15 August 2018

Jika Rizal Ramli Dijegal Masuk Kabinet, maka Neolib dan Kubu JK Dominan, dan Jokowi Menuju ''Killing Ground''

JAKARTA- Kubu Jusuf Kalla dan kubu Megawati Soekarnoputri dicurigai sudah ditipu muslihat para sosok Neoliberal untuk menjegal Rizal Ramli, demikian halnya Jokowi.  Kini Jusuf Kalla dan Megawati dan Jokowi dikhwatirkan kaum relawan, sudah satu kata untuk menjegal Rizal Ramli karena  bujuk rayu dan tipu muslihat kelompok Neoliberal yang ''loyal dan selalu melayani'' kepentingan AS, IMF dan Bank Dunia. Akibatnya, Trisakti Soekarno dicampakkan, dan Revolusi Mental dibatalkan oleh Jokowi-JK sendiri ! Akibat lanjutnya, Jokowi menuju ''killing ground'' politik.  Sementara krisis energi dan pangan terus membayangi negeri ini..

Dalam hal ini, Koordinator Divisi Monitoring dan Analisis Anggaran ICW, Firdaus Ilyas mengimbau Presiden Jokowi mewaspadai intervensi mafia dalam penyusunan kabinet. Mafia yang dimaksud adalah mafia hukum, mafia energi,mafia pajak, mafia hutan dan mafia pertambangan. Kementrian yang rentan disusupi oleh mafia, diantarannya ESDM, Kemenkeu dan BUMN.

"ICW tenggarai ada beberapa kementrian dan lembaga di bawah eksekutif (Pemerintahan Jokowi JK) yang berpotensi dibajak oleh kepentingan mafia. Jika kepentingan mafia masuk melalui menterinya maka mustahil bagi Jokowi JK mewujudkan upaya pemberantasan mafia maupun mewujudkan pemerintahan yang berpihak rakyat dan bebas dari korupsi," ujar Firdaus.

Ketua KPK, Abraham Samad sebelumnya telah mewanti-wanti Presiden Joko Widodo agar tak memilih calon menteri yang telah mendapat tanda merah oleh pihaknya dan PPATK. Tanda Merah ini, menurut Abraham, berpotensi menjadi tersangka dalam sebuah kasus dugaan korupsi. Abraham menyebut posisi sang menteri tidak akan bertahan lama jika nama-nama itu dipaksakan masuk kabinet. Selain itu, Abraham pun tak segan menyebut kabinet Jokowi kotor jika masih paksakan delapan nama itu masuk.

Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) telah  menyatakan, krisis pangan yang tengah melanda Bangsa Indonesia saat ini sebenarnya telah memasuki tahap jebakan pangan (food trap). Bahkan lebih parah lagi, sudah pada tahapan ladang pembatanian (killing ground), mengingat pemerintah sangat mengandalkan impor, padahal devisanya sama sekali tidak mendukung. 

Rangkaian aksi memprotes pemerintah kini bukan hanya beras, kedelai, akan tetapi juga kebutuhan lauk pauk lainnya seperti daging dan di saat mendatang adalah peternak yang memprotes ayam karena harga pakan bakal juga naik.

Dalam kaitan ini, nama teknokrat Rizal Ramli, yang berkiprah  dengan karakter Soekano-Hatta,  makin berkibar, justru karena dialah kandidat Menko Perekonomian Jokowi yang  bakal dijegal  kubu JK, para Neolib dan Tim  Rini Sumarno-Anies Baswedan cs.  Rini dan Anies dikabarkan ''mbalelo'' terhadap Jokowi, dengan menolak masuknya Rizal Ramli ke Kabinet Jokowi-JK, sementara Rini dan Anies jelas tak punya reputasi kelas dunia seperti Rizal Ramli, mantan Demonstran ITB yang dipenjara Orde Baru itu. Berbagai kalangan sangat menyesalkan aksi Tim Transisi yang terus berusaha menjegal Rizal Ramli. Bahkan Tim Transisi dicurigai publik sebagai antek para mafia yang terus melanggengkan dominasinya di Indonesia di sektor energi dan pangan. Ketika berita ini diturunkan, Rini Sumarno cs belum bisa dihubungi.

