Hukuman Mati Untuk Penyelundup 10 Kg Sabu

Konfrontasi - Terdakwa penyelundup 10 kg sabu, ESG, 42 tahun, yang juga didakwa melakukan pencucian uang dan peredaran narkotika jaringan internasional dituntut hukuman mati di Sidang Utama Pengadilan Negeri (PN) Tanjungbalai, Selasa (15/3).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ilmi Akbar Lubis didampingi Rita Suryani dan Rawatan Manik membacakan tuntutan kepada ESG berupa Pasal 114 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 subsidair Pasal 112 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan kedua atas Pasal 137 huruf a UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dan Pasal 3 jo Pasal 10 UU RI No 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Ketua Majelis Hakim, Dahlan, memberi kesempatan kepada terdakwa menanggapi tuntutan JPU. Terdakwa hanya berkata dirinya sudah tidak bisa bicara lagi dan memohon majelis hakim meringankan hukumannya.

Sidang ditunda dan kembali digelar Selasa (22/3) mendatang dengan agenda pembelaan terdakwa. ESG memiliki dua alamat domisili, yakni Jalan Nusa Indah VI Lingk IX Kelurahan Sijambi Kota Tanjungbalai dan Desa Kinangkong Kecamatan Lau Balang Kabupaten Karo.

Pria bertubuh tambun ini didakwa atas perkara pencucian uang dan penyelundupan sabu seberat 10.293,96 gram dan 174 tablet pil ekstasi asal Malaysia. Dalam menjalankan aksinya, terdakwa bersama rekan-rekannya yang sudah divonis hukuman mati, yakni Mustajab dan Sahdan (berkas terpisah) serta Reza (seumur hidup), berperan sebagai pemberi perintah kepada Sahdan menjemput sabu dan ekstasi ke Malaysia.

Terdakwa juga yang menyiapkan biaya perjalanan mulai penjemputan barang haram tersebut hingga sampai di lokasi tujuan. Untuk memuluskan penyelundupan, terdakwa melibatkan Chandra Dewa dan A. Azis (berkas terpisah perkara pencucian uang). Candra dan Azis bertugas mengatur operasional kapal dan membayarkan upah kepada Sahdan.

ESG ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 5 Agustus 2015 di Medan Johor. Sebelumnya petugas BNN menangkap Sahdan di Hotel Buluh Pagar Asahan pada 23 Juni 2015. Lalu, BNN meringkus Candra dan Azis dari dua lokasi terpisah. Candra dan Azis merupakan DPO kasus narkotika atas terdakwa Sahdan dan Mustajab yang telah divonis hukuman mati di PN Tanjungbalai.

Tim JPU, Rawatan Manik, menyatakan dua terdakwa lainnya Candra Dewa dan Azis terkait tindak pidana pencucian uang belum diajukan ke persidangan, karena berkas tuntutannya belum turun.

“Keduanya juga dengan kasus sama menunggu turunnya berkas tuntutan, kalau sudah kita akan laksanakan,” terangnya.(wspd/ar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...