23 November 2017

Islam di Negeri Komunis Vietnam

KONFRONTASI-Kumandang adzan, Jumat (14/7) siang itu tak begitu terdengar, namun tetap mampu menggiring ratusan Muslim untuk melangkahkan kakinya menuju Masjid Jamia Al Muslimin, Kota Ho Chi Minh, Vietnam.

Barisan jamaah memenuhi hingga teras luar masjid terbesar di Kota Ho Chi Minh itu, termasuk jamaah wanita yang turut mengikuti ibadah Shalat Jumat.

Suasana teduh usai hujan siang itu menambah hikmat ibadah yang diikuti oleh berbagai suku bangsa, termasuk Indonesia.

Salah satu jamaah Indonesia, Fharis Romanda, juga merasakan nafas Islam di negara yang kuat akan paham komunis dan sosialisnya itu.

Mahasiswa Jurusan Sastra Arab Universitas Islam Madinah itu sempat menunaikan Shalat Jumat bersama jamaah lainnya.

"Saya tersentuh karena masih ada secercah cahaya di negeri yang sosialis komunis ini," katanya.

Masjid Jamia Al Muslimin terletak di pusat kota Ho Chi Minh atau dulu dikenal dengan nama Saigon, tepatnya di 66 Dong Du Street, tak jauh dari Gedung Opera House.

Masjid yang juga dikenal dengan Saigon Central Mosque dan didirikan oleh Muslim asal India pada 1935 itu merupakan salah satu dari 12 masjid yang tersebar di Kota Ho Chi Minh.

Didominasi dengan warna cat hijau muda, masjid tersebut memberikan ketenangan tersendiri di tengah hiruk-pikuk kota Ho Chi Minh yang sibuk.

Bangunannya yang luas, memberikan ruang bagi siapa saja yang hendak mengunjungi tanpa menganggu para jamaah yang sedang beribadah.

Tak heran, Masjid Jamia Al Muslimin selalu menempati urutan atas dalam wisata yang direkomendasikan di kota yang dulunya sempat menjadi Ibu Kota Vietnam Selatan itu.

Di sebelah masjid pun turut didirikan Madrasah Noorul Iman Arabic School dan diresmikan pada 1968 oleh Asisten Pejabat Tinggi Saigon Doan-Van-Bich. Sayangnya, bangunan tiga lantai itu kini kurang begitu terawat.

Fharis juga sempat bercengkerama dengan salah satu jamaah asal Vietnam bernama Muhammad (51).

Muhammad selalu berdiri di gerbang masjid untuk menyapa jamaah dan mengajak jamaah untuk menunaikan ibadah Shalat Jumat.

"Beliau yang membuat saya terharu," ujarnya.

Selain itu, yang membuat pria asal Batang, Jawa Tengah itu berdecak kagum, yakni jamaah Masjid Jamia Al Muslimin ketika Shalat Jumat selalu penuh, meskipun bukan semuanya warga asli Vietnam, bercampur dengan warga negara asing dan para turis Muslim.

Ini merupakan kali pertama bagi Fharis menjejakan kakinya di negeri minoritas Muslim, biasanya dia melancong ke negara yang rata-rata mayoritas Muslim, seperti Arab Saudi, Mesir, Abudhabi dan Malaysia.

Namun, dia merasa terkesan dengan nuansa Islam di negeri yang populasi Muslimnya hanya dua persen dari total jumlah 91,7 juta juta orang, menurut data Bank Dunia 2015.

Hanya saja, Fharis terkendala dan memiliki waktu cukup terbatas untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid tersebut, mengingat kunjungannya ke Vietnam dalam rangka menghadiri undangan konferensi internasional pertukaran pemuda negara-negara ASEAN dalam bidang pendidikan, ASEAN Youth Exchange on Education 2017.

Beruntung dia tidak sendiri dalam mengadiri acara tersebut sehingga masih bisa menunaikan ibadah shalat berjamaah bersama teman-temannya asal Indonesia.

Fharis juga sempat berkenalan dengan seorang Muslim dari Aljazair yang sudah bekerja di Kota Ho Chi Minh dan berbincang tentang banyak hal.

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...