19 August 2018

Akibat Penyanderaan Sydney oleh Aktivis Radikal, Warga Australia Curigai Muslim Indonesia

SYDNEY- Setelah foto bendera hitam bertuliskan kalimat syahadat terpampang di jendela kafe tempat penyanderaan berlangsung tersebar di media sosial dan disiarkan sejumlah televisi Australia, Senin (15/12/2014), seorang umat Muslim Indonesia kian khawatir mereka akan menjadi sasaran kecaman.

Citra Rizal, perempuan Muslim Indonesia, mengaku risau akan kecaman yang dilontarkan warga Australia seiring dengan insiden penyanderaan di Sydney. Bahkan sebelum kejadian itu, dia kerap menjadi target olok-olok.

“Yang kami takutkan adalah kami makin menjadi target kecaman, apalagi saya yang berjilbab. Kami dikata-katai, kadang diteriaki di jalan, ‘Go back to your country!’. Menurut mereka, kami tidak pantas berada di sini,” kata Citra yang sehari-hari bekerja di Sydney.

Sebagaimana dilaporkan kontributor BBC Indonesia di Sydney, Angela Dewan, sebuah bendera hitam bertuliskan kalimat syahadat sempat dikibarkan dari jendela kafe. Sejauh ini, pelaku diduga berjumlah satu orang. Kepolisian Australia mengatakan sedang berunding dengan pelaku penyanderaan.

Pihak kepolisian menolak mengungkap identitas pelaku dan berapa orang yang disandera di dalam kafe. Kawasan Martin Place, tempat kafe itu berada, telah ditutup dan dijaga ketat sehingga warga tidak bisa lalu lalang.

”Kami telah mengepung lokasi dan mengetatkan keamanan. Kami akan bekerja selama apapun untuk menuntaskan hal ini,” kata Komisaris Kepolisian Negara Bagian New South Wales, Andrew Scipione.

Pemilik kafe tempat penyanderaan menduga tempat bisnisnya itu menampung sekitar 30 orang tamu dan 10 staf ketika seorang pria bersenjata melangsungkan aksinya.

Lima orang berhasil keluar dari tempat penyanderaan dan wajah mereka memperlihatkan kelegaan begitu sampai di tempat yang ada polisinya, namun belum jelas apakah mereka melarikan diri atau dibebaskan.

Aksi teror melanda Sydney, Australia, ketika seorang pria bersenjata menyandera sebuah kafe di distrik bisnis Martin Place dengan 20 tawanan berada di dalamnya. Namun, sebelum peristiwa penyanderaan di Kafe Lindt Chocolate itu terjadi, polisi Australia telah menahan satu orang yang dicurigai terlibat aktivitas terorisme.

Dilansir dari laman AFP, peristiwa penyanderaan itu terjadi nyaris bersamaan dengan pengumuman polisi yang mengaku telah menahan pemuda berusia 25 tahun dengan tuduhan aksi terorisme. Proses investigasi masih dilakukan, tetapi polisi menyebut pemuda itu memiliki rencana untuk melakukan serangan di tanah Australia.

Polisi menyebut penahanan kepada pemuda 25 tahun itu sebagai "investigasi lanjutan dari rencana serangan teroris ke tanah Australia". Selain itu, polisi juga mengatakan, pemuda itu "memfasilitasi perjalanan warga negara Australia ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok bersenjata".

Namun, hingga saat ini belum diketahui apakah pemuda 25 tahun yang ditahan polisi itu memiliki keterkaitan dengan aksi penyanderaan di Kafe Lindt Chocolate.

Saat ini, diketahui bahwa lebih dari 70 warga negara (WN) Australia bergabung dengan kelompok Islam militan di Suriah dan Irak. Setidaknya 20 WN Australia tewas setelah bergabung dengan kelompok di Irak dan Suriah tersebut. Hal ini membuat aparat keamanan Australia bergerak cepat untuk mengatasi radikalisasi dan serangan yang terjadi di dalam negeri.  (KCM/CNN)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...