16 October 2018

Encomotion, Masa Depan Pertanian Indonesia

KONFRONTASI -   JUMLAH petani di Indonesia berkurang hingga lima juta orang selama kurun waktu 2003-2013. Nilai impor produk pertanian juga menunjukkan peningkatan hingga mencapai 58,7 miliar dolar. Data itu tidak menggembirakan bagi Indonesia yang konon hidup dari sektor agraris.

Enam anak muda berbendera BIOPS Agrotekno Indonesia menciptakan inovasi teknologi pertanian yang mereka namakan Encomotion, sebuah sistem irigasi otomatis. Meski hidup dari hasil pertanian, petani Indonesia lebih banyak bekerja secara tradisional. Termasuk urusan menyiram tanaman.

"Petani yang kami temui, ada yang menyiram tanamannya hanya berdasar feeling. Ketika menyiram tanaman, ia mendengarkan sebuah lagu. Kalau lagu itu habis, berarti sudah cukup," tutur Chief Executive Officer BIOPS Agrotekno Muhammad Fahri Riadi ketika ditemui di Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung (LPIK-ITB), Kamis 9 Agustus 2018.

Padahal secara teori, menyiram tanaman tak bisa sembarangan. Jika terlalu banyak, nutrisi tanaman akan hilang terbawa air. Tetapi jika air kurang, tanaman bisa mati. Setiap tanaman juga punya kebutuhan air yang berbeda.

"Petani selama ini juga sulit meninggalkan lahannya karena ia harus menyiram tanaman setiap hari. Bahkan ada petani yang tak sempat pergi ke undangan karena harus memantau lahannya," ujar Fahri.

 

Encomotion hadir untuk menjawab persoalan itu. Dengan menggunakan sensor lingkungan dan alat pengendali, Encomotion mampu mengairi tanaman secara otomatis tepat sesuai dengan kebutuhannya. Setiap tanaman akan mendapat air dengan jumlah yang sama dan dalam waktu yang bersamaan.

Dengan alat ini, petani bisa menghemat air hingga 40%. Waktu penyiraman juga bisa dipangkas hingga lebih dari separuhnya. Bonusnya, dengan penyiraman yang benar produksi tanaman bisa meningjat hingga 50%.

Dalam data Badan Pusat Statistik atau BPS tahun 2013, terdapat 26,3 juta petani di Indonesia. Sekira 7,8 juta petani berada di Jawa Barat. Setiap bulan, petani mengeluarkan uang untuk pupuk saja sekitar 1,5-2 juta tiap bulan.

Jika dijumlahkan di seluruh Jawa Barat, ongkos pupuk saja mencapai Rp 142 triliun per tahun.

"Dengan efisiensi tadi, biaya itu bisa dihemat sampai Rp 56 triliun. Uang itu bisa digunakan untuk yang lain. Bisa untuk ekspansi lahan atau keperluan lain untuk pengembangan pertanian," kata Fahri.

Pengembangan berkelanjutan

Efisiensi itu bukan sekadar janji. Melalui riset dan pengembangan alat terus-menerus, didapat data yang presisi untuk pengembangan perangkat keras dan lunak.

Sejak berhasil membuat prototipe pertama pada Februari 2016, kini Encomotion telah menghasilkan prototipe ketiga yang lebih canggih dari segi teknologi dan lebih ringkas pemakaiannya.

Encomotion lebih efektif digunakan untuk pertanian di dalam ruangan atau green house, khususnya untuk hortikultura atau tanaman sayur-mayur. "Sebab hortikultura ini yang sensitif terhadap air," ujar Fahri.

 

Seperangkat alat Encomotion bisa bekerja untuk luas lahan 1.000-2.000 meter persegi. Untuk luasan lebih dari itu, bisa dipasang beberapa alat.

Kini, BIOPS Agrotekno tengah mempersiapkan prototipe keempat yang dilengkapi dengan sensor angin dan tanah. Dengan tambahan dua sensor itu, Encomotion bisa digunakan untuk pertanian di luar ruangan.

"Pertanian di luar ruangan perlu memperhitungan pula kandungan air yang ada di dalam tanah, maka itu perlu sensor tanah," katanya.

Harapannya, prototipe keempat ini sudah bisa dicoba pada 2019.

Harga miring

Seperangkat Encomotion yang terdiri atas sensor dan pengendali dijual dengan harga Rp 13 juta. Harga itu jauh lebih murah ketimbang alat dengan fungsi serupa buatan luar negeri yang bisa dibanderol hingga Rp 100 juta.