Dr. Rizal Ramli (lahir di Padang, Sumatera Barat, 10 Desember 1954; umur 59 tahun) adalah seorang ahli ekonom-politik di  Indonesia. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional dimasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Pengagum Einstein ini sempat menikmati bangku kuliah di jurusan Teknik Fisika - Institut Teknologi Bandung, tetapi akhirnya mendapatkan gelar doktor ekonomi dari Boston University pada tahun 1990. [Baca juga: De-Industrialisasi Meluas, Ekonomi dalam Bahaya, Rizal Ramli Didorong Bantu Jokowi]

Aktivis Mahasiswa

Pada tahun 1978, sewaktu masih menjadi mahasiswa jurusan Teknik Fisika - ITB, Rizal Ramli yang berjiwa Soekarnois itu pernah dipenjara di  Sukamiskin Bandung, di mana Soekarno juga dipenjara era kolonial Belanda,  oleh rezim penguasa waktu itu. Rizal ditahan dan dipenjara sekitar 2 tahun karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah Orde Baru  yang dianggapnya telah melenceng dari cita-cita berbangsa dan bernegara.

Profesional

Sekembalinya dari Amerika Serikat setelah menyelesaikan pendidikan Doktor ekonominya, Ramli bersama beberapa orang ekonom lain seperti Laksamana Sukardi mendirikan ECONIT Advisory Group. Ketika masih aktif sebagai Managing Director Econit, Dr. Rizal Ramli dan rekan-rekannya di lembaga think-tank ekonomi independen ini sering mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah Orde Baru. Misalnya saja kritik terhadap kebijakan Mobil Nasional, Pupuk Urea, Pertambangan Freeport, dan sebagainya. Bersama dengan beberapa orang koleganya Dr. Rizal Ramli mendirikan Komite Bangkit Indonesia (KBI) dan saat ini sekaligus menjabat sebagai ketua.Baca http://www.konfrontasi.com/content/tokoh/lagi-akademisi-desak-ekonom-riz...

Kabulog

Saat menjadi Kabulog, ia juga berhasil membawa keuntungan bagi Bulog meski ia hanya memimpin selama 15 bulan. Rizal berhasil memberikan terobosan baru yang seketika mendongkrak nilai perekonomian Bulog hanya dalam kurun waktu enam bulan. Di bawah tangan dinginnya, ia membuat Bulog menjadi sebuah instansi yang lebih transparan dan accountable, misalnya dengan penghapusan rekening off-budget menjadi on-budget yang mengakibatkan angka surplus yang cukup tinggi bagi Bulog. Jelas saja itu merupakan suatu prestasi setelah krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998.

Ia juga melakukan penyederhanaan dan konsolidasi rekening-rekening Bulog yang sebelumnya berjumlah 117 rekening menjadi hanya 9 rekening saja. Selama kepemimpinan Dr. Rizal Ramli di Bulog inilah dilakukan proses restrukturisasi untuk mempersiapkan Bulog menjadi Perusahaan Umum (Perum). Kalau kita mengingat kembali hampir semua Kabulog selama menjabat pasti masuk penjara karena hampir semua terlibat kasus korupsi, karena Bulog adalah lahan basah dan mudah untuk korupsi. Sepanjang sejarah Bulog hanya 2 orang Kabulog yang tidak masuk penjara salah satunya Dr. Rizal Ramli

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian

Dr. Rizal Ramli diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada bulan Agustus 2000. Beberapa hari setelah diangkat sebagai Menko Perekonomian menggantikan Kwik Kian Gie, Dr. Rizal Ramli lalu mencanangkan 10 Program Percepatan Pemulihan Ekonomi. Program percepatan pemulihan ekonomi tersebut meliputi :

  1. Menciptakan stabilitas di sektor finansial
  2. Meningkatkan kesejahteraan rakyat di pedesaan untuk memperkuat stabilitas sosial-politik
  3. Memacu pengembangan usaha skala mikro dan usaha kecil menengah (UKM)
  4. Meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani
  5. Mengutamakan pemulihan ekonomi berlandaskan investasi daripada berlandaskan pinjaman
  6. Memacu peningkatan ekspor
  7. Menjalankan privatisasi bernilai tambah
  8. Melaksanakan desentralisasi ekonomi dengan tetap menjaga keseimbangan fiskal
  9. Mengoptimalkan pemanfaatan suberdaya alam, dan
  10. Mempercepat restrukturisasi perbankan

Mei 2001, saat mantan dosen Program Magister Manajemen Fakultas Pasca Sarjana UI ini menjabat sebagai Menteri Perekonomian juga membuat terobosan lain dengan mendorong penghapusan cross-ownership dan cross-management antara PT Telkom dan PT Indosat. Langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetisi dan mendorong kedua operator telekomunikasi nasional tersebut menjadi full service operators. Lewat terobosannya tersebut, banyak pihak menilai bahwa langkah yang dilakukan Rizal adalah langkah yang tepat sehingga dapat memberikan keuntungan bagi negara.

