19 November 2019

Ada Upaya Sistematis Bentuk Opini Menangkan Jokowi

KONFRONTASI-Kubu Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dianggap sedang membangun opini sistematis kepada publik jika pihaknya menang dalam Pilpres 2014. Usaha tersebut mulai dari rekayasa berita penghitungan suara hingga pengerahan massa.

"Pertama, berdasarkan exit poll mereka sebarkan kabar pasangan Jokowi-JK menang telak 85 persen -15 persen dari Prabowo-Hatta di sejumlah negara seperti Arab Saudi dan Malaysia. Tujuannya untuk pengaruhi pemilih dalam negeri," ujar penasehat tim Prabowo-Hatta, Letjen TNI Pur Suryo Prabowo dalam keterangan persnya, Minggu (13/7/2014).

Dia menjelaskan, situasi sebenarnya yang terjadi setelah perhitungan resmi dilakukan pasangan Prabowo-Hatta di Jeddah memperoleh 51 persen sementara Jokowi-JK memperoleh 48 persen. Di Qatar Prabowo-Hatta mendapat 52 persen dan Jokowi-JK 42 persen. Sedangkan di Malaysia Prabowo-Hatta memperoleh 85 persen dan Jokowi-JK 15 persen.

Suryo mengatakan, di dalam negeri sejumlah lembaga survei yang dijadikan konsultan politik lakukan quick count.

"Hasilnya dibuat seragam, pasangan Jokowi-JK menang 3-5 persen dari pasangan Prabowo-Hatta," imbuhnya.

Padahal, saat itu data yang masuk baru 75 persen, dan ada quick count lain yang unggulkan Prabowo-Hatta. Bahkan, lanjutnya, mungkin karena sistemnya bocor, pada quick count mereka Prabowo-Hatta sempat unggul 3-5 persen dari Jokowi-JK.

Ketiga, lanjutnya, kemenangan quick count tersebut dengan cepat diklaim secara terbuka sebagai terpilihnya Jokowi-JK sebagai pemenang pemilu.

"Mereka deklarasikan kemenangan Jokowi-JK secara terbuka," jelasnya.

Berikutnya keempat, setelah pernyataan klaim sepihak kemenangan Jokowi-JK mereka kerahkan massa untuk memberi legitimasi sosial.

"Massanya sudah disiapkan seminggu sebelum hari pencoblosan," ungkapnya.

Kelima, lanjutnya, mereka kunci opini publik bahwa merekalah pemenang pilpres. Hasil quick count mereka yang paling benar, jika hitungan real count KPU berbeda, hitungan KPU yang salah.

"Ini seperti drama politik tentang klaim pemenang pilpres. Diatur kisahnya secara dramatis melibatkan emosi publik. Ujungnya KPU seperti dipaksa untuk memenangkan Jokowi-JK. Hanya kecurangan yang dapat mengalahkan Jokowi-JK, itulah kesimpulan drama politik ini yang mereka inginkan," bebernya.

Menurut Suryo, publik harus mengerti skenario drama politik yang jahat ini agar tidak bingung dan tersesat.

"Mereka giring opini publik ke target mereka. Kalau tidak sesuai target mereka tuduh curang. Mereka tidak siap kalah maka segala cara ditempuh untuk menang. Berbeda dengan Prabowo-Hatta, yang akan menghormati apa pun keputusan rakyat. Menang tidak akan mentang-mentang, dan kalau pun kalah tidak marah," tandasnya. (warche)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Selasa, 19 Nov 2019 - 15:01
Selasa, 19 Nov 2019 - 14:41
Selasa, 19 Nov 2019 - 14:32
Selasa, 19 Nov 2019 - 14:24
Selasa, 19 Nov 2019 - 14:20
Selasa, 19 Nov 2019 - 14:13
Selasa, 19 Nov 2019 - 13:03
Selasa, 19 Nov 2019 - 12:59
Selasa, 19 Nov 2019 - 12:56
Selasa, 19 Nov 2019 - 12:53
Selasa, 19 Nov 2019 - 12:50
Selasa, 19 Nov 2019 - 12:45