16 December 2019

3 Alasan Bali Tidak Layak Dikunjungi pada Tahun 2020 Versi Fodor

KONFRONTASI -    Bali masuk dalam daftar No List 2020 yang dirilis oleh Fodor’s Travel. Baca juga: Bali Tak Layak Dikunjungi Tahun 2020, Ini Respon Gubernur dan Himpunan Dalam daftar tersebut, media wisata asal Amerika Serikat tersebut menyatakan pertimbangan mereka untuk tidak mengunjungi Bali pada 2020. Pertimbangan itu muncul bukan tanpa alasan, salah satunya karena dampak dari pariwisata masal. Baca juga: Bali Disarankan Tidak Dikunjungi pada 2020 oleh Media Wisata AS Dalam situsnya,

 

Fodor’s Travel menyatakan Bali telah menderita efek pariwisata massal dalam beberapa tahun terakhir. Berikut 3 alasan Bali tidak layak dikunjungi pada tahun 2020 versi Fodor’s Travel:

 

1. Sampah Pada tahun 2017, Bali dinyatakan sebagai kawasan darurat sampah lantaran banyaknya sampah plastik di perairan dan pantai. Sampah dapat menggangu ekosistem biota laut di perairan. Tak itu saja, sampah yang berserakan akan memudarkan keindahan obyek wisata. Dikutip dari Fodor’s Travel, Badan Lingkungan Hidup di Bali mencatat bahwa pulau itu menghasilkan 3.800 ton sampah setiap hari, dengan hanya 60 persen berakhir di tempat pembuangan sampah. Menanggapi hal tersebut Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan bahwa Bali terus berbenah untuk masalah sampah.

Salah satu realisasinya adalah menetapkan pembatasan sampah plastik sekali pakai melalui Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Baca juga: Turis di Bali Keluhkan Masalah Sampah dan Macet

2. Kelangkaan air bersih Devils Tear di Nusa Lembongan, Bali Devils Tear di Nusa Lembongan, Bali(Shutterstock) Pesona Pulau Dewata memang menakjubkan. Tak ayal, banyak turis yang rela datang dari luar kota, bahkan luar negeri. Ramainya turis, membuat menjamurnya hotel dan penginapan di seluruh Bali. Namun jarang diketahui, jika hal ini berdampak negatif terhadap tersedianya air bersih. Baca juga: Hotel Strategis di Tepi Laut Canggu Bali Pernyataan dari Fodor’s Travel mengacu dari salah satu tulisan di VICE. Dikutip dari VICE, pelaku utama yang menyebabkan kelangkahan air bersih adalah industri pariwisata. Sebanyak 65 persen air tanah di pulau itu digunakan oleh sektor pariwisata. Studi-studi menemukan bahwa, kamar hotel dan villa mengkonsumsi sekitar 3.000 liter air setiap hari.

 

3. Perilaku tidak sopan wisatawan Perilaku turis kerap kali bertentangan dengan aturan adat dan norma kesopanan Bali. Beberapa perilaku yang sempat heboh seperti mengunjungi situs budaya dengan mengenakan pakaian renang hingga memanjat situs-situs suci. Beberapa bulan lalu, misalnya, sempat viral turis Ceko yang mencipraktkan air suci dari Pelinggih yang ada di kawasan Monkey Forest Ubud, Bali ke bagian bokong perempuan. Akibatnya, kedua turis itu terkena sanksi adat. Baca juga: Dianggap Melecehkan Air Suci Bali, Dua Turis Asing Dihukum Adat Tanggapan Wagub Bali dan PHRI Badung Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Arta Ardana Sukawati alias Cok Ace Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Arta Ardana Sukawati alias Cok Ace (Kontributor Bali, Imam Rosidin) Sementara itu,

 

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Arta Ardana Sukawati alias Cok Ace menilai, pemberitaan media asing yang menyebut Bali tak layak dikunjungi pada 2020 merupakan sesuatu yang berlebihan. Menurutnya, hal tersebut tak elok untuk diungkapkan. "Jadi apa yang diungkap kemarin di suatu majalah di Amerika tersebut terlalu berlebihan menurut saya," kata Cok Ace, kepada wartawan usai Upacara Peringatan Puputan Margarana di Tabanan, Rabu (20/11/2019). Ia menyebut, selama ini Bali sudah sering sekali mendapat penghargaan di dunia internasional. Bali juga tak berhenti untuk terus meningkatkan kualitas pariwisatanya. Hal tersebut dibuktikan dengan keluarnya aturan-aturan, salah satunya untuk pengendalian sampah plastik. Namun, Cok Ace akan menjadikan pemberitaan tersebut sebagai bahan koreksi untuk pariwisata Bali. Baca juga: Media Amerika Sarankan Bali Tak Dikunjungi 2020, Wagub: Sangat Berlebihan Sementara itu, dikutip dari Tribunnews.com,

 

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Pariwisata (PHRI) Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya mengaku cukup prihatin dengan pemberitaan Fodor's Travel. "Saya prihatin wacana seperti ini akan kian menjerumuskan Bali, apalagi belakangan ranking Bali tidak menjadi nomor satu di dunia," imbuhnya. Solusi jangka pendek, PHRI Bali dan seluruh kabupaten/kota akan berkoordinasi dengan pemerintah dan stakeholder terkait. "Saya juga rencana ketemu dengan Konjen Amerika ihwal ini, dalam waktu dekat. Sehingga bisa mendapatkan solusi meredam isu seperti ini,” tegasnya


(Jft/Kompas)

