24 July 2019

Istri dan Anak Gubernur Riau Digarap KPK

KONFRONTASI - Lima saksi dugaan suap Gubernur Riau Annas Maamun dalam pengajuan revisi alih fungsi hutan Riau tahun 2014 kepada Kementerian Kehutanan, Kamis 13 November 2014, akan menjalani pemeriksaan di KPK.

Mereka antara lain adalah Latifah Hanum (ibu rumah tangga), Noor Charis Putra (Pegawai Negeri Sipil), Triyanto (Ajudan Gubernur Riau), Burhanuddin (Pegawai Negeri Sipil), serta Lili Sanusi (sopir).

"Mereka diperiksa sebagai saksi untuk AM (Annas Maamun)," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK, Priharsa Nugraha.

Latifah Hanum dan Noor Charis diketahui masih mempunyai hubungan keluarga dengan Annas. Latifah merupakan istri Annas, sedangkan Noor Charis adalah putra Annas.

Selain saksi, penyidik juga menjadwalkan pemeriksaan Annas Maamun dan Gulat Manurung sebagai tersangka.

Reka ulang

Penyidik KPK diketahui hari ini melakukan reka ulang kasus yang terungkap dalam operasi tangkap tangan itu. Rekonstruksi digelar di suatu rumah di kompleks Perumahan Citra Gran Blok RC 3 Nomor 2, RT 05/RW 11, Cibubur, Jakarta Timur.

VIVAnews melaporkan, serangkaian reka adegan itu dilakukan oleh Gulat sejak mulai dari parkiran hingga masuk ke dalan rumah. Sayangnya, reka ulang di dalam rumah tidak bisa diliput lantaran ditutup oleh penyidik. Dengan dibentengi pagar dan tembok setinggi lebih dari dua meter, wartawan mencoba mengintip dari celah yang ada.

Diketahui, KPK menangkap Annas Maamun dan sejumlah orang dalam sebuah operasi tangkap tangan di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. KPK kemudian menetapkan Annas Maamun dan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia atau Apkasindo Provinsi Riau Gulat Manurung sebagai tersangka dalam dugaan suap terkait suap alih fungsi lahan hutan.

Gulat disebut mempunyai kebun kelapa sawit seluas 140 hektare di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Lahan kelapa sawit milik Gulat berada di kawasan yang tergolong hutan kawasan industri dan ingin dimasukkan ke dalam area peruntukan lainnya.

KPK menduga bahwa Annas menerima suap total sebesar Rp2 miliar dari Gulat yang terdiri atas Rp500 juta dan 156 ribu dolar Singapura.

Pada saat ditangkap, petugas KPK menemukan uang US$30.000. Namun, dalam pemeriksaan, Gulat mengaku hanya memberikan suap kepada Annas dalam bentuk rupiah dan dolar Singapura. Annas juga mengaku bahwa uang dalam bentuk dolar Amerika adalah miliknya. Tetapi, itu masih didalami KPK.

Annas disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Gulat Manurung, yang berposisi sebagai pemberi suap, disangka Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.[vv/ian]
 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...