Hubungan Erat Rizal Ramli dengan Masyarakat Papua: Hentikan Rasisme & Diskriminasi terhadap Papua!

KONFRONTASI-  ''Saya punya hubungan erat dan emosional lama, dan punya banyak sahabat, teman dan para ketua adat Papua. Masyarakat Papua adalah keluarga besar kita yang harus disejahterakan, bukan malah diabaikan,'' kata pemimpin bangsa Rizal Ramli (RR), yang juga begawan ekonomi.

RR pernah diberi gelar “Putra Papua” tahun 200.. oleh tokoh Papua se Jabotabeh, tokoh kedua setelah missionaris Belanda abad 18.

''Saya betul betul ingin kita selesaikan masalah Papua dengan kasih, dengan damai, dengan manusiawi. Hentikan rasisme & diskriminasi terhadap Papua. Lepaskan tahanan tahanan  politik Papua,'' ujar RR. 

Sebenarnya, warga Papua bukanlah pelaku makar atau subversif sehingga tidak boleh dipenjara hanya karena beda pendapat dengan penguasa Pusat..

Untuk itu, tokoh nasional Rizal Ramli meminta agar tindakan atau sikap yang mengarah pada rasisme di Indonesia dihentikan. Karena menurutnya, semua daerah memiliki hak dan perlakuan yang sama.

Rizal mengungkapkan, rasisme di Indonesia masih terus terjadi, terlebih diskriminasi terhadap masyarakat Papua.

“Saya punya hubungan emosional lama & banyak teman-teman Papua. RR pernah diberi gelar “Putra Papua” oleh tokoh2 Papua se Jabotabek.” Ujarnya, dalam keterangan hari ini.

Ia juga meminta terkait permasalahan yang terjadi di Papua bisa dilakukan dengan mengutamakan sisi kemanusiaan. “Saya betul-betul ingin kita selesaikan masalah Papua dengan kasih, damai dan manusiawi. Hentikan rasisme & diskriminasi terhadap Papua. Lepaskan tahanan2 politik,” tegas Rizal.

Rizal menambahkan, bahwa rasisme yang terjadi di Papua bukanlah hal baru. Mengingat daerah tersebut juga merupakan salah satu daerah yang tertinggal.

Soal Papua, Rizal Ramli Sebut Ada Tiga Langkah Solusi - Pospapua.com

“Ini kan sudah berlangsung lama, kita lihat saudara kita disana (Papua) masih banyak masyarakat miskin, dan kurangnya pemerataan dan perhatian dari pemerintah.

“Bayangkan, berapa puluh tahun mereka seperti anak tiri, jauh dari kelengkapan seperti yang ada di pulau Jawa dan lainnnya. Bukannya kita rangkul mereka, ini malah diskriminasi dengan saudara kandung sendiri, ini sangat mengganggu persatuan kita, rakyat Papua itu… orangnya dihina, emasnya dicuri, kurang sakit apa hati mereka?!” tegasnya lagi.

Diketahui sampai saat ini wilayah yang berada di Timur Indonesia tersebut sering bergejolak. “Giliran perhatian kurang, pas ada gejolak, aparat represif, kelewat tegas, padahal menyelesaikan masalah di Papua dengan humanis akan membuat saudara kita disana melunak dan bisa diajak diskusi,” tutup Rizal.

Sebagai informasi, masalah rasisme terhadap masyarakat Papua sampai saat ini masih terjadi, misalnya saja peristiwa pengepungan dan rasisme di Asrama Mahasiswa Papua di Yogyakarta pada 2016 dan di Surabaya pada 2019 hingga pecah amarah warga di beberapa wilayah di Papua dan Papua Barat bahkan sampai ke Jakarta.

Tak hanya itu, belakangan aktivis Natalius Pigai juga kerap menyuarakaan rasisme yang terjadi kepada warga Papua.

Bahkan ia juga memposting sebuah kasus yang melibatkan tujuh terdakwa kerusuhan Papua sudah digelar di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (11/2/2020) lalu.

Tujuh terdakwa yang disidangkan dengan dugaan makar yakni Alexander Gobay, Fery Kombo, Hengki Hilapok, Buchtar Tabuni, Irwanus Uropmabin, Steven Itlay, dan Agus Kossay.

Dalam sidang dakwaan, tim jaksa yang diketuai Adrianus Tomana dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua mendakwa ketujuh orang tersebut membuat penghasutan untuk perbuatan makar. “Korban rasisme dituntut pasa makar,” tegas Pigai dalam akun Twitternya. (Fel)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...