Bali masuk dalam daftar No List 2020 yang dirilis oleh Fodor’s Travel. Baca juga: Bali Tak Layak Dikunjungi Tahun 2020, Ini Respon Gubernur dan Himpunan Dalam daftar tersebut, media wisata asal Amerika Serikat tersebut menyatakan pertimbangan mereka untuk tidak mengunjungi Bali pada 2020. Pertimbangan itu muncul bukan tanpa alasan, salah satunya karena dampak dari pariwisata masal. Baca juga: Bali Disarankan Tidak Dikunjungi pada 2020 oleh Media Wisata AS Dalam situsnya, Fodor’s Travel menyatakan Bali telah menderita efek pariwisata massal dalam beberapa tahun terakhir. Berikut 3 alasan Bali tidak layak dikunjungi pada tahun 2020 versi Fodor’s Travel: 1. Sampah Pada tahun 2017, Bali dinyatakan sebagai kawasan darurat sampah lantaran banyaknya sampah plastik di perairan dan pantai. Sampah dapat menggangu ekosistem biota laut di perairan. Tak itu saja, sampah yang berserakan akan memudarkan keindahan obyek wisata. Dikutip dari Fodor’s Travel, Badan Lingkungan Hidup di Bali mencatat bahwa pulau itu menghasilkan 3.800 ton sampah setiap hari, dengan hanya 60 persen berakhir di tempat pembuangan sampah. Menanggapi hal tersebut Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan bahwa Bali terus berbenah untuk masalah sampah. Salah satu realisasinya adalah menetapkan pembatasan sampah plastik sekali pakai melalui Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Baca juga: Turis di Bali Keluhkan Masalah Sampah dan Macet 2. Kelangkaan air bersih Devils Tear di Nusa Lembongan, Bali Devils Tear di Nusa Lembongan, Bali(Shutterstock) Pesona Pulau Dewata memang menakjubkan. Tak ayal, banyak turis yang rela datang dari luar kota, bahkan luar negeri. Ramainya turis, membuat menjamurnya hotel dan penginapan di seluruh Bali. Namun jarang diketahui, jika hal ini berdampak negatif terhadap tersedianya air bersih. Baca juga: Hotel Strategis di Tepi Laut Canggu Bali Pernyataan dari Fodor’s Travel mengacu dari salah satu tulisan di VICE. Dikutip dari VICE, pelaku utama yang menyebabkan kelangkahan air bersih adalah industri pariwisata. Sebanyak 65 persen air tanah di pulau itu digunakan oleh sektor pariwisata. Studi-studi menemukan bahwa, kamar hotel dan villa mengkonsumsi sekitar 3.000 liter air setiap hari. 3. Perilaku tidak sopan wisatawan Perilaku turis kerap kali bertentangan dengan aturan adat dan norma kesopanan Bali. Beberapa perilaku yang sempat heboh seperti mengunjungi situs budaya dengan mengenakan pakaian renang hingga memanjat situs-situs suci. Beberapa bulan lalu, misalnya, sempat viral turis Ceko yang mencipraktkan air suci dari Pelinggih yang ada di kawasan Monkey Forest Ubud, Bali ke bagian bokong perempuan. Akibatnya, kedua turis itu terkena sanksi adat. Baca juga: Dianggap Melecehkan Air Suci Bali, Dua Turis Asing Dihukum Adat Tanggapan Wagub Bali dan PHRI Badung Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Arta Ardana Sukawati alias Cok Ace Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Arta Ardana Sukawati alias Cok Ace (Kontributor Bali, Imam Rosidin) Sementara itu, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Arta Ardana Sukawati alias Cok Ace menilai, pemberitaan media asing yang menyebut Bali tak layak dikunjungi pada 2020 merupakan sesuatu yang berlebihan. Menurutnya, hal tersebut tak elok untuk diungkapkan. "Jadi apa yang diungkap kemarin di suatu majalah di Amerika tersebut terlalu berlebihan menurut saya," kata Cok Ace, kepada wartawan usai Upacara Peringatan Puputan Margarana di Tabanan, Rabu (20/11/2019). Ia menyebut, selama ini Bali sudah sering sekali mendapat penghargaan di dunia internasional. Bali juga tak berhenti untuk terus meningkatkan kualitas pariwisatanya. Hal tersebut dibuktikan dengan keluarnya aturan-aturan, salah satunya untuk pengendalian sampah plastik. Namun, Cok Ace akan menjadikan pemberitaan tersebut sebagai bahan koreksi untuk pariwisata Bali. Baca juga: Media Amerika Sarankan Bali Tak Dikunjungi 2020, Wagub: Sangat Berlebihan Sementara itu, dikutip dari Tribunnews.com, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Pariwisata (PHRI) Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya mengaku cukup prihatin dengan pemberitaan Fodor's Travel. "Saya prihatin wacana seperti ini akan kian menjerumuskan Bali, apalagi belakangan ranking Bali tidak menjadi nomor satu di dunia," imbuhnya. Solusi jangka pendek, PHRI Bali dan seluruh kabupaten/kota akan berkoordinasi dengan pemerintah dan stakeholder terkait. "Saya juga rencana ketemu dengan Konjen Amerika ihwal ini, dalam waktu dekat. Sehingga bisa mendapatkan solusi meredam isu seperti ini,” tegasnya

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "3 Alasan Bali Tidak Layak Dikunjungi pada Tahun 2020 Versi Fodor", https://travel.kompas.com/read/2019/11/20/181500727/3-alasan-bali-tidak-layak-dikunjungi-pada-tahun-2020-versi-fodor?page=all.
Penulis : Albert Supargo
Editor : Kahfi Dirga Cahya
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...