22 July 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (39

Episode 22        

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

 

 

 

Bagian Pertama

 

22

 

Situasi perang di selatan masih memperlihat bara api yang cukup kuat. Antara usainya perang Paderi Tahun 1837, dimana dikuasainya  seluruh  Minangkabau dan Tapanuli Selatan, menyebabkan terbelahnya Tanah Batak menjadi dua. Saat Minangkabau jatuh, Imam Bonjol tertangkap dan seluruh kekuatan Muslim Minangkabau pun takluk, maka dikuasai pula  daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang  Bolak, Angkola, Sipirok, pantai barus dan kawasan Sibolga. Semua daerah Muslim di Tanah Batak yang ditaklukkan Belanda dan semu harus tunduk kepada pemerintahan Kolonial Belanda di Padang,ibu kota Minangkabau.

Dengan terpecahnya daerah Batak pada 1837, menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah di sebutkan di atas, daerah itu disebut “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden”, dengan seorang Residen yang berkedudukan di Sibolga yang secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang,


Daerah Batak yang masih merdeka dan tak dapat ditaklukkan kaphe –kaphe Belanda adalah: Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, menjadi daerah  yang merdeka. Kaphe-kaphe Belanda menyebut dengan ‘De Onafhankelijke Bataklandan’.

Tetapi dalam perbenturan antara  Batak dan Minangkabau, ada Iblis di tengah-tengahnya yang hendak mengadu – domba suku besar ini agar terus berada dalam perundungan yang tiada habisnya. Maka di sinilah mulai masuknya upaya-upaya zending untuk semakin memperlebar jarak luka yang sudah ada di antara dua suku ini.

Daniel Perret, seorang ahli etnografi mengemukakan  bahwa istilah “Batak” adalah sebuah  identitas yang sengaja dimunculkan di era kolonialisme di daerah Sumatra Utara. Bahkan orang  Sumatera Utara sebndiri tidak mengenal istilah “Batak” ini merupakan sebuah upaya  segregasi sosial. Perret mengemukakan bahwa  ada kesengajaan istilah “Batak”  dimunculkan untuk memecah belah  antar suku di wilayah utara pulau Sumatera ini.  Bila dicermati secara seksama, etnis Batak sering diidentikkan  sebagai etnis Kristen, padahal banyak dari kalangan etnis ini yang menjadi  penganut agama Islam.

Sisingamangaraja XII yang naik ke tampuk kekuasaan sebagai raja Negara Toba, Samosir dan Tapian-nauli (untukmenyebutkan nama lain dari “BataK”) sejak 1867,  melarang kehadiran para zending di tanah Batak, terutama di dataran tinggi Toba.  Sisingamangaraja menyatakan  bahwa kehadiran mereka *agama) adalah  alat pemerintah kolonial untuk menganeksasi tano-tano Batak yang sangat kaya dengan hasil alam dan tambangnya. Bahkan Sisingamangaraja XII berjuang selama 30 tahun adalah menentang kehadiran  para penginjil sekilagus pula pemerintah kolonial Belanda. Ternyata Sisingamangaraja benar, berdasarkan laporan resmi lembaga penginjilan Jerman Rheinische Missions-Gessellschaft di Sumatera untuk tahun 1869 dan 1871, saat Batakmission mengundang Gubernur Pantai Barat Sumatra Arriens menjelang Natal 1868, misionaris-misionaris dari Jerman itu mengambil  kesempatan “menggunting dalam lipatan”. Para misionaris itu  mendukung sepenuhnya penjajahan  tanah Batak.

 

Pada titimangsa 1877, 4 tahun seusai perang Aceh, Sisingamangaraja XII yang dikenal sebagai Muslim yang taat itu bekerjasama dengan Aceh guna mengusir para misionaris yang dicurigai berat sebagai sebagai pelopor kekuasaan Belanda. Pada titimangsa Januari 1878 para misionaris diusir dari wilayah kekuasaan  Sisingamangaraja.

