22 November 2019

Berbuat Baik Malah Dipidana, Novel Baswedan: Ya Inilah Negeri Kita

KONFRONTASI - Tersangka kasus dugaan penganiayaan pencuri sarang burung walet, Novel Baswedan kemarin diterbangkan ke Bengkulu. Ia menjalani pelimpahan tahap II. Pimpinan KPK pasrah.

Penyidik senior KPK itu awalnya menyambangi gedung Bareskrim Mabes Polri. Berangkat dari gedung KPK dengan Kijang Innova silver, Novel tiba di markas korps baju coklat itu pukul 10.15 WIB. ovel yang mengenakan kemeja putih garis-garis dan celana hitam serta berkalung ID card penyidik KPK, didampingi sejumlah kuasa hukumnya. Di antaranya, Saor Siagian dan Muji Kartika Rahayu.

Eks Kasatserse Polres Kota Bengkulu itu hanya sekitar satu jam di dalam gedung Bareskrim. Pukul 11.30 WIB, Novel tampak keluar melalui pintu belakang Bareskrim.

Menggunakan Innova hitam, Novel meluncur menuju Kejaksaan Agung.

Hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai ke Kejagung. Pukul 11.40 WIB, Novel sudah turun di depan gedung Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum). "Ya, ini saya mau urus (pelimpahan). Saya belum tanda tangan apa pun," kata Novel begitu melangkah keluar mobil. "Intinya diserahkan ke Kejaksaan, ke Bengkulu."

Dia berbicara sambil melangkah tergesa menuju Masjid yang terletak dekat rutan kejaksaan. Novel mengaku pasrah atas pelimpahan dirinya sekaligus berkas perkaranya oleh penyidik Bareskrim Polri ke kejaksaan. "Ya mau nggak mau. Bagi saya ini sesuatu hal, ketika saya sudah berbuat baik, ternyata ada hal yang demikian, ya inilah negeri kita," ujar Novel.

Novel pun kemudian menunaikan shalat Dzuhur. Dua penyidik mengekornya. Usai shalat, Novel menuju gedung Jampidum. Namun, dia tak masuk. Di depan gedung itu, Novel celangak-celinguk mencari mobil yang akan membawanya ke Bandara Soekarno-Hatta. Rupanya, pukul 2, dia akan diterbangkan menuju Bengkulu. Novel diarahkan pengacaranya berjalan menuju mobil yang ternyata sudah dipindahkan.

Tetiba, seorang penyidik mencengkeram lengan kanan Novel, mencoba menggiringnya masuk ke dalam mobil. Sontak, sepupu Menteri Pendidikan Anies Baswedan itu naik pitam. "Saya nggak ditahan, nggak ditangkap hari ini. Kenapa sampeyan paksa-paksa saya?" seru Novel kepada seorang penyidik Mabes Polri yang mengenakan polo shirt krem dengan nada tinggi. Raut wajah Novel tampak kesal.

Akhirnya, penyidik itu melepaskan cengkeramannya. Novel pun masuk mobil dan lekas tancap gas menuju Bandara Soetta.

Jampidum Kejagung Noor Rachmad menyebut, pelimpahan dilakukan di Kejaksaan Bengkulu karena lokasi kejadian perkara itu ada di Bengkulu.

Untuk diketahui, kasus yang melibatkan Novel terjadi pada tahun 2004 di Bengkulu. Saat itu, tim pimpinan Novel menangkap komplotan pencuri sarang burung walet. Dia dituduh menganiaya hingga salah seorang tersangka meninggal dunia.

Soal penahanan Novel, Jampidum tak mau berkomentar. Menurutnya, tim kejaksaan Bengkulu yang akan memutuskan perlu tidaknya penahanan.

Novel tiba di Bandara Bengkulu pukul 4 petang. Di sana, dia disambut Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Bengkulu Komisaris Besar Dadan. Novel dikawal ketat pihak kepolisian. Sekalipun begitu, Novel terus mengumbar senyum. Langkahnya santai menuju pintu keluar bandara. "Mau enggak mau," jawab Novel lagi. Keluar bandara, Novel langsung masuk ke dalam mobil yang membawanya ke Mapolda Bengkulu.

Plt Ketua KPK Taufiequrachman Ruki pasrah anak buahnya dibawa ke Bengkulu. Menurut Ruki, komisi antirasuah akan mengikuti prosedur hukum. Ketika P21 sudah dinyatakan oleh jaksa penuntut umum maka akan ada penyerahan tahap dua yaitu penyerahan berkas perkara dengan tersangkanya. "Prosedurnya begitu. Kita ikuti dengan betul prosedur," kata Ruki di gedung DPR, kemarin.

Ruki malah khawatir, jika Novel tidak mengikuti prosedur hukum polisi bakal menjemputnya paksa. "Kalau itu terjadi, maka secara fisik kurang baik dan akan menimbulkan friksi yang lebih jelek," tuturnya.

Menurut Ruki, Novel sebelumnya pada 23 November 2015 lalu tidak bisa memenuhi panggilan penyidik untuk pelimpahan tahap II karena sedang melakukan ibadah umrah. "Saya telepon Pak Kapolri, saya telepon Pak Jampidum, pimpinan telepon dikatakan bahwa saudara Novel sedang umrah, beliau bisa menerima hal itu," imbuhnya Ruki.

Nah, pada panggilan kedua, Ruki menginstruksikan Novel datang ke Bareskrim dengan didampingi Kepala Biro Hukum KPK Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Setiadi dan dua fungsional Biro Hukum.

Sikap berbeda ditunjukkan dua Plt Pimpinan KPK lain, yakni Johan Budi dan Indriyanto Seno Adji. Johan berharap Bareskrim Polri maupun kejaksaan tidak melakukan penahanan terhadap Novel. Johan beralasan, penahanan Novel sebagai salah satu penyidik KPK akan mempengaruhi kinerja lembaganya. Apalagi saat ini Novel sedang menjadi Ketua Satgas pada sejumlah perkara korupsi yang ditangani KPK.

Indriyanto lebih keras lagi. Menurutnya, jika Novel ditahan, hubungan antara KPK dan Polri akan kembali tidak harmonis. Dia pun meminta penahanan tak dilakukan. "Ini demi mempertahankan hubungan kelembagaan yang memang kondusif," kata Indriyanto.

Meski begitu, Indriyanto belum mau menjelaskan secara detail mengenai langkah KPK jika Bareskrim Polri tetap melakukan proses penahanan terhadap Novel.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti bilang, Novel tak akan ditahan. "Nggak, nggak, siapa bilang?" kata Badrodin di DPR. Namun, Kapolri melanjutkan, "kalau ada halangan teknis saya tidak tahu." [rm/***]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...