19 June 2018

Ada Empat Rapot Merah Sri Mulyani Yang Harus Diawaspadai

JAKARTA- Nama mantan menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) disebut-sebut masuk dalam 'radar' Presiden terpilih Jokowi. Sri Mulyani Indrawati (SMI) memiliki peluang besar untuk menjabat sebagai Menko perekonomian, karena dikatakan sebagian pihak memiliki kualitas. Salah satunya oleh aktivis anti korupsi Teten Masduki. yang memuji-muji kinerja SMI (9/10). Sedangkan terdapat juga pandangan dari sosiolog UGM Dr Ari Sudjito yang nyatakan bahwa akan terlalu beresiko bagi Jokowi bila memasang SMI dalam kabinetnya kelak.

"Saya sendiri cenderung setuju pada pandangan yang nyatakan bahwa terlalu beresiko bagi kabinet Jokowi untuk menggunakan SMI sebagai ujung tombak perekonomian. Bukan apa-apa, karena dalam catatan saya setidaknya ada empat catatan kritis tentang SMI yang wajib diwaspadai oleh Jokowi.", demikian disampaikan oleh peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra MA pagi ini (13/10). 

Menurut Gede, catatan pertama tentang SMI adalah tentang peningkatan utang luar negeri yang jumlahnya cukup signifikan semasanya menjabat di pemerintahan SBY tahun 2005 hingga 2010, yaitu dari sebesar Rp 1.313 ke Rp 1.676 trilyun. Selain itu, menjelang di ujung jabatannya di tahun 2010, SMI sangat terkenal di kalangan investor asing sebagai menteri keuangan yang gemar memberi imbal hasil yang tinggi bagi kepemilikan obligasi negara (4,32%), bahkan di antara negara-negara di kawasan Asia Timur seperti Filipina (3,89%) dan Korea Selatan (4,15%). Hal ini, menurut sebagian Ekonom senior, berpotensi merugikan Indonesia secara finansial di masa depan.

"Kedua adalah tentang keterkaitan SMI di Skandal Century. SMI memiliki peran yang sangat besar dalam Skandal kontroversial ini karena hadir pada rapat KSSK pada tanggal 21 November 2008 untuk penentuan status Bank Century sebagai bank gagal yang harus diberikan dana talangan. KPK masih belum meningkatkan status hukum SMI karena diduga  terdapat campur tangan oknum penasehat KPK yang simpati terhadap SMI."

Ketiga adalah tentang keterlibatan SMI dalam Skandal Pajak Bos Ramayana Paulus Tumewu yang sempat ramai di DPR pada April 2010. Pada tahun 2006, selaku menteri keuangan SMI diduga kuat membantu penggelapan ratusan milyar pajak taipan yang saat itu (2006) merupakan orang terkaya ke-14 di Indonesia versi majalah Forbes. Kasus inilah yang kabarnya merupakan penyebab dari hengkangnya SMI dari Indonesia sebagai kompromi politik. 

"Catatan keempat, meskipun orang tua SMI kabarnya merupakan nasionalis PNI, tidak ada yang meragukan bahwa ekonom UI ini merupakan keturunan ideologis Mafia Berkeley yang dipimpin Widjoyo Nitisastro. Jokowi harus menolak lupa, bahwa sesungguhnya adalah Mafia Berkeley bersama Angkatan Darat pimpinan Suharto dkk lah yang menggulingkan Pemerintahan Bung Karno dan kemudian menjadi arsitek ekonomi Orde Baru selama 32 tahun. Kini merekalah yang menjadi garda terdepan membela paham neoliberalisme yang bertentangan dengan konstitusi kita.", tutup Gede Sandra, alumnus ITB dan FEUI .***

Category: 
Loading...