Rizal Ramli pernah menyelamatkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dari kebangkrutan tanpa menyuntik uang tapi melalui revaluasi asset, sehingga modal yang dari minus 9 Triliun Rupiah melonjak menjadi surplus 119,4 Triliun Rupiah. Ia juga pernah membuat PT. Semen Gresik menjadi satu dari tujuh BUMN yang paling menguntungkan dengan mencatat laba bersih dari 1,3 Triliun Rupiah menjadi 1,8 Triliun Rupiah pada tahun 2007.

Rizal Ramli dikenal sebagai "Sang Penerobos" karena ide-idenya yang tidak konvensional namun tepat sasaran, kepentingan rakyat menjadi dasar keputusannya saat menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada era pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur.

Tokoh Nasional yang Mendunia

Sebagai Seorang Ekonom Alumni Boston University, teknokrat senior yang sejak kecil anak yatim itu, juga memiliki jaringan pergaulan Internasional. Ia adalah salah satu ahli ekonomi Indonesia yang dipercaya menjadi penasehat ekonomi PBB bersama ekonom Internasional lainnya seperti peraih Nobel Ekonomi, Prof. Amartya Sen dari Harvard University, serta dua peraih Nobel lainnya, Prof. Sir James Mirrlees Alexander dari Inggris dan Dr. Rajendra K. Pachuri dari Yale University , Helen Hunt dari UNDP, Prof Francis Stewart dari Oxford University, Prof Gustave Ranis dari Yale University, Prof Patrick Guillaumont dari Prancis, Prof Nora Lustig dari Argentina, dan Prof Buarque dari Brasil.

Pada The United Nation’s Second Advisory Panel Meeting bulan Juni 2012, Rizal telah membawa enam topik makalah, yakni Prospect for the Economy and Democracy in Indonesia, Post Yudhoyono Indonesia and Asian Power, Indonesia Strategic Economic & Political Outlook and Asian Powers, Indonesia’s Economic Outlook and Asian Economic Inegration, Indonesian Democracy at The Cross Road, dan Indonesian Economy and Rule of Law under SBY Administration. Seperti panel pada pertemuan pertama, pertemuan kedua juga dihadiri oleh anggota tim ahli PBB dan para pakar pilihan dari berbagai negara.

Rizal memahami dengan baik Ekonomi Global dan sama sekali tidak mungkin ia anti Ekonomi Pasar. Lebih konyol lagi jika ia dinilai anti modal asing. Posisinya sebagai Penasihat Ekonomi PBB merupakan salah satu bukti bahwa pandangan ekonominya bisa diterima masyarakat Internasional. “Kita sudah pasti mendukung ekonomi pasar, tapi ada lima hal yang tidak boleh diserahkan kepada pasar, yakni antara lain pendidikan, kesehatan, militer, keberpihakan kepada rakyat,” kata Rizal.

“Saya sejak awal menyebutkan pentingnya kita mengimplementasikan ekonomi konstitusi,” tambah mantan aktivis ITB Bandung yang pernah dipenjara di Sukamiskin karena memprotes kebijakan pemerintah Orde Baru yang merugikan rakyat. Dalam UUD sudah cukup jelas tercantum sistem ekonomi yang harus dianut Indonesia. “Tinggal kita konsisten saja mengelaborasi UUD itu dalam UU dan peraturan pelaksanaan, dari peraturan pemerintah hingga perda. Tapi, yang sekarang terjadi, kita malah melenceng ke ekonomi neoliberal,” kata Rizal.

Untuk meluruskan kembali Politik dan Ekonomi Indonesia yang dinilainya sudah salah arah, Rizal sejak paruh pertama tahun 2000-an memimpin Indonesia Bangkit, sebuah think-thank yang secara periodic memberikan penilaian tentang situasi sosial-politik dan ekonomi Indonesia. Ia juga rajin mengunjungi desa-desa untuk mengajak masyarakat menggapai Indonesia yang lebih baik.

Sepak terjangnya di dalam negeri juga berhasil merebut simpati rakyat. Dari hari ke hari, popularitasnya terus menanjak. Di tengah “kekeringan” figur negarawan, kehadirannya mampu mengisi harapan rakyat yang menginginkan perubahan. Tapi, dikalangan elite ekonomi, khususnya para pelaku pasar keuangan, ia belum cukup dikenal secara mendalam, dan satu bukti itu adalah minimnya pemahaman mereka tentang figure kesohor ini, dimana mereka membuat penilaian yang keliru. Ke depan, Indonesia memang membutuhkan Rizal Ramli, yang menurut Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim (dua mantan pemimpin Malaysia), merupakan Tokoh Nasional  jebolan ITB yang berwawasan Internasional. Rizal Ramli ialah Negarawan yang konsisten memperjuangkan kepentingan Nasional, tapi mampu meyakinkan masyarakat dunia.(wikipedia/K)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...