Dahsyat, Dialog Akbar Faisal dengan Rizal Ramli: Kondisi Ekonomi Jokowi Sangat Berat Sekali. Kerugian negara sekian triliun Gak Ada yang Tanggung Jawab

 KONFRONTASI- Dialog Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli dengan Akbar Faisal dari Nagara Institute sangat menarik publik.  ''Kondisi ekonomi era Jokowi ini sangat berat sekali, bahkan berbahaya. Ekonomi merosot tajam, utang bertumpuk dan untuk membayar utang maka harus ngutang lagi. Tidak ada terobosan ekonomi. Ada kerugian negara sekian triliun gak ada yang tanggung jawab ,’’ kata RR, Menko Ekuin Presiden Gus Dur. Simak dialog RR-Akbar Faizal ini: https://www.youtube.com/watch?v=dYbq2yd5AOg&feature=youtu.be

RR,sang tokoh nasional dan sang Rajawali ngepret, juga kembali mengkritik Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati soal imbal hasil atau yield obligasi negara Indonesia yang dinilainya terlalu tinggi dan merugikan rakyat. 

"Ini kinerja Menkeu “Terbalik”, semakin banyak meminjam dengan yield paling tinggi  dan menguntungkan banget  untuk kreditor, tapi merugikan rakyat dan bangsa Indonesia," kata Rizal Ramli,mantan demonstran Dewan Mahasiswa ITB, anggota keluarga besar Pesantren Tebu Ireng Jombang dan Pesantren Pondok Gontor Ponorogo.RR beberapa bulan lalu menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami minus sepanjang 2020. Pada kuartal III nanti, pertumbuhannya diproyeksi bakal negatif. Tren itu juga akan berlanjut hingga akhir tahun. "Pokoknya sepanjang tahun (2020) ini akan sekitar minus 4 (persen) ya kan, sekitar itulah," ucap dia.

Rizal Ramli Blak-blakan Soal Para Jenderal Di Lingkaran Presiden Hingga  Gatot-Habib Rizieq Untuk 2024

Padahal untuk mengatasi resesi ekonomi dan beban utang era Jokowi ini, menurut Rizal Ramli, ada banyak cara untuk mengurangi utang. Pertama debt-swap dengan bonds lebih murah dan tenor panjang dengan memanfaatkan momen yield negatif. Kedua, Debt-to-Nature Swap yaitu mengurangi utang dengan konservasi. Ketiga, dengan cara asset securitization dan restrukturisasi. Keempat, menaikkan tax ratio yang terendah 20 tahun. Kelima, meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat.

  Dalam infografis Bisnis.com tempo hari,  dalam hitungan RR tertulis imbal hasil atau yield obligasi Indonesia paling tinggi di Asia dengan angka 6,93 persen. Dalam unggahan itu tertulis pasar obligasi masih berpeluang menguat sehingga membuat yield SUN tenor 10 tahun bertahan di bawah 7 persen. Sejumlah negara tetangga menawarkan yield obligasi negara di bawah Indonesia tercatat seperti Filipina 4,68 persen, Malaysia 3,28 persen dan Vietnam 3,11 persen.

Ekonom senior Rizal Ramli pernah merespons ihwal pemerintah yang langsung tancap gas menarik utang pada awal 2020. "Tak tangung-tanggung, jumlahnya mencapai Rp 63,3 triliun. (! Alasan Rp menguat terhadap $). Penguatan Rupiah hasil ‘doping’ pinjaman. Untuk bayar utang yah ngutang lagi, Ini berbahaya," tulis dia, Senin, 13 Januari 2020.

Pada masa Gus Dur, ke 5 langkah di atas itu pernah dilakukan RR(Rizal Ramli) 2000-2001 sehingga  Utang berkurang $4,5 milyar, tax ratio naik 11,5 persen, export naik 2x, ekonomi bangkit dari -3 persen jadi +4,5 persen, gaji PNS & ABRI naik 125 persen dalam 21 bulan. ‘’Pompa daya beli rakyat yang bawah, retail hidup, GINI Index terendah. Kuncinya: inovasi & berpihak pada kepentingan rakyat banyak, rakyat bawah," kata Rizal Ramli.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan pada 9 Januari 2020 sebelumnya mencatat kepemilikan asing dalam instrumen surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 1.071,9 triliun atau 38,8 persen dari total outstanding yakni Rp 2.762,74 triliun. Secara tahun berjalan, dana asing yang masuk ke SBN sebesar Rp 10,04 triliun dari Rp 1.061,86 triliun pada akhir Desember 2019.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...