18 January 2018

Ekonomi Makin Lesu, Tim Ekonomi Kabinet Jokowi Gagal dan sangat Mandul: Akankah di-Reshuffle?

KONFRONTASI- Ekonomi Jokowi makin lesu saja. Tim ekonomi Kabinet Jokowi gagal tunjukkan kinerja yang kreatif dan optimal. Buktinya, ekspor-impor dan pengeluaran pemerintah tumbuh melambat dibanding kuartal I 2017, sedangkan konsumsi rumah tangga tumbuh nyaris stagnan. Ekonomi terus merosot dan memburuk, harga-harga pangan (sembako) naik dan energi (BBM, listrik) naik, pajak naik. Rezim Jokowi makin lembek, jadi rezim abal-abal dan amatiran. Makin terbukti penunjukan Sri Mulyani Indrawati menjadi Menteri Keuangan (Menkeu) dinilai sebagai keputusan yang meleset dan gagal penuhi ekspektasi rakyat. Terlebih lagi kinerja Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang manudl dan lembek, namun tetap dipertahankan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang juga lembek dan letoi..Kedua ekonom liberal FEUI ini membuat mules Jokowi karena pertumbuhan cuma 5%, itu jelas tak cukup dan sangat mengecewakan rakyat. Apalagi harga-harga sembako dan energi naik, rakyat pun tercekik. Jokowi tercoreng dan memikul beban neolib ini. Rezim Jokowi dengan tim ekuin yang buruk, akibatnya jadi rezim abal abal- dan amatiran. Salim Hutajulu, aktivis mahasiswa 1974, bahkan menyebut rezim Joko Widodo sebagai 'badut abal-abal'. “Rezim penguasa sekarang ini cuma badut abal-abal, yang membuat rakyat amat kecewa dan frustasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 hanya mencapai 5,01%, sama persis dengan kuartal I . Penyebabnya, pertumbuhan ekspor-impor dan pengeluaran pemerintah yang melambat, serta konsumsi rumah tangga yang nyaris stagnan.

Ketua BPS Suhariyanto mengakui pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun ini di bawah ekspektasi. Pertumbuhan ekonomi bahkan melambat dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 5,18%. "Tapi masih lumayan bagus di tengah ekonomi global yang tidak pasti," kata dia saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (7/8)

Secara rinci, ekspor tercatat tumbuh 3,36% dan impor tumbuh 0,55%, jauh melambat dari kuartal sebelumnya yaitu ekspor 8,04% dan impor 5,02%. Meski begitu, pertumbuhannya tercatat lebih baik dibanding  kuartal II tahun lalu yaitu ekspor negatif 2,2% dan impor minus 3,2%. (Baca juga: BI: Ekonomi Rentan Karena Daerah Terlalu Bergantung Pada SDA)

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,95%, nyaris stagnan dari kuartal sebelumnya yang sebesar 4,93%. Bahkan, pertumbuhannya lebih lambat bila dibandingkan dengan kuartal II tahun lalu yang sebesar 5,07%. Penyebabnya, ada penurunan pendapatan masyarakat kelas menengah ke bawah yang terlihat dari upah buruh dan tani yang turun.

Di sisi lain, masyarakat kelas menengah ke atas tampak menahan belanja. "Kalau menengah ke atas, transaksi debit masih tumbuh tinggi meski melambat. Tapi ada persentase pendapatan lebih tinggi. Jadi ada indikasi mereka menahan belanja,” kata Suhariyanto. (Baca juga: Penjualan Produsen Barang Konsumsi di Indonesia, India, Vietnam Turun)

Ia menduga, upaya menahan belanja diakibatkan oleh faktor psikologis lantaran masyarakat melihat kondisi ekonomi global saat ini dan ke depan. (Baca juga: Nasabah Ragu Ekonomi Baik, Tabungan Naik Rp 60 Triliun dalam Sebulan)

Sementara itu, konsumsi pemerintah tercatat tumbuh melambat menjadi minus 1,93%, padahal pada kuartal I mampu tumbuh 2,68%, dan pada kuartal II tahun lalu berhasil tumbuh 6,23%. Penyebab utamanya, gaji ke-13 yang beralih dari kuartal II ke kuartal III dan penurunan belanja barang.

Belanja pegawai tercatat turun 0,44% secara tahunan menjadi Rp 85,83 triliun, sedangkan belanja barang turun 7,11% menjadi Rp 62,96 triliun. Menurut Suhariyanto, penurunan belanja barang terjadi karena adanya efisiensi. Meski begitu, belanja sosial tercatat naik 18,61%.

Sementara itu, investasi atau Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh 5,35% lebih baik dari kuartal I yang sebesar 4,78% dan kuartal II tahun lalu yang hanya 4,18%. Penopangnya, belanja modal pemerintah yang meningkat. 

 

2016

2017

Q1

Q2

Q3

Q4

Fullyear

Q1

Q2

Target APBNP

Konsumsi Rumah Tangga

4,97

5,07

5,01

4,99

5,01

4,93

 4,95

5,1

LNPRT

6,38

6,72

6,65

6,72

6,62

8,02

 

Konsumsi Pemerintah

3,43

6,23

-2,95

-4,05

-0,15

2,68

-1.93 

4,6

PMTB

4,67

4.18

4,24

4,8

4,5

4,78

5.35 

5,4

Ekspor

-3,29

-2,2

-5,6

4,24

-1,74

8,04

3.36 

4,8

Impor

-5,14

-3,2

-3,7

2,82

-2,27

5,02

0.55 

3,9

PDB

4,92

5,18

5,02

4,94

5,02

5,01

5.01 

5,2

Sumber: Data BPS dan APBNP 2017

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi masih akan lebih baik dibanding kuartal I 2017, meski bedanya tidak signifikan. Alasannya, belanja masyarakat pada saat Ramadhan dan Idul Fitri tidak signifikan. Namun, nyatanya malah stagnan. (Baca juga: Konsumsi Melambat, BI Pantau Laju Ekonomi Kuartal II Sedikit Tertekan)

"Permintaan di masyarakat agak lemah," kata Gubernur BI Agus DW. Martowardojo. Meski begitu, ia optimistis pertumbuhan ekonomi di dua kuartal selanjutnya bakal membaik di atas 5,2%. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi di keseluruhan tahun bisa berkisar 5-5,4%. Adapun target peme.rintah ekonomi tumbuh 5,2%.

Optimisme tersebut dengan mempertimbangkan data-data makro ekonomi yang positif. Inflasi, misalnya, tercatat hanya sebesar 0,22% secara bulanan (month to month). Bahkan inflasi saat Ramadan dan Idul Fitri lalu tercatat sebagai yang terendah sepanjang tiga tahun terakhir. Neraca Pembayaran Indonesia dan defisit transaksi berjalan juga membaik. (Baca juga: Darmin: Inflasi Juli Rendah Karena Masyarakat Hemat Setelah Lebaran)

Selain itu, menurut proyeksi BI, ekspor juga akan membaik. Sebab, sudah mulai tampak peningkatan volume perdagangan dunia. Kenaikan itu didukung oleh perbaikan ekonomi di Cina dan Eropa, sehingga mengimbangi penurunan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan India. Ia berharap, korporasi di Indonesia bisa memanfaatkan peluang kenaikan volume perdagangan dunia.

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...