Dialog Akbar Faisal dan Rizal Ramli soal Blok Masela, dan Beda Pilihan RR dengan JK dan Sudirman Said

KONFRONTASI- Akbar Faisal  dari Nagara Institute bertanya kembali kepada tokoh bangsa Rizal Ramli soal pengembangan proyek migas Blok Masela pada 2015-2016, dimana Rizal Ramli yang kala itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman memang berdebat sengit dengan Wapres Jusuf Kalla dan Menteri ESDM pada periode tersebut, Sudirman Said.

Rizal menyarankan agar kilang LNG Masela dibangun di darat (onshore), sedangkan Sudirman dan Wapres Jusuf Kalla ingin kilang LNG dibangun lepas pantai (offshore).

Presiden Jokowi pada akhirnya memutuskan kilang LNG Masela dibangun onshore, sesuai usulan Rizal Ramli.

Rizal Ramli mengatakan bahwa pilihan ke onshore karena biaya pengembangan kilang LNG dengan skema offshore akan jauh mahal di atas USD 14-15 miliar. Sebab, proyek Floating LNG Prelude di Australia yang dikerjakan Shell mengalami pembengkakan biaya investasi dari rencana semula USD 12 miliar menjadi USD 17-19 miliar. Padahal kapasitas produksi LNG tersebut hanya 3,6 juta MTPA, lebih kecil dari Masela yang direncanakan mencapai 9,5 juta MTPA. ‘’Pengembangan di darat (onshore) jauh lebih murah sekitar 5-6 milyar dolar AS dibandingkan di laut (offshore) dan di darat akan bermanfaat bagi rakyat Maluku, apalagi  kita ingin gas itu diolah menjadi produk petrokimia sehingga ada dampak positif yang berantai,’’  kata RR

Menurut RR, Menteri ESDM Sudirman Said dan Wapres JK, tidak setuju dengan usulan/pilihannya. ''Apa yang dibilang Pak JK dalam dialog dengan Karni Ilyas itu bohong, datanya salah, tidak benar. Karena ada notulen sidang kabinet, ada tabel dan hitung-hitungannya dalam rapat kabinet, kita kan ada tim ahlinya. Kalau dikembangkan secara onshore jauh lebih murah ketimbang Offshore,'' ujar RR.

''Masela tidak jadi dibangun karena Shell di Australia rugi 9 milyar dolar AS dan Shell batalkan semua proyek floatingnya karena memang merugi.'' ujar RR. ''Floating itu bagus selama skalanya kecil, jadi habis satu lubang pindah lagi ke lubang lain,'' katanya.. 

''Padahal Shell sudah terbukti merugi dan gagal dalam proyek serupa di perairan Australa rugi 9 milyar dolar AS, Shell juga batalkan semua proyek floatingnya. Floating itu bagus untuk skala kecil,'' kata RR

Proyek Masela ini sampai sekarang belum selesai karena harga gas anjlok, harga oil anjlok dan itu hanya menarik kembali kalau harga oil kembali  ke 60 dolar AS dan gas lebih rendah. Shell harus mundur (dari Masela) karena dia nyaris bangkrut, dan kalau Inpec juga mundur malah bagus, lebih bagus kita ambil,'' ujar RR.

''Pointnya begini, Pak Sudirman Said dengan timnya ngotot offshore, tapi itu mahal sekali dibandingkan onshore, jadi Pak Sudirman Said salah itu, ''ujar RR.

''Akhirnya waktu itu saya panggil bosnya Shell, kenapa kamu mau bikin floating yang sedemikian besarnya di offshore, kamu belum pernah.  Kenapa kamu mau jadikan Indonesia ''kelinci'' percobaan? Kalau mau ke negara kaya sana dong di Norwegia,  jangan di indonesia. Dia memang masih dalam percobaan untuk floating yang besar, resiko besar termasuk kalau ada ombak gede, goyang segala macam bisa terjadi kecelakaan.  Akhirnya dia ngaku  hal itu sebagai eksperimen, percobaan, tapi karena dia punya hubungan baik di Indonesia bisa nge- golin.'' ujar RR.

''Yang kedua, yang paling penting, manfaatnya bagi rakyat Maluku jauh lebih banyak dan kita ingin sepertiga dari output gasnya diolah jadi petrocemichal agar memberi manfaat lebih banyak bagi rakyat kita. ''imbuh RR sehingga Pak Jokowi ikut Rizal Ramli. Karena Sudirman Said itu  tidak qualified, dia bukan ahlinya, dia orang jujur sebagai akuntan, tapi bukan ahlinya soal teknis seperti ini.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...