20 June 2018

Menatap Geliat Islam di Papua

KONFRONTASI -  Siapa sangka masyarakat Muslim Nuu Waar ternyata sangat bersemangat dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Salah satu perintah yang paling kentara dilaksanakan masyarakat Nuu Waar adalah memupuk Ukhuwah Islamiyah. Nuu Waar, atau lebih akrab dengan sebutan Papua, dikenal memiliki masyarakat yang keras, antagonis. Namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Warga Muslim Papua memiliki akhlaq yang mulia. Akhlak mulia tersebut lebih-lebih mereka tunjukkan saat menyambut kedatangan saudara Muslim mereka yang dari luar Papua. Meski dari ras yang berbeda, tak mengurangi keramahan yang mereka ungkapkan. Saling sapa, jabat tangan dan melempar senyuman jadi tradisi Muslim Papua.

Keramahan Muslim Papua bahkan bisa dibilang lebih dari orang Jawa, yang warganya dikenal ramah. Di Jawa, belum pernah penulis menemukan orang yang menghormati tamu hingga membawakan barang bawaan. Paling hanya bilang ‘gawanane dokok ten mejo mawon, Mas’ (barangnya taruh di meja saja, Mas). Keramahan Muslim Papua mungkin tak ada duanya.

Perkara lain yang sangat diperhatikan bagi warga Muslim Papua adalah shalat. Dalam lima waktu shalat, masjid selalu ramai. Baik anak-anak, pemuda, maupun orang tua. Di Fakfak, Papua Barat, Masjid Agung Baitul Makmur menjadi pusatnya. Masjid ini cukup luas, dengan kubah berwarna emas dan tembok bercat putih. Tempat ini juga menjadi pusat kaderisasi generasi Muslim, misalnya dengan lomba ‘Anak Hebat’ yang digelar Al-Fatih Kaafah Nusantara (AFKN) yang bertujuan mengakrabkan masyarakat Muslim dengan masjid.

Sebelum masuk waktu Shubuh, beberapa bapak-bapak sudah bersimpuh di lantai masjid menggunakan kaos dan sarung, sebagian lain berjubah. Melaksanakan Shalat Tahajud di sepertiga malam terakhir. Mereka terlihat khusyuk dalam Shalat Tahajud hingga adzan dikumandangkan. Ayat Al-Quran juga dilantunkan dengan merdu dan fasih. Bahkan, saat listrik padam, mereka menyalakan genset listrik demi menerangi masjid.

Untuk urusan pendidikan Islam, warga Muslim Papua sangat bersemangat. Para orang tua berharap agar anak-anak mereka menjadi generasi Muslim yang baik pada masa yang akan datang. Beberapa dari mereka menyerahkan anak-anak agar dididik oleh AFKN. Tak masalah akan pergi dari kampung halaman dalam waktu yang sangat lama, asal bisa menjadi dai-dai di masa depan, untuk menyebarkan Islam di tanah Papua.

Sebagai contoh, ayah dari Hamzah Qiyati Baraweri. Ia meminta kepada AKFN untuk mendidik Hamzah dengan tegas.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak Ustadz Fadlan karena telah mendidik anak saya. Karena kalau tidak dididik oleh ustadz, tidak mungkin anak saya bisa menjadi imam di masjid jami’ Fakfak. Kalau ada kesalahan anak saya, saya bersedia dia dihukum. Terserah ustadz,” ujarnya.

Minimnya dai di Papua membuat para warga Muslim minim pula dalam belajar agama Islam. Ayah Hamzah sendiri mengaku bisa mendidik membaca Al-Qur’an, tapi tidak bisa mengajarkan arti Al-Qur’an. Inilah mengapa ia serahkan Hamzah ke Pesantren AFKN.

Apa yang dilakukan masyarakat Papua di atas tentu bisa kita jadikan contoh. Bagaimana seharusnya memuliakan tamu dengan totalitas. Lalu mendekatkan diri dengan masjid dan mengajak keluarga untuk melaksanakan shalat. Dan bagaimana melakukan pendidikan terhadap anak-anak untuk menjadi orang yang bermanfaat baik agama maupun bangsa di masa yang akan datang.

Dan yang perlu dicatat, tulisan ini bukan untuk merendahkan masyarakat satu dengan yang lain. Tapi bagaimana, kita sebagi Muslim mencontoh perilaku baik dari saudara Muslim yang lain. Atau bahkan bisa lebih baik dari yang dicontoh. Inilah yang diajarkan Al-Qur’an kepada kita. Berlomba-lomba dalam kebaikan.(Jft/KIBLAT)

Category: 
Loading...