4 April 2020

Anies-Sandi Butuh Komitmen Moral Yang Tinggi untuk Hadapi Tantangan Berat

KONFRONTASI - Pasca dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies-Sandi dihadapkan pada kenyataan lapangan yang harus mereka hadapi sebagai pemimpin. Karena menjadi pemimpin itu memang bukan untuk bersenang-senang. Memimpin adalah menderita. Memimpin adalah pengorbanan. Apalagi janji-janji sudah terucap, maka itu menjadi hutang yang harus dilunasi. Jika tidak, maka komitmen moral sebagai pemimpin akan dipertanyakan. Ditambah  tingginya harapan masyarakat akan adanya perubahan di Jakarta. Belum lagi kritik dan bahkan serangan dari kelompok oposisi, terutama pihak-pihak yang belum siap menerima kenyataan kalah dalam kontestasi politik pilkada yang seharusnya sudah dikubur.

Tantangan teranyar adalah soal Reklamasi Teluk Jakarta. Sangat jelas Anies-Sandi menjanjikan akan menghentikan mega proyek yang kontroversial ini. Sementara Pemerintah Pusat melalui Menko Maritim sudah mencabut moratorium reklamasi hanya beberapa hari sebelum Anies-Sandi dilantik. Kenyataan ini menjadi sulit bagi Anies-Sandi. Di satu sisi Pemerintah Provinsi tidak elok berbeda sikap dengan pemerintah pusat, apalagi sampai konfrontasi. Di sisi lain janji sudah terucap, harapan publik begitu tinggi. Proyek reklamasi jelas bukan kebutuhan rakyat kebanyakan, bukan pula kebutuhan penduduk Kepulauan Seribu. Reklamasi lebih banyak kebutuhan korporasi dan kelompok elit. Patut diduga keinginan untuk meneruskan reklamasi ini syarat konspirasi senyap pemegang kendali modal dengan pemegang kendali kuasa. Maka komitmen keberpihakan Anies-Sandi akan diuji. Apakah ia akan tunduk pada kenyataan atau bertahan dengan komitmen keberpihakan pada rakyat? Atau ia memilih jalan lain, jalan kompromi misalnya?. Hanya Anies dan Sandi yang bisa memutuskan itu. 

Janji-janji lain pun menanti. Soal rumah DP 0 persen misalnya. Itu butuh formula yang jelas dan terukur. Jika hanya sekedar mengalihkan uang muka menjadi angsuran yang lebih tinggi, itu tanpa kebijakan gubernur pun bisa dilakukan oleh swasta. Pun juga soal kemacetan yang tak kunjung teratasi, butuh jurus jitu untuk mengurai. Banjir yang selalu akrab dengan Jakarta, tidak mudah untuk mengusirnya. Problem kemiskinan dan pengangguran tentu tidak pula bisa serta merta bisa diselesaikan dengan skill Sandi sebagai seorang pebisnis sukses. 

Lebih dari itu masalah kesenjangan yang kian menganga di Ibu Kota ini butuh penanganan ekstra. Soal kepemilikan lahan yang didominasi korporasi dan pemilik modal. Mall-mall dan toko-toko modern (modern mart) yang dengan mudah berdiri sampai ke kampung-kampung pemukiman warga telah melumpuhkan warung tradisional milik rakyat. Singkatnya, pemilik modal makin berkuasa, rakyat kecil makin terjepit dan tersingkir.

Fenomena ini tentu tidak cukup hanya dijawab dengan menyuruh rakyat kerja keras dan giat berusaha, walau pun itu juga sebuah keharusan. Tapi ini adalah fenomena pemiskinan yang terjadi secara struktural, melibatkan penguasa dengan kebijakan dan aneka perizinan yang dikeluarkannya. 

Hal lain yang perlu dapat perhatian serius menyangkut hajat hidup warga jakarta.  Seperti pembebasan lahan bantaran Kali Ciliwung yang akan menggusur ribuan warga dari tempat tinggalnya. Warga harus dapat kepastian "ganti untung". Jangan sampai merugikan masyarakat kecil. Belum lagi soal kerusakan moral generasi muda akibat narkoba dan kemajuan teknologi. Melepuhnya nilai-nilai agama dan budaya dalam kenyataan hidup sehari-hari. Dan tentu seabrek permasalahan lain di Ibu Kota tercinta ini. 

Semua kenyataan ini tentu mau atau tidak harus dihadapi pemimpin terpilih. Siapapun dia. Pemimpin yang benar dan idealis akan menjawabnya dengan kerja keras dan komitmen moral yang tinggi. Sebaliknya pemimpin pragmatis dan oportunis  akan mencari segudang alasan untuk berkelit.

Harapan rakyat terlanjur begitu tinggi pada Anies-Sandi. Semoga mereka dikuatkan, diteguhkan komitmen moral dan keberpihakannya pada kaum lemah dan mustadh’afin.  Semoga !

GERAKAN ANAK NEGERI (GAN)

Presidium:
Pedri Kasman
Mashuri Masyhuda
Agung Rachmat Hidayat

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...