23 November 2017

Memahami TitipanNya, Karunia dari Surga

Oleh: Raidah Athirah

 

“Anak-anak harus tahu bahwa ia adalah sebuah keajaiban, karena sejak awal dunia diciptakan, hingga dunia berakhir, tidak akan ada satupun seorang anak yang menyerupainya,” (Pablo Casals).

KETIKA takbir berkumandang di Masjid Warsawa, saya tengah memegang erat tangannya menyusuri trotoar di sepanjang Blue City di ibukota negeri ini. Abu Aisha kupersilahkan duduk tenang di dalam Masjid mengucap kalimat takbir, tahmid dan tahlil di hari kemenangan di antara kumpulan Muslim yang datang hari itu.

Hari raya tahun ini adalah hari raya spesial karena pada akhirnya kami menemukan terang dari titik juang selama musim ke musim terhadap kondisi putri kami yang tak kami ketahui.

Orang mengira bahwa kami orang tua luar biasa. Sama sekali tidak! Putri kami adalah keajaiban luar biasa. Ia membawa kami melangkah untuk memahami cinta yang luar biasa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Hari raya pada tahun-tahun lalu kami lalui dengan kecemasan. Kami dilanda khawatir manakala perilaku putri kami di luar kontrol. Bila marahnya tak bisa dikendalikan, ia tak segan memukul dirinya sendiri. Sebuah tindakan yang kami tak mengerti. Ada rasa bersalah dan kebingungan kala ia tak merasa tertarik bermain dengan anak-anak yang lain. Sekalipun terlihat di luar ia bermain bersama, beberapa menit kemudian ia akan memisahkan diri.

Energinya seakan tak berkurang, ia meloncat beberapa menit kemudian suara tawa cekikan terdengar riuh darinya. Ia seperti tak tahu kapan harus berhenti sekalipun tubuhnya sudah sangat dilanda kelelahan.

Malam-malam berlalu penuh perjuangan. Sebagaimana orang tua lainnya, kami berikhtiar agar ia sudah terlelap pada pukul delapan malam. Lampu sudah dimatikan. Ia sudah kami suapi dua jam lalu supaya tidak terbangun di tengah malam. Kenyataannya, jarum jam sudah bertengger di angka satu malam ia masih sibuk berjalan ke dapur. Menit berlalu ia kembali melangkah ke ruangan mengatur mainan puzzle yang belum selesai. Terkadang,ia meletakkan mainan dalam rumpun warna yang sama.

Itu adalah sebagian kecil hari -hari yang kami lalui sebagai rutinitas. Di titik lelah, kami berdoa Allah,Tuhan Yang Maha Rahman, membimbing dan menunjukkan kami jalan sabar dan cahaya berupa ilmu untuk lebih mamahami dunia dimana putri kami tinggal.

Dunia yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Dunia yang memiliki jalannya sendiri. Dunia yang dipenuhi jiwa-jiwa ketulusan. Kami menyaksikan bagaimana putri kami menjauh kala ibu mertua kami sedang dihinggapi rasa marah. Di hari yang lain, kami mengunjungi ibu mertua dan menyaksikan bagaimana ia merespon dengan mengecup pipi beliau. Sebuah respon yang berbeda dari sebelumnya.

Ia senang memandang air. Warna api juga merupakan hal yang sangat menarik baginya. Ia bisa meloncat kegirangan bila menyaksikan warna api menyala-nyala. Sifatnya lembut dan pemalu tapi kalau merasa terganggu ia menjadi marah dan agresif. Terkadang ia memeluk anak-anak lain yang ia temui di taman. Hanya anak-anak.

Ia bisa membaca rasa. Bila bertemu dengan orang dewasa, ia membaca bagaimana mimik wajah mereka. Beberapa saat kemudian, tangan kanan ia ulurkan sebagai tanda salaman. Sebaliknya bila ia tak suka, pergelangan tanganku akan ditarik untuk menjauh.

Ia senang mendengar lantunan ayat suci Al-Quran. Di akhir surah Al-Fatihah yang selalu kami bacakan kepadanya, bibir mungilnya selalu menyebut kata “Aamiin”. Bismillah terdengar hanya berupa “Millah”. Dan nama Allah terdengar jelas.

****

Putriku.

Namanya Aisha Pisarzewska terlahir di ibukota Warsawa pada musim manakala daun-daun berguguran ke tanah. Musim yang mengajarkan kepada kami bahwa anak yang kami lahirkan sesungguhnya hanya titipan.

Ia tunas yang dipercayakan kepada kami untuk dijaga, dirawat dan disayang. Kelak bila waktu tiba, ia akan bersemi atas izin Tuhan sebagaimana warna yang ia pilih.

Penulis, Tinggal di Polandia . (Juft/Islam Post)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...