Harga jual itu di luar biaya pemipaan. Pipa yang biasa digunakan semacam selang yang dibentangkan di atas tanaman. Air akan menetes di atas tanaman sesuai dengan kebutuhannya.

Petani bisa memantau seberapa banyak air yang telah disiram melalui aplikasi yang bisa diunduh dengan telepon pintar berbasis android. Jadi, petani tak perlu risau meninggalkan lahannya. Semua bisa dipantau dari jarak jauh.

Tak menggantikan petani

Tak mudah menyodorkan teknologi baru pada petani. Petani Indonesia hampir semuanya merupakan petani tradisional.

"Ketika kami beri tahu tentang alat ini, ada petani yang berpikir, kalau ada alat ini ia akan kehilangan pekerjaannya," ujar Ihsan Novandika, Chief Marketing Officer BIOPS Agrotekno.

Padahal, alat ini tak bermaksud menggantikan petani. Justru petani dimudahkan. Petani tak harus menyediakan waktu berjam-jam untuk menyiram tanaman. Tenaga mereka bisa dialihkan untuk lainnya. Misalnya pemupukan, pengolahan tanah, dan lainnya.

 

Petani juga masih ragu mencoba alat baru. Mereka ingin garansi pasti berhasil. Keraguan ini juga lantaran selama ini masih ada petani yang belum menggunakan teknologi telefon pintar.

Beruntung, pada Juni 2018, BIOPS Agrotekno bertemu Rici Solihin, petani muda di Cisarua yang bervisi teknologi. Duta petani muda yang mengelola pertanian paprika dengan merek Paprici ini mulai menggunakan Encomotion untuk mengairi 2.500 tanaman di kebunnya.

Jika sebelumnya ia menghabiskan waktu 2 jam untuk menyiram tanaman, kini cukup 45 menit. Perlu pendekatan lain agar lebih banyak petani mau mencobanya.

“Dari model bisnis, mulai tahun ini kami ada skema sewa,” ujar Ihsan.

Petani bisa menyewa Encomotion seharga Rp 600.000-700.000 per tahun. Dengan skema ini, harapannya, petani bisa tertarik membeli jika sudah merasakan manfaatnya.

Semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya, petani tradisional pun akan tertarik menggunakan alat ini.

Enam anak muda

Encomotion merupakan hasil kolaborasi enam anak muda yang berangkat dari disiplin ilmu yang berbeda.

Ada yang berasal dari jurusan bioteknologi, teknik fisika, dan teknik mesin. Lima di antaranya merupakan alumni ITB dan seorang lainnya alumni Universitas Indonesia. 

Selain Fahri dan Ihsan, mereka adalah Gendipatih, Nugroho H. Wibowo, Muhammad Maulana Malikul Ikram, dan Dally Chaerul Shaffar. Dua nama terakhir kini sedang studi di luar negeri.

“Kami dulunya teman bermain, kawan SMA. Setelah lulus kami sempat bekerja di perusahaan. Tapi kami merasa sudah cukup lah bekerja untuk korporasi, kami ingin membuat sesuatu,” kata Gendipatih selaku Chief Operating Officer BIOPS Agrotekno.

Gendi merupakan alumni UI yang kini hijrah ke Bandung demi membesarkan BIOPS Agrotekno.

Setelah berdiskusi, lahirlah gagasan yang menjadi cikal bakal Encomotion. Menggenapi timnya yang beranggotakan enam orang mereka membentuk BIOPS Agrotekno Indonesia.

Untuk memperkuat perusahaan rintisan yang terbentuk Deseber 2015, mereka bergabung dengan LPIK ITB.

Di sana mereka memperoleh berbagai pelatihan  mulai dari perencanaan model bisnis, akses pendanaan, sampai bantuan konsultasi dengan pakar.

Encomotion sepenuhnya dibuat dengan dana hasil memenangi kompetisi dan bantuan program dari Kemenritek Dikti.

Encomotion mendapat bantuan pendanaan 20.000 dolar setelah menjuarai Appcelerate Program yang digelar oleh Lintasarta.

Mereka kembali mendapat suntikan dana 5.000 dolar setelah menjadi juara 3 Swiss Innovation Challenge pada 2017.

Inovasi anak muda seperti ini menjadi harapan di tengah era industri 4.0 yang menjadikan teknologi sebagai tulang punggungnya.

Tak mudah membangun perusahaan rintisan yang memperkenalkan teknologi baru semacam ini. Meski “berdarah-darah”, mereka masih menjaga nyala mimpinya.

“Kami ingin suatu hari punya green house yang semuanya menggunakan teknologi otomatis. Kami ingin punya lahan sendiri yang bisa menjadi showroom kami,” tutur Fahri.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...