yang dulunya bisa Rp 35.000-50.000 di kantong, kini tidak ada lagi.

Bukti penjualan yang menurun di masa jelang Hari Raya juga terlihat di pusat perbelanjaan tekstil Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penjualan rata-rata pedagang Tanah Abang diprediksi melorot sampai 30 persen dibanding tahun lalu. Kemerosotan 50-70 persen dikabarkan  terjadi merata di Blok A, B dan F. Rata-rata barang jualan Tanah Abang masih menumpuk di gudang karena tidak terjual. Pembeli dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan kawasan Afrika mulai kabur. Hasil penjualan rata-rata hanya sepertiga dari biasanya. Ada pula yang cuma mampu menjual 10 persen dari seluruh barang.

Dalam beberapa diskusi terbatas, fenomena melemahnya daya beli masyarakat dikaitkan dengan kinerja dan kebijakan Menteri Keuangan era Jokowi-JK yang baru setahun bertugas, Sri Mulyani Indrawati alias SMI. Terutama kebijakan pengetatan anggaran dan pajaknya yang super-konservatif.

Artinya, menurut Uchok, walaupun tahun 2017 konsumsi masih tetap sebagai penopang utama perekonomian, tapi kerentanan mulai muncul seperti jual beli rakyat merosot.

"Bukan tidak ada barang, pasar tetap menyediakan barang kebutuhan masyarakat. Tapi harga barang tidak bisa dibeli atau terjangkau oleh rakyat. bisa terlalu Mahal, dan juga karena pendapatan rakyat sedang merosot. semua harga harga pada naik," jelasnya.

Selain itu, tambahnya, pendapatan negara juga menurut dia tengah tersendat (lampu merah), bahkan pertumbuhan kenaikan pendapatan anggaran bisa dibilang turun. Sedangkan belanja negara, pelan-pelan merangkak naik.

"Tapi untuk saat ini, untuk peningkatan pendapatan negara, kementerian keuangan hanya punya 'obat' yang sangat konservatif untuk memdorong pertumbuhan pendapatan negara, yaitu kebijakan pengetatan anggaran dan  tax amnesty atau pajak yang super konservatif," sesalnya.

Untuk itu, Uckok mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera mencopot SMI dari posisi Menteri Keuangan dan digantikan dengan orang yang lebih mempuni kerjanya.

"Akan lebih baik Sri Mulyani ini segera diganti saja," tegasnya.

Dalam beberapa diskusi terbatas, fenomena melemahnya daya beli masyarakat dikaitkan dengan kinerja dan kebijakan Menteri Keuangan era Jokowi-JK yang baru setahun bertugas, Sri Mulyani Indrawati alias SMI. Terutama kebijakan pengetatan anggaran dan pajaknya yang super-konservatif.

Direktur Center For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi pun mengakui Sri Mulyani tidak memiliki terobosan. Dia dia hanya mengandalkan pertumbuhaan ekonomi yang ditopang konsumsi masyarakat. Untuk itu, Uchok mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera mencopot SMI dari posisi Menteri Keuangan.

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...