Saida Rouli Menjadi Muallaf, dan Mondok di Pesantren Muallaf Jakarta

KONFRONTASI -    “Segala yang dilakukan dari hati, akan masuk ke dalam hati.” Itulah kira-kira perumpamaan yang tepat untuk perjalanan hijrah yang dialami Saida Rouli. Perempuan asal Medan ini menemukan jalan hijrahnya melalui pesan-pesan yang disampaikan kakak tercintanya.

Bulan November lalu Saida menemukan hidayahnya dengan menjadi muallaf. Proses perpindahan yang ia alami berawal dari kakak kandungnya yang telah lebih dulu berhijrah ke jalan Allah. “Kakak selalu menceramahi saya dan sempat meminta saya untuk mencari tahu tentang Islam,” ujar perempuan berusia 24 tahun ini.

Menurut Saida, sang kakak memintanya mencari tahu tentang Islam agar ia dapat mencintai Islam secara perlahan. “Saya melihat kakak setelah masuk Islam perilakunya jadi lebih baik, cara berbicara dan berpakaian juga lebih santun,” ungkapnya pada Rabu (24/5).

Awalnya, menurut Saida, ia tak ingin berpindah keyakinan. Bukan hal mudah baginya untuk meninggalkan ajaran yang dibawanya sejak lahir. Tak hanya itu, kampung tempat Saida tinggal pun mayoritas beragama non muslim. “Kalau saya pindah agama, saya pasti akan dicela dan tidak akan dianggap lagi,” paparnya.

Diambang keraguan, Saida diajak sang kakak untuk berpindah ke Aceh, tempat di mana ia akan mudah belajar Islam dan diterima oleh masyarakat. Namun setelah banyak perbincangan dan pertimbangan, kakak Saida memberinya pilihan untuk ke Aceh atau ke Jakarta dan ia pun memutuskan untuk ke Jakarta.

Bukan hal mudah bagi Saida untuk berpindah keyakinan. Saida harus pergi jauh meninggalkan suaminya, ia pun harus menerima berbagai celaan dari keluarga sang suaminya. Dalam pencariannya tentang Islam, Siada juga harus mengajak kedua anaknya ke Ibukota.

“Anak kedua saya juga meninggal dua bulan lalu,” ungkap Saida sendu. Dengan kepergian sang anak menambah cacian dan makian yang dilontarkan untuknya dari pihak sang suami kepadanya. Oleh keluarga pihak suami ia dianggap terkena kutukan karena telah mengkhianati Tuhan.

“Anak kamu meninggal itu adalah hukuman dari Tuhan karena kamu telah mengkhianatiNya,” tegas seorang dari keluarga suaminya. Saida mengaku saat ini ia sedang tidak berhubungan dengan suaminya, ia merasa saat ini dirinya harus berfokus belajar Islam.

Meskipun celaan datang dari banyak orang, Saida makin mengukuhkan hati untuk lebih jauh mengenal Islam. Kini Saida tinggal di Pesantren Muallaf An-Naba Center Indonesia. Di pesantren tersebut ia menemukan teman-teman yang senasib seperti dirinya.

“Di pesantren ini kami diajarkan mengenai Islam lebih mendalam,” ungkapnya saat ditemui dalam kegiatan Bina Lanjut Muallaf yang diadakan Dompet Dhuafa di pesantren muallaf tersebut.

Lebih lanjut, Saida menambahkan, di pesantren muallaf saat ini dirinya lebih diajarkan untuk mendalami akidah.  Hal tersebut berguna untuk menguatkan kepercayaan terhadap Islam. “Sekarang saya juga belajar Iqra,” jelasnya.

Ramadhan kali ini bagi Saida adalah pengalaman berpuasa kali pertamanya. Perbedaan kebiasaan ketika Ramadhan, harus bersahur dan menahan lapar, menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk perempuan kelahiran 24 tahun silam.

Saida berharap dengan perpindahan kepercayaannya memeluk Islam, kedua orang tuanya dapat mengikuti langkahnya percaya kepada Allah Swt. “Saya sudah mencoba mengajak orang tua, dan mereka hanya menjawab, anak-anak mama saja dulu yang selamat,” tambahnya. (jft/Dompet Dhuafa)
.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...