Cegah Penyebaran Paham ISIS, BNPT Gandeng Ulama

KONFRONTASI-Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melibatkan ulama untuk mengantisipasi penyebaran paham radikalime ISIS di Sulawesi Selatan.

Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT, Brigjen Pol Rudi Sufahriadi, mengatakan pihaknya sementara mengkaji hukum apa yang bisa diterapkan secara nasional untuk mengantisipasi banyaknya orang Indonesia yang berangkat ke Suriah dan Irak. Selama ini, BNPT melakukan upaya preventif dengan membina mereka yang sudah kembali ke Indonesia.

"Yang paling baik adalah mencegah agar mereka tidak berangkat kesana (Suriah dan Irak). Bahayanya, kalau mereka yang kembali membawa ajaran yang ada disana kesini. Kemudian, keahlian mereka baik dalam berperang hingga membuat bom, digunakan untuk hal yang tidak baik," kata Rudi, di sela-sela Sosialisasi Sinergitas Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Sulsel, di Ruang Pola Kantor Gubernur, Selasa (14/3).

Menurut Rudi, ada dua kemungkinan mengapa banyak yang berbondong-bondong ke Suriah dan Irak. Pertama, motif ekonomi karena mereka dijanjikan gaji yang cukup besar. Kemudian, karena mereka didoktrin untuk berjihad dan mendirikan negara Islam.

"Anggota ISIS sudah banyak, dari Pulau Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan. Karena itu, semua daerah kami awasi," ujarnya.

Sementara, anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga mantan Ketua NU, Hasyim Muzadi, mengatakan, di dunia ini ada perang terhadap terorisme. Tetapi, negara luar yang berperang terhadap terorisme memiliki banyak agenda lain, tidak sekadar masalah terorisme. Sedangkan di Indonesia, kalau menyelesaikan masalah terorisme memang hanya untuk mengatasi terorisme, tidak ada agenda lain.

"Negara lain agendanya banyak," kata Hasyim.

Untuk memberantas terorisme dan radikalisme, Hasyim mengaku selama ini pihak-pihak berkepentingan belum mengefektifkan peran para ulama. Padahal, hanya para ulama yang bisa mengurai mainset pemikiran agama yang keras itu.

"Intinya, bagaimana penguatan pemikiran Islam yang moderat itu dikumandangkan terus di segala penjuru. Sekarang kan kalah ramai dengan yang radikal," terangnya.

Sedangkan, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menilai, masalah radikalisme dan terorisme adalah sesuatu yang selalu harus waspadai. Meskipun, tidak berarti itu terjadi secara pasti di daerah kita. Semua pihak tidak boleh lengah untuk radikalisme dan terorisme karena bisa berujung pada sesuatu yang tidak mengenakkan, menimbulkan ketakutan, dan kecemasan.

"Kita sudah melihat bagaimana pengaruh ISIS di seluruh dunia. Padahal dalam Islam, saat perang kita tidak boleh bunuh perempuan dan anak-anak. Kita sudah bahas dengan para ulama dan bentuk desk di kabupaten dan kota," jelasnya.[mr/akt]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...