Inilah yang menyebabkan para misionaris meminta bantuan kepada tentara kaphe-kaphe  Belanda untuk menundukkan Sisingamangaraja. Uli Kozok mengutip pendapat lain bahwa, para misionaris bukan hanya berperan mendampingi tentara kaphe-kaphe  Belanda, tgetapi menghancurkan  semangat perjuangan rakyat Batak demi  memuluskan upaya penjajahan di wilayah Batak oleh kaphe-kaphe Belanda.

 

“Ekspedisi itu sangat berhasil dan berlangsung dengan sangat cepat pula – dari awal Februari hingga akhir Maret. Ekspedisi itu begitu luar biasa berhasil karena Silindung menjadi pangkalan yang sangat aman [bagi tentara Belanda], dan karena tentara dipandu dan dinasihati oleh para misionaris yang sangat mengetahui masyarakat Batak dan daerahnya. Dukungan dan bantuan para misionaris yang mendampingi ekspedisi militer hingga ke Danau Toba juga mempunyai tujuan yang lain, yaitu meyakinkan bahwa perlawanan mereka sia-sia saja dan mendesak mereka agar menyerahkan diri”.

Daniel Perret dalam disertasinya mengungkapkan, berdasarkan masukan dari J.T. Cremer, seorang anggota Tweede Kamer, pengembangan agama Kristen di “Batak” memiliki fungsi yang cukup strategis bagi penguasa kolonial Belanda. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa dengan berpindah agama menjadi Kristen, orang “Batak” tidak akan menimbulkan masalah bagi penjajah Kolonial. Berdasarkan latar belakang ini maka keputusan mendirikan misi segera diambil. Apalagi keberadaan Islam yang mulai masuk ke Tano Batak, adalah sebuah potensi bahaya bagi kepentingan penjajahan kaphe-kaphe Belanda.

 

Hal yang bisa menjelaskan bahwa Kristenisasi menguntungkan bagi pemerintah Kolonial ini dapat pula dilihat dari beberapa perintis penginjilan seperti Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864). Menurut Prof. Dr. Uli Kozok, akademisi Jerman yang banyak melakukan penelitian di Sumatra Utara, Junghuhn mungkin merupakan orang pertama yang menganjurkan penginjilan dilakukan di Batak. Menariknya dokter yang tertarik pada dunia botani dan geologi ini merupakan tokoh anti-Kristen dan cukup liberal untuk ukuran orang pada jaman itu. Junghuhn menganjurkan adanya penginjilan sebab ia mencoba “memperkenalkan agama kontra Islam”. Pencegahan agar Islam tidak masuk dan berkembang di Batak merupakan “kebijakan yang teramat penting”

Misionari seperti Junghuhn berpendapat bahwa  orang Batak harus dikristenkan agar dibentengi dari  pengaruh Islam yang hakikatnya bersifat anti-Belanda .Upaya ini semua nantinya bermuara untuk menjepit Aceh dari selatan.  Bagaimanapun upaya penjajahan Tano Batak, akhirnya bermuara pula ke tano Aceh sebagai sasaran terakhir dari kolonialis kaphe-kaphe Belanda terakhir di Hindia Bdelanda. Betapa susahnya bangsa kaphe dari Belanda inimenaklukkan daerah yang luasnya antara Istambul sampai ke London itu. Sehingga segala upaya dijalankan, apakah penyebaran Injil, penyebaran kekuasaan dan akhirnya tanpa ampun - apakah ia suku bangsa Muslim atau bukan, sama-sama dihanguskan dalam eksploitasi yang akut melewati abad-abad yang penuh perampokan dan penjarahan yang sangat telanjang.Sebagaimana terjadi di Filipina oleh penjajah Spanyolyang kemudian digantikan oleh penjajah Amereika Serikat yang sama saja kejamnya dalam meningas bangsa Filipina. Aceh, rupanya takbisa mereka beli hatinya, juga tak mampu mereka beli ketangguhan perjuangan mereka dalam menentang  kolonialisme akut yang sudah mendarah daging disebagian besar masyarakat Asia.(BERSAMBUNG)                                                             

Category: 
Loading...