11 December 2018

Mengingat Kisah Buah Apel dan Pengantin yang Lumpuh

Dikisahkan dalam Sejarah Islam, Seorang Pemuda Alim bernama Abu Shalih.

Dia adalah Keturunan Ke-12 dari Rasulullah SAW., dari Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib as-Sibthi RA.

Dia berasal dari Desa Jilan Iraq.

Suatu Siang, saat Abu Shalih tengah berdzikir di Pinggir Sungai, dilihatnya Kumpulan Buah Apel yang Hanyut terbawa Aliran Sungai.

Segera Dia mengambilnya Sebuah, dan memakannya.

Namun tiba-tiba, Dia berhenti mengunyah dan merasa bersalah.

”Aku telah Mencuri, Buah ini pasti ada yang memiliki. Aku harus menemui dan meminta Maaf pada Pemilik Pohon Apel yang Buahnya telah Ku Makan tanpa Seizinnya”, katanya dalam Hati.

Abu Shalih lalu berjalan menyusuri Sungai, hingga menemukan Pohon Apel tersebut.

Segera Dia menemui Pemilik Pohon Apel itu untuk meminta Maaf.

Pemilik Pohon Apel itu bernama Syeikh Abdullah, Beliau adalah Keturunan Rasululullah SAW. dari Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib RA.

Beliau adalah Seorang Waliyullah yang sangat disegani pada Masa itu.

Saat Abu Shalih menyampaikan Permintaan Maaf, Syeikh Abdullah merasa Senang dan Takjub akan Kebersihan Hati Pemuda Jilan ini.

Beliau lalu bermaksud ingin mengangkat Abu Shalih sebagai Santrinya, namun tidak secara Transparan Maksud itu disampaikan.

”Baiklah, karena Kau telah mencuri Buah Apel Ku, maka Kau harus Bekerja di Ladang Ku selama 12 Tahun”, kata Syeikh Abdullah.

Tanpa banyak bertanya, Abu Shalih langsung menyanggupinya. Dia lalu Bekerja sekaligus Belajar Agama kepada Beliau.

Setelah 12 Tahun Abu Shalih membayar Kesalahannya, Dia lalu menemui Syeikh Abdullah untuk menanyakan, apakah Permintaan Maafnya sudah dapat diterima.

Bukan Pernyataan bahwa Maafnya telah diterima, Syeikh Abdullah justru memberinya sebuah Tugas Baru.

”Aku akan menerima Permintaan Maafmu, bila Kau bersedia Ku Nikahkan dengan Putriku, Seorang Wanita yang LUMPUH, BUTA, TULI, dan BISU ”, kata Syeikh Abdullah.

Seperti biasa, Abu Shalih tidak banyak bertanya. Dia langsung menerima Amanah tersebut, dengan Harapan Permintaan Maafnya diterima, Tiga Hari kemudian, dilangsungkanlah Akad Nikah dan Walimatul 'Urs (Syukuran), antara Abu Shalih dengan Putri Gurunya.

Pada Malam Harinya, ketika hendak memasuki Kamar Pengantin, Abu Shalih terdiam sejenak.

" Ya Allah, Aku pasrahkan Hidup dan Mati Ku hanya pada-Mu”, Doanya dalam Hati.

Dengan perlahan diketuknya Pintu Kamar Pengantin tersebut, lalu Dia membukanya dan Masuk sambil mengucapkan Salam.

Sang Pengantin Wanita menjawab Salamnya.

Abu Shalih terkejut, Seorang Wanita berparas Cantik, datang menghampiri dengan Senyum menghiasi Wajahnya.

Sembari meminta Maaf, Abu Shalih lalu keluar dari Kamar.

Merasa telah salah masuk Kamar, Dia kemudian mencari Istrinya di Kamar yang lain, namun tidak juga ditemuinya.

Akhirnya Abu Shalih mendatangi Syeikh Abdullah untuk menanyakan dimanakah Istrinya berada.

"Wahai Guru, bolehkah Saya bertanya, dimanakah Istriku berada?”, tanya Abu Shalih dengan Ta’dzim.

" Ya di dalam Kamar Pengantin”, jawab Syeikh Abdullah sembari Tersenyum.

”Tetapi Wanita yang Ku temui di Kamar itu, tidak seperti yang dikatakan Guru.

Dia TIDAK BISU dan TULI, Dia menjawab Salam Saya.

Dia juga TIDAK BUTA, justru Matanya Cantik sekali. dan Diapun TIDAK LUMPUH, Dia malah menghampiri Saya, saat memasuki Kamar”, jelas Abu Shalih masih dengan Wajah Kebingungan.

Melihat Kebingungan Abu Shalih, Syeikh Abdullah malah Tertawa.

Lalu Beliau berkata : “Wahai Abu Shalih, memang itulah Putriku, Namanya Ummu Khair Fathimah.

Ku katakan Dia LUMPUH, karena Dia tak pernah menjejakkan Kakinya ke Tempat Maksiat.

Dia BUTA, karena tak pernah Melihat Hal yang Haram.

Dia TULI, karena tak pernah Mendengar Hal yang Khurafat (Buruk).

dan Dia BISU, karena tak pernah berkata yang Mubadzir (Sia-sia)”.

Mengertilah Abu Shalih, bahwa Amanah menikahi Putri Gurunya, adalah Ungkapan Kasih Sayang dan Rasa Bangga Syeikh Abdullah padanya. Karena Kesabaran dan Kemuhasabahannya pada Guru dan Amanahnya, Allah memberikan kepada Abu Shalih Amanah yang Penuh Anugerah.

Dari Pernikahan ini, Abu Shalih dan Ummu Khair Fathimah dianugerahi Seorang Putra Bernama ABDUL QADIR.

Kelak setelah Dewasa, Putranya ini Masyhur sebagai Seorang Waliyullah, SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI.   Sedangkan Abu Shalih sendiri, dikenal dengan Nama Syeikh Abu Shalih Musa Jankai Dausat al-Jailani (Berasal dari Jilan).

"Sementara beberapa Orang berusaha menjaga Amanah, ada segelintir Mereka justru bermain-main dengan Amanah.

"Sementara beberapa Orang merasa Anugerah adalah Amanah, ada segelintir Mereka justru menganggap Amanah adalah Anugerah.”

(Syeikh Abu Shalih Musa Jankai Dausat al-Jailani). 1/2/2018. R.. khoiri.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...